Maaf jika sudah lama
sekali aku tidak membuat surat cinta untukmu. Jika aku tuliskan ribuan alasan
sebenarnya bisa saja. Menjelaskan kehidupan kita yang seperkian detik menjadi
debu di lautan catatan amal. Entah amal buruk atau amal baik. Namun kita
memilih diam, biar Allah saja yang tau urusan kita. Bukankah kita sudah
berjanji untuk tidak mau menyulitkan kehidupan yang sudah sulit.
Sudah hampir lima tahun
kita bersama, berlari dalam teriakan ambisi dan rayuan masa depan. Kita
sama-sama berjuangan dalam langkah yang tidak pasti. Bukan kaki yang sulit
berlari, namun hati yang sering kali menyakiti. Ini sama sekali bukan soal
mengkhianati, Sungguh bukan. Percayalah, ini hanya soal waktu.
Dulu kita pernah
menulis bersama tentang mau kemana kita melangkah, melanjutkan hidup dengan
penuh bahagia. Tanpa pusing memikirkan caranya. Ingat masa-masa itu? Dirimu
senang sekali mengambil buku milikku, membuat robekan kecil dengan
coretan-coretan mimpi.
Coretan mimpi itu tidak
hilang, walaupun bukunya sudah hilang dimakan zaman. Kita sudah melewatinya
bersama dalam empat tahun terakhir. Dirimu dengan perjuangan mimpimu. Diriku
dengan perjuangan mimpiku. Bukankah, perjuangan kita belum selesai sampai
sekarang?. Semuanya akan selesai ketika Allah meminta kita untuk pulang. Dan,
sekarang kita masih di perjalanan untuk menyiapkan segala macam bekal. Right ?
Pelukan doa aku
kirimkan dalam tulisanku yang entah kau menyukainya atau tidak. Allah tidak
menciptakan kita sebagai pecundang. Aku ataupun dirimu kita sama, tidak ada
beda. Senyummu masih diharapkan, sangat diharapkan. Ayah-Ibumu masih menanti
kesuksesanmu bukan?, walaupun caranya terkadang membuatmu kesal setengah mati.
Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku akan sangat senang menjalani kekesalan
ini. Asal mereka berdua ada dalam pelukanku di kehidupan nyata.
Jalan hidup tidak
selamanya indah, jalani saja apa yang kita rasakan sekarang. Kita pasti bisa
menemukan jawabannya. Semua akan berlalu, Ayah-Ibumu masih disini menemani
perjuangan. Jika matamu sudah tidak tegar lagi seperti hari-hari lalu.
Menangislah, bukan hanya ada bahagia di dunia. Dunia tidak akan memakimu karna
dirimu lemah. Tidak akan!
Jika aku sekarang ada
disampingmu, akan aku pinjam kedua bahuku, kedua gengaman kuat tanganku.
Bersandarlah selama kau mau. Akan aku temani semua tangisanmu, aku akan menjadi
pendengar yang baik selama kau mau. Tapi apalah aku, dayaku tak mampu. Allah
lebih menginginkanmu bersandar pada kekuasaaNya. Menginginkanmu mengenggam erat
Pemeberian-Nya tanpa kecewa sedikitpun. Ayolah,,, kita sama-sama tau soal ini.
Allah tidak pernah ingkar janji.
Masa sekarang yang kita
jalani dengan tangisan, akan menjadi masa lalu yang indah nanti ketika kita
kenang. Ingat kata-kataku, tanpa masa lalu,
kita tidak akan mungkin memiliki masa depan. Kemarin-kemarin bukan
penyesalan yang harus melulu disalahkan. Biarkan semuanya berlalu seperti
hujan, menumbuhkan banyak kenangan. Entah sedih ataupun senang, semuaanya akan
menjadi pelajaran. Pelajaran berharga, bagi orang-orang yang tidak pernah
menyerah dengan keadaan.
Bukankah kita mau pergi
ke mekkah berama ? Entah dengan mimpi yang mana kita bisakesana. Ada pribahasa
yang selalu kita dengar dari kecil “Banyak jalan menuju Mekkah”. Kalu satu
jalan tertutAup, berarti ada seribu pintu terbuka. Ambil langkah sekarang,
pastikan dengan keyakinan. Waktu tidak akan menunggu kita yang selalu diam dan
bingung. Bahkan dia semakin cepat melaju dengan detik-detik pedangnya. Masiih
maukah dirimu berlari denganku dengan ketertinggalan kita ?
Aku menunggu kebahagian
terbaikmu dalam dua tahun kedepan, InsyAllah…
Umi Wijaya Lau
Dershane Jakarta
11.09 PM