Azalia Lee ( Part III )

Selasa, 01 Maret 2016











Teruslah hidup, setidaknya hidup untuk mendoakan Ayah dan Amakmu


Semuanya masih berbayang, tidak ada yang bisa aku lihat sama sekali. Selain warna putih dan sedikit cahaya di ruangan yang tidak aku kenal. Aku sudah tidak ingin hidup. Biarkan aku ikut Ayah dan Amak. Nafasku sangat sesak, sesak sekali. Aku tidak bisa lagi mengingat wajah Ayah sekarang, apalagi wajah Amak. Ini benar-benar menyakitkan. Ada apa dengan system ingatanku sekarang. Aku ingin ikut mereka, bukan melupakannya.
“Semua keluarga di Padang sudah dihubungi, mereka menolak mengurus Azalia. Mereka bilang sudah memutus hubungan keluarga sejak lama”. Begitupun keluarga Ayahnya, mereka meberikan penjelasan yang sama”. Aku mendengar penjelasan menyakitkan itu samar-samar. Sakit sekali ditolak oleh dua keluarga orang tuaku sendiri. Apa yang salah dengan diriku ?
“Bagaimana bisa mereka bersikap seperti itu?”. Teriak seorang laki-laki yang suaranya mulai tidak asing di telinga.
“Buya tenang yah, sudah masuk adzan isya sekarang kita jamaah shalat dulu”. Aku juga mengenal suara ini. Mataku masih sulit terbuka, aku ingin melihat mereka shalat berjamaah. Walaupun aku tidak pernah shalat, aku senang melihat orang shalat.
Waktu kecil aku dan Ayah sering melihat Amak Shalat sendirian. Dan kami diam membaca buku sambil terus memperhatikan. Setelah Amak shalat, pasti Amak selalu menangis melihatku. Dan menatap Ayah dengan kelu. Ayah sangat benci melihat tangisan, aku rasa itu awal kenapa Ayah benci melihat orang menangis.
Lalu Amak mencium tangan Ayah, mencium keningku. Dan membuatkan kami makanan. Kalau Amak dalam sehari shalat lima kali, lima kali dia memangis. Lima kali menatap Ayah dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Dan lima kali juga mencium keningku bercampur air mata. Aku senang dan juga sedih. Semuanya menjadi satu, aku tidak megerti apa-apa sampai sekarang.
***
Bau obat benar-benar menyengat hidungku. Sepertinya aku tidur lama sekali. Mataku masih sulit terbuka, semua tubuhku mati rasa. Aku hanya bisa sedikit mendengar suara orang dengan samar-samar. Terkadang semuanya sunyi, gelap. Dan membuatku sesak nafas.
“Azalia, aku akan mengaji. Kamu tau mengaji ?”. Apakah ada orang yang mengajakku berbicara setelah sekian lama. Siapa dia, aku tidak mengenal suaranya, dia seperti seumuranku. Tapi suaranya sedikit asing dengan pendengaranku.
( Al – Mulk )
Apa yang dia bacakan, kenapa membuatku sedih sekali. Apakah itu bahasa arab, seperti yang sering Amak baca setelah shalat. Aku tidak mengetahui artinya, tidak faham sekali.
“Ini surat Al-Mulk, tentang kekuasaan Allah, tentang kerajaan Allah, tentang semua yang kamu lihat di Dunia. Dia Tuhan kita yang Maha Esa”. Bukannya dulu, kau pernah mendengarkan hafalanku ?”. Dia menjawab pertanyaanku dengan nada yang sangat kelu, siapa dia, apa dia bisa mendengarku. Kenapa dia begitu sedih. “Mendengarkan hafalanya?” aku tidak ingat apa-apa.
“Azalia kamu harus segera kembali dan hidup bersama kami. Bangunlah, doakan Ayah dan Amakmu secepatnya”. Dia mengajakku berbicara lagi dan sepertinya kini dia sedag menahan tangis.
