“Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang
sering kamu sebut dalam doamu, Mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang
diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya”
Sekarang
aku udah jadi anak kampus nih. Bukan lagi anak aliyah yang ketika UN pake acara
telat (masa lalu biarlah masa lalu :D )#sambilnyanyi. Aku Fara Azali sudah
hidup sekitar 20 tahun di belahan bumi yang dilewati garis katulistiwa bernama
Indonesia. Kampusku terletak di selatan
Jakarta bukan Jakarta selatan. Aku punya seorang abang yang memiliki jabatan
duniawi cukup tinggi di kampusnya. Entahlah kalau jabatan ukhrawi, Namanya Syafril Fatih Presiden psikologi UI.
Aktifis Dakwah, Hafidz, Vocalis Nasyid Nafs Voice. Ini bukan promosi loh! Cuma
lagi cuci gudang aja. Hahaha #Edisi Terbatas
Jaamiatul
Ulumul Qur’an Jakarta merupakan kampus khusus untuk kaum paling manis di dunia
bernama wanita. Disini gak ada kaum so cool yang kadang bikin PHP sampai gak
berujung. Ciee yang sering di PHPin kayanya lagi senyum-senyum sendiri nih.
Hahahha, Sebatas Informasi aja gak ada satupun kaum itu di kelas ataupun di
loby kampus kami #dijamin, kecuali pak satpam sama dosen ushul fiqih. Hahahhaha
Di
loby kampus tinggal beberapa mahasiswi tarbiyah yang belum pulang. Seertinya masih
asik menunggu, padahal kalo aku mah lebih baik ditunggu dari pada menunggu
#Cieeee #SoSweaaat :D . Kampus kecil nan
manis ini, sama seperti mahasiwanya yang manis-manis. Apalagi mahasiswa
tarbiyah :D ! Kita selalu menunggu dan ditunggu bis jemputan dari asrama.
Saking setianya sama bis yang satu ini, belom sampai depan gerbang kampus,
biasanya kita udah lari-lari hampir ke pertengahan jalan. Enggak separah akang
begal sih, tapi cukup kelihatan sadis buat mahasiswa manis-manis kayak kita
ini. Hahaha, bayangin aja pakai gamis, bawa buku-buku tebel, lari-lari ke
jalanan terus berebut masuk bis yang belum parkir !!! #Exstrim kan !
Udah
sore, cukup mendung tapi belum hujan. Semoga hujan cepat turun, biar dia gak
jadi datang. Hujan cepatlah turun, biar nanti aku kehujanan sendiri. Aku lebih
baik kehujanan sendirian dari pada harus kehujanan berdua. Lebih baik sendirian
pokoknya ! Gak mau berdua.
“Far
kamu mau pulang kedepok, gak mau ikut ke
asrama aja ?” Tanya mba Ana ketua kelasku yang lagi sibuk dengan kedatangan
saudaranya dari korea. “Enggak mba, Abi sama ummi sekarang tinggal di depok
nemenin bang Syafril yang masih jomblo padahal udah wisuda setahun yang lalu”.
“Hahhhaa,Yowis
aku muleh yo Far! Hati-hati kampus udah sepi”.
“Iya
mba, masih ada orang mau ditemui nih” Jawabku sambil mengantarnya ke gerbang
depan. “Hati-Hati yo mba, kalo ada apa-apa sebut aja nama fara tiga kali
dijamin nambah galau”. Dia hanya membalas dengan senyum khas koreanya itu.
***
Sudah
hampir satu jam aku diloby kampus. Sekarang sudah jam enam sore dan hujan sudah
cukup turun cukup deras sekarang. Ini sudah kesekian kalinya dia terlambat.
Sudah dari jaman Aliayah dulu, dia sering telat dari waktu janjian yang ia
buat. Entah itu rapat osis, rapat rohis, atau rapat kelas. Telaatt teruus !
Semoga aja untuk rapat pernikahannya nanti dia gak telat. Hahahha
Adzan dari masjid Fathullah juga
sudah berkumndang. Ah, Ciputat memang daerah kecil penuh cerita, yang selalu
membuat sendu kalau hujan. Aku langsung berlari dari kampus, aku gak suka payung
jadi sengaja gak bawa payung. Biarlah hujan membasahi tubuhku, asalkan jangan
air matamu yang membasahi hidupku. #Lebay ah.
Halte
kampus tetangga sudah penuh dengan orang-orang yang berteduh. Aku sekilas melihat
ke arah halte berharap dia juga ada disana. Kenapa juga aku harus berharap sama
manusia sih ! “Aku sudah sering merasakan berbagai macam kepahitan di dunia,
dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”(Ali Bin Abi Thaib).
Aku
langsung ingat perkataan sahabat rasul yang terkenal dengan kecerdasannya itu.
Astagfiruallah, maafkan Fara ya Rabb. Masjid Fatuallah sudah mulai
mengumandangkan iqamah, aku harus segera berlari untuk mendapatkan jamaah.
