My Syariat Is My Style II

Selasa, 09 Juni 2015



“Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu, Mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya”
            Sekarang aku udah jadi anak kampus nih. Bukan lagi anak aliyah yang ketika UN pake acara telat (masa lalu biarlah masa lalu :D )#sambilnyanyi. Aku Fara Azali sudah hidup sekitar 20 tahun di belahan bumi yang dilewati garis katulistiwa bernama Indonesia. Kampusku terletak di  selatan Jakarta bukan Jakarta selatan. Aku punya seorang abang yang memiliki jabatan duniawi cukup tinggi di kampusnya. Entahlah kalau jabatan ukhrawi,  Namanya Syafril Fatih Presiden psikologi UI. Aktifis Dakwah, Hafidz, Vocalis Nasyid Nafs Voice. Ini bukan promosi loh! Cuma lagi cuci gudang aja. Hahaha #Edisi Terbatas
            Jaamiatul Ulumul Qur’an Jakarta merupakan kampus khusus untuk kaum paling manis di dunia bernama wanita. Disini gak ada kaum so cool yang kadang bikin PHP sampai gak berujung. Ciee yang sering di PHPin kayanya lagi senyum-senyum sendiri nih. Hahahha, Sebatas Informasi aja gak ada satupun kaum itu di kelas ataupun di loby kampus kami #dijamin, kecuali pak satpam sama dosen ushul fiqih. Hahahhaha
            Di loby kampus tinggal beberapa mahasiswi tarbiyah yang belum pulang. Seertinya masih asik menunggu, padahal kalo aku mah lebih baik ditunggu dari pada menunggu #Cieeee  #SoSweaaat :D . Kampus kecil nan manis ini, sama seperti mahasiwanya yang manis-manis. Apalagi mahasiswa tarbiyah :D ! Kita selalu menunggu dan ditunggu bis jemputan dari asrama. Saking setianya sama bis yang satu ini, belom sampai depan gerbang kampus, biasanya kita udah lari-lari hampir ke pertengahan jalan. Enggak separah akang begal sih, tapi cukup kelihatan sadis buat mahasiswa manis-manis kayak kita ini. Hahaha, bayangin aja pakai gamis, bawa buku-buku tebel, lari-lari ke jalanan terus berebut masuk bis yang belum parkir !!! #Exstrim kan !
            Udah sore, cukup mendung tapi belum hujan. Semoga hujan cepat turun, biar dia gak jadi datang. Hujan cepatlah turun, biar nanti aku kehujanan sendiri. Aku lebih baik kehujanan sendirian dari pada harus kehujanan berdua. Lebih baik sendirian pokoknya ! Gak mau berdua.
            “Far kamu  mau pulang kedepok, gak mau ikut ke asrama aja ?” Tanya mba Ana ketua kelasku yang lagi sibuk dengan kedatangan saudaranya dari korea. “Enggak mba, Abi sama ummi sekarang tinggal di depok nemenin bang Syafril yang masih jomblo padahal udah wisuda setahun yang lalu”.
            “Hahhhaa,Yowis aku muleh yo Far! Hati-hati kampus udah sepi”.
            “Iya mba, masih ada orang mau ditemui nih” Jawabku sambil mengantarnya ke gerbang depan. “Hati-Hati yo mba, kalo ada apa-apa sebut aja nama fara tiga kali dijamin nambah galau”. Dia hanya membalas dengan senyum khas koreanya itu.
***
            Sudah hampir satu jam aku diloby kampus. Sekarang sudah jam enam sore dan hujan sudah cukup turun cukup deras sekarang. Ini sudah kesekian kalinya dia terlambat. Sudah dari jaman Aliayah dulu, dia sering telat dari waktu janjian yang ia buat. Entah itu rapat osis, rapat rohis, atau rapat kelas. Telaatt teruus ! Semoga aja untuk rapat pernikahannya nanti dia gak telat. Hahahha
            Adzan dari masjid Fathullah juga sudah berkumndang. Ah, Ciputat memang daerah kecil penuh cerita, yang selalu membuat sendu kalau hujan. Aku langsung berlari dari kampus, aku gak suka payung jadi sengaja gak bawa payung. Biarlah hujan membasahi tubuhku, asalkan jangan air matamu yang membasahi hidupku. #Lebay ah.
            Halte kampus tetangga sudah penuh dengan orang-orang yang berteduh. Aku sekilas melihat ke arah halte berharap dia juga ada disana. Kenapa juga aku harus berharap sama manusia sih ! “Aku sudah sering merasakan berbagai macam kepahitan di dunia, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”(Ali Bin Abi Thaib).
            Aku langsung ingat perkataan sahabat rasul yang terkenal dengan kecerdasannya itu. Astagfiruallah, maafkan Fara ya Rabb. Masjid Fatuallah sudah mulai mengumandangkan iqamah, aku harus segera berlari untuk mendapatkan jamaah.