“Uda, ditunggu Ummi untuk makan. Uda sudah setengah hari ngaji disini dan belum makan sama sekali”. Suara perempuan seumuranku itu memanggilnya Uda, berarti mereka bersaudara. Siapa mereka sebenarnya, kenapa mereka menemaniku sekarang. Kenapa, aku tidak bisa melihat mereka.
 “Kamu juga setengah hari nemenin Uda disini”
Aku sudah makan berkali kali ketika Uda ngaji dari tadi pagi, Uda setiap digantiin ngaji dari tadi pagi gak pernah mau. Sekarang Uda makan bareng ummi sama buya. Biar Nisa yang ngaji. Kekhwatiran kita akan semakin bertambah kalau tiba-tiba Uda ikutan sakit. Azalia akan segera sadar, sebentar lagi InsyAllah. Nisa, namanya Nisa. Dia juga yang menemaniku dan kini memanggil namaku.
Tiba-tiba belaian lembut datang mengusap kepalaku.  Aku mendengar isakan tangis yang tertahan. Sepertinya Nisa sedang menangis dihadapanku sekarang. Kenapa ia begitu sedih, apakah aku terlihat sangat menyedihkan sekarang. Jangan menangis di depanku Nisa. Aku mohon. Aku sangat membenci tangisan.
“Aku Nisa Az, Kamu adikku sekarang. Sudah terlalu lama kamu tidak sadarkan diri. Kami semua khawatir, cepatlah sadar Az. Tangisan Nisa sudah terdengar jelas sekali sekarang. Kini tanganku sudah digengam erat olehnya. Aku ingin sekali membalas gengamannya. Tapi aku tidak bisa apa-apa sekarang.
Semua tubuhku mati rasa Tuhan,  penglihatanku hanya sekilas cahaya dan satu warna putih. Hanya pendengaranku saja yang bisa mendengar mereka Tuhan,,, Jika memang kesedihan mereka benar-benar tulus untuk mengharapkan kehidupanku lagi. Ijinkan aku sadar Tuhan, ijinkan,, Aku mohon kepada-Mu. Sudah lama sekali, bukankah sudah lama sekali aku tidak memohon kepada-Mu.
“Az, kami semua menyayangimu, benar –benar menyangimu”.Tiba-tiba Nisa membisikan kalimat itu ke telinga kananku.Walaupun Bisikan, perkataan itu sangat jelas, suara isakannyapun ikut terdengar.
“Tuhan, ijinkan aku kembali”
***
Hembusan angin pagi menerpa wajahku dengan lembut. Tetesan embun masih banyak terlihat di pinggiran jalan yang penuh dengan rumput. Sepertinya rumput-rumput itu bahagia, memiliki sahabat yang selalu menyejukan seperti embun. Andai saja, Nisa sahabatku itu tidak menyejukan setiap kali berbicara. Aku tidak akan mau memikirkan apa yang dia bilang tadi di masjid kampus.
Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti siapapun apalagi membunuh orang-orang yang sangat penting dalam hidupku. Buya dan Ummi bukan orang asing yang tidak aku pedulikan, aku hanya tidak ingin memperlihatkan kesedihanku. Sudah itu saja, tidak ada alasan lain. Tapi, kenapa Nisa menuntutku untuk menangis di depannya, bukannya dia sudah puas melihatku menangis ketika bermimpi tentang Ayah sebulan terakhir.
“Az, ayo shalat bersama”. Tiba-tiba sekilas bisikan suara Amak datang kedalam ingatanku. Menyayat telingaku, membuat telinga menjadi bising sekali. Aku hampir terjatuh dari sepeda, mendengar suara Amak yang seakan-akan ada di hadapanku sekarang.
 “Ayah tidak pernah memintaku shalat Mak!”. Aku terlihat tidak memperdulikan ajakannya. “Ayah juga tidak melarangmu untuk shalat kan!”. Lalu Amak terlihat menarikku untuk berwudhu.
Arrgghhhh… kenapa semua pandanganku menjadi film dokumenter seperti ini. Ada apa dengan pikirankku dan pendengaranku sekarang. Aku benar-benar membenci ini semua.