Bruukk
!!! “Uh, sakit sekali kakiku”. Mau langsung bangun rasanya, tapi kakiku
sepertinya kaku seketika. Buku-bukuku juga langsung jatuh berantakan di tengah
hujan. Aduhh, jadi basah semua kan. “Siapa sih jalan gak liat-liat !” Aku
langsung teriak di hadapan orang asing itu.
“Fara,
maafkan aku” Wajahnya asing sekali, tapi suaranya benar-benar gak asing
buatku. “Fara, kamu bisa berdiri kan ?”
dia menyebut namaku lagi. Perasaan aku gak pake name tag dan gak nempel KTP di
keningku deh. “Heii Fara sekertarisku, kamu gak kenapa-kenapa kan?”
“Hah
Pak Ketua, Boy Zuniarsaaaa !”
“Kita
udah hampir lima menit di depan masjid berduaan nih Far, kamu gak liat kalau
kita jadi pusat perhatian orang-orang yang mau shalat. Ini udah kaya drama
korea kesukaanmu dulu waktu aliyah, Aku mayungin kamu, dan aku kehujanan tanpa
payung. Buku-bukumu aku yang rapiin dan kamu masih duduk diam menatap bingung
di hadapanku sekarang. Sama banget kan sama Korea ?”
Aku
bener-bener barus sadar sekarang. Kemungkinan besar orang-orang yang dari tadi
lewat mikir kalo kita ini pacaran yang lagi berantem. Hadoohhh, mana wajahku
merah karna kesakitan gini, bisa dikira orang kalau aku lagi nahan nangis.
Tapi, aku gak mau sudzon lah, mana ada sih orang pacaran berantem di depan
masjid. Lagian ada saksi juga kayanya kalau aku ketabrak Boy ketika lagi lari ngejar jamaah di masjid.
“Kamu gak
bisa berdiri ya ?” Tanya Boy lagi, wajahnya benar-benar keihatan khawatir
sekarang. “Aku bisa sendiri”. Jawabku singkat dan langsung memaksakan berdiri.
“Ahh, sakit banget” gak boleh teriak Far, kamu bisa ! (Batinku). “Fara, sini
tasmu biar aku yang bawa!” Boy langsung mengambil tas ranselku tanpa menunggu
jawabanku. Sambil memayungiku dari belakang. Sepertinya dia tau, kalau aku lagi
menahan sakit. “Maafkan aku, kita bukan muhrim jadi aku bisa menggendongmu”. Inikah
dirimu yang sekarang Boy, bukan dirimu yang dulu, yang suka memaksa.(Batinku)
“Sesakit
apapun aku, aku gak akan melanggar syariatku Boy. Dan aku juga tau kau akan
melakukan hal yang sama jika itu terjadi denganmu”.
***
Hujan
sudah turun hampir dua jam setengah. Malam sudah mulai pekat dengan gemuruh
petir yang saling bersahutan. Sekilas gamabaran tiga tahun yang lalu setelah UN
aliyah. Aku langsung dikirim Abi ke Jakarta setelah acara silaturahmi kelurga
ka Wahyu yang niatnya mau melamarku saat
itu. Padahal wajahnya ka Wahyu mirip banget sama Lee Min Hoo itu. Dia teman LDK
(Lembaga Dakwah Kampus) Bang Syafril. Aku juga kaget, dan saking kagetnya buat
aku mau lari dari dunia nyata dan masuk dunia dongeng aja. Cukup jadi putri
tidur sehari tanpa pangeran dan kurcaci. “Aku mau tidur seharian aja Bi, nanti
kalau keluarga ka Wahyu datang bilang aja, aku lagi jadi putri tidur dan gak
bisa bangun kecuali denger adzan”. Dulu aku polos banget kan, Hahahha.
Abi
sebenarnya mendukung aja anaknya menikah muda. Tapi Ummi nolak banget. Alasan
ummi menolak bukan karna aku masih terlalu muda untuk nikah. Tapi karna, kalau
aku nikah ummi gak punya temen masak , gak ada punya temen curhat, gak punya
temen yang sering ngajakin shopping, ga punya temen buat bikin kue, dst.
Alasannya gara-gara itu doang! ummi tiga tahun lalu juga polos banget. Hahhahha
Percakapan
Abi yang masih aku ingat ketika itu adalah “Fara mau menhgafal Qur’an dulu di
Jakarta, dia bilang mau jadi hafidzhah. Malu sama ka Wahyu yang sudah hafidz
dari kecil”. GUBRAAKK !!! Rasanya ada bola api yang tiba-tiba masuk kamar dan
ngebakar semua novel sama komik milikku. Aku kan mau kuliah jurnalis di
Semarang. Jadi penulis novel atau animator komik di jepang. Abi bener-bener
parah banget ngasih jawabanya, udah tau aku gak suka menghafal.