            Bruukk !!! “Uh, sakit sekali kakiku”. Mau langsung bangun rasanya, tapi kakiku sepertinya kaku seketika. Buku-bukuku juga langsung jatuh berantakan di tengah hujan. Aduhh, jadi basah semua kan. “Siapa sih jalan gak liat-liat !” Aku langsung teriak di hadapan orang asing itu.
            “Fara, maafkan aku” Wajahnya asing sekali, tapi suaranya benar-benar gak asing buatku.  “Fara, kamu bisa berdiri kan ?” dia menyebut namaku lagi. Perasaan aku gak pake name tag dan gak nempel KTP di keningku deh. “Heii Fara sekertarisku, kamu gak kenapa-kenapa kan?”
            “Hah Pak Ketua, Boy Zuniarsaaaa !”
            “Kita udah hampir lima menit di depan masjid berduaan nih Far, kamu gak liat kalau kita jadi pusat perhatian orang-orang yang mau shalat. Ini udah kaya drama korea kesukaanmu dulu waktu aliyah, Aku mayungin kamu, dan aku kehujanan tanpa payung. Buku-bukumu aku yang rapiin dan kamu masih duduk diam menatap bingung di hadapanku sekarang. Sama banget kan sama Korea ?”
            Aku bener-bener barus sadar sekarang. Kemungkinan besar orang-orang yang dari tadi lewat mikir kalo kita ini pacaran yang lagi berantem. Hadoohhh, mana wajahku merah karna kesakitan gini, bisa dikira orang kalau aku lagi nahan nangis. Tapi, aku gak mau sudzon lah, mana ada sih orang pacaran berantem di depan masjid. Lagian ada saksi juga kayanya kalau aku ketabrak  Boy ketika lagi lari ngejar jamaah di masjid.
“Kamu gak bisa berdiri ya ?” Tanya Boy lagi, wajahnya benar-benar keihatan khawatir sekarang. “Aku bisa sendiri”. Jawabku singkat dan langsung memaksakan berdiri. “Ahh, sakit banget” gak boleh teriak Far, kamu bisa ! (Batinku). “Fara, sini tasmu biar aku yang bawa!” Boy langsung mengambil tas ranselku tanpa menunggu jawabanku. Sambil memayungiku dari belakang. Sepertinya dia tau, kalau aku lagi menahan sakit. “Maafkan aku, kita bukan muhrim jadi aku bisa menggendongmu”. Inikah dirimu yang sekarang Boy, bukan dirimu yang dulu, yang suka memaksa.(Batinku)
“Sesakit apapun aku, aku gak akan melanggar syariatku Boy. Dan aku juga tau kau akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi denganmu”.
***
Hujan sudah turun hampir dua jam setengah. Malam sudah mulai pekat dengan gemuruh petir yang saling bersahutan. Sekilas gamabaran tiga tahun yang lalu setelah UN aliyah. Aku langsung dikirim Abi ke Jakarta setelah acara silaturahmi kelurga ka Wahyu yang  niatnya mau melamarku saat itu. Padahal wajahnya ka Wahyu mirip banget sama Lee Min Hoo itu. Dia teman LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Bang Syafril. Aku juga kaget, dan saking kagetnya buat aku mau lari dari dunia nyata dan masuk dunia dongeng aja. Cukup jadi putri tidur sehari tanpa pangeran dan kurcaci. “Aku mau tidur seharian aja Bi, nanti kalau keluarga ka Wahyu datang bilang aja, aku lagi jadi putri tidur dan gak bisa bangun kecuali denger adzan”. Dulu aku polos banget kan, Hahahha.
            Abi sebenarnya mendukung aja anaknya menikah muda. Tapi Ummi nolak banget. Alasan ummi menolak bukan karna aku masih terlalu muda untuk nikah. Tapi karna, kalau aku nikah ummi gak punya temen masak , gak ada punya temen curhat, gak punya temen yang sering ngajakin shopping, ga punya temen buat bikin kue, dst. Alasannya gara-gara itu doang! ummi tiga tahun lalu juga polos banget. Hahhahha
            Percakapan Abi yang masih aku ingat ketika itu adalah “Fara mau menhgafal Qur’an dulu di Jakarta, dia bilang mau jadi hafidzhah. Malu sama ka Wahyu yang sudah hafidz dari kecil”. GUBRAAKK !!! Rasanya ada bola api yang tiba-tiba masuk kamar dan ngebakar semua novel sama komik milikku. Aku kan mau kuliah jurnalis di Semarang. Jadi penulis novel atau animator komik di jepang. Abi bener-bener parah banget ngasih jawabanya, udah tau aku gak suka menghafal.
