Part III
Senandung lirih terus bertanya pada langkah-langkah mimpi yang mulai mendaki. Sanggupkah kaki ini melangkah meninggalkan seseorang yang paling berarti. Menyanggupi permintaannya untuk terus meraih langit mimpi yang indah.
Langit mimpi yang diinginkan semua seniman muda di daratan negri ini. Ah, Lagi -lagi soal pilihan, pilihan untuk memilih atau meninggalkan.
Coba saja semua ini bisa lebih mudah aku terima, aku jalani, tanpa harus merasa terbebani.
Tapi, apalah aku. Hanya seorang manusia yang sedang dititipkan amanat besar oleh Tuhan.
Apalah aku ini, manusia kecil yang terbuat dari daging yang bisa rusak dan mati kapan saja.
Ya, aku ini biasa saja. Bukan manusia yang terbuat dari batu dan besi. Sedikit saja aku lupa dan sombong. Lalu waktuku habis, kiamat sudah hidupku. Kiamat yang bisa dirasakan semua orang. Termasuk diriku yang kecil ini.
***
"Besok hari kelulusan kita Daiy". Natalia tiba-tiba sudah duduk disampingku.
"Iyah, lalu kenapa?"
Aku menjawab singkat.
Aku menjawab singkat.
"Berarti setelah itu, kita sulit bertemu?" Natalia mulai mengacaukan perasaannya lagi sore ini.
"Perasaanmu terlalu berlebihan Nat! Sudah cukup sedih-sedihannya kemarin"
Natalia mengambil tisu ditas kecilnya, menghapus sedikit air matanya yang hampir jatuh.
Setiap sore ini aku selalu menghabiskan waktu menatap pohon-pohon lie di taman sekolah bersama Nata. Sedikit mengurangi kepenatanku dari keributan-keribuatan masa lalu disekolah.
"Pohon itu penuh ketegasan namun tetap cantik, sama sepertimu Daiy"
Bisik seseorang yang tidak asing dalam ingatanku. Bisikan itu cepat sekali menghilang. Aku langsung melihat kesemua arah taman dekat tempat kami istirahat. Mencari kemana perginya bisikan itu.
Sore ini terlalu banyak siswa yang lewat disekitar kami.
Mungkin karna sekolah sedang sibuk untuk acara kelulusan besok.
Mungkin karna sekolah sedang sibuk untuk acara kelulusan besok.
"Nata, siapa yang tadi lewat dibelakang kita?"
Kening Nata langsung berkerut mendengar pertanyaanku, orang yang berperasaan seperti dia memang sulit sekali diajak bicara to the point.
"Maksudmu hantu Daiy?" Tanyanya yang mulai ketakutan.
Aku tersenyum kecil meresponnya, sudahlah abaikan saja. Mungkin aku salah mendengar. Atau mungkin tidak tertuju untukku.
***
Tingkat Pertama
Art Internasional Tongzhou
Tingkat Pertama
Art Internasional Tongzhou
"Itu lukisanku, aku yang membuatnya" Aku mulai berteriak menarik semua perhatian di kelas.
Zen menatap tajam sama seperti tatapanku. Dia mulai mendorongku ke pojok kelas. Aku bisa saja membalasanya balik. Bahkan aku bisa melukainya dengan luka paling menyakitkan dalam waktu yang singkat ini.
"Apa yang kalian lakukan!!!" Teriak Nata yang tiba-tiba datang ke kelasku.
Psikis Nata lembutnya bukan main, sekali dia teriak. Berarti beberapa menit lagi dia akan segera masuk ruang kesehatan. Dan ini menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah yang ada.
Nata juga didorong sampai terjatuh oleh teman-teman Zen yang sama jahatnya. Aku harus bertindak cepat, sebelum Nata menjadi sasaran empuk mereka.
Air mata nata sudah jatuh deras sekali. Dia ketakutan bukan main. Aku langsung melepas dasi sekolahku, aku tarik tangan Zen, aku ikat tubuh dan tangannya dalam satu menit. Tubuh kecil anak manja seperti dia mudah sekali untuk dipermainkan seperti gangsing. Aku dorong dia, lalu sedikit aku kasih tamparan manis.
Seketika teman-teman Zen diam melihatku. Mungkin mereka takut. Karna selama ini aku terlihat makhluk paling pendiam dikelas.
Aku ambil dasi Nata, aku tarik mereka bertiga. Sebenarnya mereka terlalu manis untuk disakiti. Tapi anggaplah ini akhir permainan kelas lukis bersama anak-anak menyebalkan seperti mereka.
"Ini akhir semester kelas lukis ditahun pertama sekolah, jadi simpalah kenangan manis kita baik-baik"
Ancamku kepada mereka.
Ancamku kepada mereka.
***
Siapa yang senang karyanya diambil dan diakui begitu saja. Ini lomba nasional, dan dia dengan mudahnya menduplikat lukisanku dengan jabatan ayahnya itu.
Astaga, inikah dunia yang sebenarnya!. Batinku.
Bersambung...
0 komentar:
Posting Komentar