Bang
Syafril cuma bisa senyum-senyum melirikku saat itu. Aku menginjak kakinya. Itu
balasan untuk permasalahan ini. Huft,, biarlah, namanya juga kehidupan. Harus
ada yang di korbankan, ada yang harus diperjuangkan. Demi perjuangan Abi yang
udah nolak lamaran Ka Wahyu, aku akan menghafal. #SambilNangis.
***
Via Whats
App :
My
Brodther : Fara. Boy baru balik dari Madinah sama malika adik perempuannya.
Malika lagi di UIN ketemu temannya sebentar. Nanti kalian pulang bertiga yah.
Me : Kenapa
dia gak langsung bilang ke aku ?
My
Brodther :Lebih sopan lewat abang katanya, jadi dia menyampaikan ke abang dulu.
Baru abang menyampaikan ke kamu.
Me :
Sejak kapan dia jadi alim kayak gitu -_-“ ?
My
Brodther : Sejak dia mengenal Rabbnya dengan baik.
Menarik
nafas sebentar, lalu mencoba mengingat kejadian-kejadian aliyah dulu. Boy
Zuniarsa Putra ketua osis terbaik sepanjang abad masa anak alay 2012. Sekaligus
teman debatku dulu, kita gak pernah sependapat dalam hal apapun. Kalau judul
awalnya forum diskusi sekolah, ujung-ujunya kita tetap debat. Ketua genk alay
yang sering di teriak-teriakin fens klubnya ketika main basket. “Ayo Booy kamu
pasti bisa” atau ada juga adik kelas
yang neriakin kayak gini “Kakak Booy aku padamuuu”. Ihh, alay banget
kan!
Wajah Boy
lebih mirip Woo Bin lawan main Lee Min Hoo di film The Heirs. Kalau sekolah
motornya yang paling banyak ngambil tempat. Motornya bukan kaya Herley sih,
tapi ninja yang guedeee bingitz. Dia gak pernah pacaran, tapi mantan calon
pacarnya dimana-mana. Alias kaum PHP yang tebar pesona di mana-mana dan sering
bikin geer orang. Nyebelin banget kan !
Aku
selalu menjadi rivalnya untuk prestasi akademik di sekolah. Kadang aku juara
satu dan dia juara dua, atau sebaliknya. Sering juga jadi korban labrakan kakak
kelas yang ngefens juga sama Boy itu hal paling buruk di masa aliyah dulu.
Hampir-hampir aku dikunciin di gudang belakang sama fens klub Boy yang fanatik
itu. Untung aja, Ka Wahyu yang waktu itu sedang jadi guru pengawas melihat
kejahatan mereka. Alhamdulilah masih terlindungi. Setelah itu, Ka Wahyu marahin
Boy abis-abisan di ruang BK. Jadi kalau sekarang buat Whats App aku aja lewat
bang Syafril dulu, berarti dia benar-benar berubah. Semoga aja seseorang di
hatinya juga berubah. #BukanBerharap
***
“Assalamualaikum
kak Fara, Aku malika adiknya Abang Boy” Tiba-Tiba ada gadis manis berjilbab
putih yang menutup hampir setengah tubuhnya menghampiriku. “Walaikumsalam, iya
malika. Aku masih inget kamu kok” Jawabku sambil memeluknya. “Kakimu gimana
kak, tadi Abangku bilang kamu jatuh kak” Aku hanya menjawabnya dengan senyum.
“Kerumah sakit sebentar yah, seteah itu kita buka puasa terus ke depok”. Aku
sebenarnya malas kalau harus kerumah sakit.
“Bang Boy
puasa soalnya kak, kalau aku lagi gak puasa, mau yah ?”
“Gini
aja, kamu beliin abangmu makanan, kamu juga sekalian beli buat kamu. Terus ajak
abangmu makan di pelataran masjid” Bukannya aku enggak mau bergabung makan
dengan mereka. Kakiku benr-benar sakit sekarang, jadi lebih baik aku meunggu
disini dari pada merepotkan mereka.
“Kakimu
pasti sakit sekali yah?” Malika mulai khawatir. “Gamismu juga basah kak!”. Aku
hanya tersenyum menjawab perhtiannya. “Cepatlah, kasihan abangmu kelaparan”.
Aku langsung menyuruhnya pergi, setidaknya itu mengurangi pertanyaan-pertanyaan
khawatir darinya.
“Aku tau ini kesekian kalinya aku terlambat menemuimu
Fara. Aku akan mengejarmu dengan ketertinggalanku dulu dalam masalah syariat.
Walaupun harus berlari, Setidaknya aku belum terlambat untuk mengejar janji
terbaikku untumu sekarang” (Boy Zuniarsa Putra )
Bersambung…. My Syariat Is My Life III
Dershane 9 Juni 2015-06-09
Pukul 02: 05
***
0 komentar:
Posting Komentar