Kenyataannya Belum Tergenggam, Bukan Berarti Tidak Tergengggam

Kamis, 13 Oktober 2016





Maaf jika sudah lama sekali aku tidak membuat surat cinta untukmu. Jika aku tuliskan ribuan alasan sebenarnya bisa saja. Menjelaskan kehidupan kita yang seperkian detik menjadi debu di lautan catatan amal. Entah amal buruk atau amal baik. Namun kita memilih diam, biar Allah saja yang tau urusan kita. Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak mau menyulitkan kehidupan yang sudah sulit. 

Sudah hampir lima tahun kita bersama, berlari dalam teriakan ambisi dan rayuan masa depan. Kita sama-sama berjuangan dalam langkah yang tidak pasti. Bukan kaki yang sulit berlari, namun hati yang sering kali menyakiti. Ini sama sekali bukan soal mengkhianati, Sungguh bukan. Percayalah, ini hanya soal waktu.

Dulu kita pernah menulis bersama tentang mau kemana kita melangkah, melanjutkan hidup dengan penuh bahagia. Tanpa pusing memikirkan caranya. Ingat masa-masa itu? Dirimu senang sekali mengambil buku milikku, membuat robekan kecil dengan coretan-coretan mimpi.

Coretan mimpi itu tidak hilang, walaupun bukunya sudah hilang dimakan zaman. Kita sudah melewatinya bersama dalam empat tahun terakhir. Dirimu dengan perjuangan mimpimu. Diriku dengan perjuangan mimpiku. Bukankah, perjuangan kita belum selesai sampai sekarang?. Semuanya akan selesai ketika Allah meminta kita untuk pulang. Dan, sekarang kita masih di perjalanan untuk menyiapkan segala macam bekal. Right ?

Pelukan doa aku kirimkan dalam tulisanku yang entah kau menyukainya atau tidak. Allah tidak menciptakan kita sebagai pecundang. Aku ataupun dirimu kita sama, tidak ada beda. Senyummu masih diharapkan, sangat diharapkan. Ayah-Ibumu masih menanti kesuksesanmu bukan?, walaupun caranya terkadang membuatmu kesal setengah mati. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku akan sangat senang menjalani kekesalan ini. Asal mereka berdua ada dalam pelukanku di kehidupan nyata.

Jalan hidup tidak selamanya indah, jalani saja apa yang kita rasakan sekarang. Kita pasti bisa menemukan jawabannya. Semua akan berlalu, Ayah-Ibumu masih disini menemani perjuangan. Jika matamu sudah tidak tegar lagi seperti hari-hari lalu. Menangislah, bukan hanya ada bahagia di dunia. Dunia tidak akan memakimu karna dirimu lemah. Tidak akan!

Jika aku sekarang ada disampingmu, akan aku pinjam kedua bahuku, kedua gengaman kuat tanganku. Bersandarlah selama kau mau. Akan aku temani semua tangisanmu, aku akan menjadi pendengar yang baik selama kau mau. Tapi apalah aku, dayaku tak mampu. Allah lebih menginginkanmu bersandar pada kekuasaaNya. Menginginkanmu mengenggam erat Pemeberian-Nya tanpa kecewa sedikitpun. Ayolah,,, kita sama-sama tau soal ini. Allah tidak pernah ingkar janji.

Masa sekarang yang kita jalani dengan tangisan, akan menjadi masa lalu yang indah nanti ketika kita kenang. Ingat kata-kataku, tanpa masa lalu, kita tidak akan mungkin memiliki masa depan. Kemarin-kemarin bukan penyesalan yang harus melulu disalahkan. Biarkan semuanya berlalu seperti hujan, menumbuhkan banyak kenangan. Entah sedih ataupun senang, semuaanya akan menjadi pelajaran. Pelajaran berharga, bagi orang-orang yang tidak pernah menyerah dengan keadaan.

Bukankah kita mau pergi ke mekkah berama ? Entah dengan mimpi yang mana kita bisakesana. Ada pribahasa yang selalu kita dengar dari kecil “Banyak jalan menuju Mekkah”. Kalu satu jalan tertutAup, berarti ada seribu pintu terbuka. Ambil langkah sekarang, pastikan dengan keyakinan. Waktu tidak akan menunggu kita yang selalu diam dan bingung. Bahkan dia semakin cepat melaju dengan detik-detik pedangnya. Masiih maukah dirimu berlari denganku dengan ketertinggalan kita ?

Aku menunggu kebahagian terbaikmu dalam dua tahun kedepan, InsyAllah…


Umi Wijaya Lau
Dershane Jakarta
11.09 PM