Bang Syafril cuma bisa senyum-senyum melirikku saat itu. Aku menginjak kakinya. Itu balasan untuk permasalahan ini. Huft,, biarlah, namanya juga kehidupan. Harus ada yang di korbankan, ada yang harus diperjuangkan. Demi perjuangan Abi yang udah nolak lamaran Ka Wahyu, aku akan menghafal. #SambilNangis.
***
Via Whats App :
My Brodther : Fara. Boy baru balik dari Madinah sama malika adik perempuannya. Malika lagi di UIN ketemu temannya sebentar. Nanti kalian pulang bertiga yah.
Me : Kenapa dia gak langsung bilang ke aku ?
My Brodther :Lebih sopan lewat abang katanya, jadi dia menyampaikan ke abang dulu. Baru abang menyampaikan ke kamu.
Me : Sejak kapan dia jadi alim kayak gitu -_-“ ?
My Brodther : Sejak dia mengenal Rabbnya dengan baik.
Menarik nafas sebentar, lalu mencoba mengingat kejadian-kejadian aliyah dulu. Boy Zuniarsa Putra ketua osis terbaik sepanjang abad masa anak alay 2012. Sekaligus teman debatku dulu, kita gak pernah sependapat dalam hal apapun. Kalau judul awalnya forum diskusi sekolah, ujung-ujunya kita tetap debat. Ketua genk alay yang sering di teriak-teriakin fens klubnya ketika main basket. “Ayo Booy kamu pasti bisa” atau ada juga adik kelas  yang neriakin kayak gini “Kakak Booy aku padamuuu”. Ihh, alay banget kan!
Wajah Boy lebih mirip Woo Bin lawan main Lee Min Hoo di film The Heirs. Kalau sekolah motornya yang paling banyak ngambil tempat. Motornya bukan kaya Herley sih, tapi ninja yang guedeee bingitz. Dia gak pernah pacaran, tapi mantan calon pacarnya dimana-mana. Alias kaum PHP yang tebar pesona di mana-mana dan sering bikin geer orang. Nyebelin banget kan !
Aku selalu menjadi rivalnya untuk prestasi akademik di sekolah. Kadang aku juara satu dan dia juara dua, atau sebaliknya. Sering juga jadi korban labrakan kakak kelas yang ngefens juga sama Boy itu hal paling buruk di masa aliyah dulu. Hampir-hampir aku dikunciin di gudang belakang sama fens klub Boy yang fanatik itu. Untung aja, Ka Wahyu yang waktu itu sedang jadi guru pengawas melihat kejahatan mereka. Alhamdulilah masih terlindungi. Setelah itu, Ka Wahyu marahin Boy abis-abisan di ruang BK. Jadi kalau sekarang buat Whats App aku aja lewat bang Syafril dulu, berarti dia benar-benar berubah. Semoga aja seseorang di hatinya juga berubah. #BukanBerharap
***
“Assalamualaikum kak Fara, Aku malika adiknya Abang Boy” Tiba-Tiba ada gadis manis berjilbab putih yang menutup hampir setengah tubuhnya menghampiriku. “Walaikumsalam, iya malika. Aku masih inget kamu kok” Jawabku sambil memeluknya. “Kakimu gimana kak, tadi Abangku bilang kamu jatuh kak” Aku hanya menjawabnya dengan senyum. “Kerumah sakit sebentar yah, seteah itu kita buka puasa terus ke depok”. Aku sebenarnya malas kalau harus kerumah sakit.
“Bang Boy puasa soalnya kak, kalau aku lagi gak puasa, mau yah ?”
            “Gini aja, kamu beliin abangmu makanan, kamu juga sekalian beli buat kamu. Terus ajak abangmu makan di pelataran masjid” Bukannya aku enggak mau bergabung makan dengan mereka. Kakiku benr-benar sakit sekarang, jadi lebih baik aku meunggu disini dari pada merepotkan mereka.
            “Kakimu pasti sakit sekali yah?” Malika mulai khawatir. “Gamismu juga basah kak!”. Aku hanya tersenyum menjawab perhtiannya. “Cepatlah, kasihan abangmu kelaparan”. Aku langsung menyuruhnya pergi, setidaknya itu mengurangi pertanyaan-pertanyaan khawatir darinya.
“Aku tau ini kesekian kalinya aku terlambat menemuimu Fara. Aku akan mengejarmu dengan ketertinggalanku dulu dalam masalah syariat. Walaupun harus berlari, Setidaknya aku belum terlambat untuk mengejar janji terbaikku untumu sekarang” (Boy Zuniarsa Putra )
Bersambung…. My Syariat Is My Life III
Dershane 9 Juni 2015-06-09
Pukul 02: 05
***

0 komentar:

Posting Komentar