“AZALIA, AWAAS….” Teriakan Dave mengagetkan membuat diriku hampir kehilangan keseimbangan bersepeda untuk kedua kalinya. Aku langsung menepi ke pinggir, dan segera menengok ke belakang  berniat memaki Dave yang membuatku kaget dan hampir terjatuh.
“DAVEEE….” Astaga, dia sedang meringis menahan kesakitan di pinggir jalan, dirinya terserempet mobil. Beberepa mahasiswa yang sedang olahragapun  kini sudah mengelilinya. Aku langsung mnejatuhkan sepeda, berlari masuk kekerumunan mahasiswa yang sedang bersimpati pada Dave. Ah, kejadian ini membuatku panik seketika. Bersyukur aku tidak punya penyakit jantung.
“Daveee,, kau baik-baik saja kan ”?. Aku segera memberikannya air minum. Lalu meberikan sapu tangan untuk mebersihkan luka yang cukup parah dipergelangan tanganya. Ishh, kenapa calon master seperti dia harus ceroboh hingga terserempet mobil seperti ini.
“Kenapa kau melamun sih, Dave ? Tegurku langsung tanpa ampun.
“Kau yang melamun, kenapa kau bisa ada jalur mobil, padahal jalur sepeda sudah jelas tandanya!”. Jawab Dave galak sambil menatap tajam kepadaku.
“A..Aku ?”. Jawabku terbata-bata. Bingung menjelaskan kepada Dave tentang bisikan Amak dan kenangan itu yang tiba-tiba muncul. Tapi, aku benar-benar tidak sadar bisa salah jalur jalan. Apalagi masuk ke jalur mobil segala.
“Aku sudah meneriakimu dari halte sebrang jalan, dan kau tidak mendengarkanku. Atau memang sengaja mengabaikanku?” Sekarang dia bertanya penuh kecurigaan. “ Kamu tau, aku langsung berlari dari halte, melihat dirimu hampir tetabrak tadi!”.
“Kau mau tidak sadarkan diri lagi seperti dulu, membuat kami semua khawatir Az!”. Bentak Dave tiba-tiba kepadaku.
“Kenapa kau harus semarah itu sih!”. Jawabku tidak mau kalah.
Dave langsung bangkit, membawa sepedaku dengan tanganya yang terluka. “Kau, balik lagi sekarang. Temui Nisa, sepeda aku sita sampai kau sadar!”.
Dave segera berlalu mengambil arah jalan berlawanan. Terlihat sekali, dia masih menahan sakit di tangganya. Kenapa dia harus ingat kejadian tiga tahun lalu. Itu sudah lama sekali. Dan tidak baik untuk diingat. Lagipula  Aku memang salah, nanti aku akan minta maaf. Setidaknya, tidak perlu marah atau membentakku seperti tadi. Apalagi di depan umum. Kenapa dia harus menjadi pemarah seperti itu.
***
                Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Padang. 2008
                Butuh satu jam perjalanan dari bukit tinggi untuk sampai ketempat ini. Ada sekita empat puluh empat kelokan jalan yang benar-benar memanjakan mata dan sedikit menguji nyali. Tidak Cuma langit dan danau maninjau saja yang seakana terlihat menjadi satu. Semua kerinduan yang tetahan lama, kini sudah tinggal menunggu waktu saja untuk menjadi satu seperti dulu.
                “Assalamualaikum, Hafifah kah ini ? Pandangan kerinduan yang tersimpan lama  itupun terbayar sekarang.
                “Walaikumsalam, Uni Aisyah baa kaba ( apa kabar kak) wak taragak bana samo uni ( rindu sekali kepadamu Kak )?
                “Alhamdulilah lai lah sehat, uni iyo lo ( sama kaka juga rindu )”. Pelukan langsung datang kepada kami yang sepertinya sudah ditunggu sejak lama.
                “Ini putriku, Azalia namanya. Namanya sengaja aku ambil dari nama belakangmu uni”.
                Mereka berpelukan sangat lama, Amak terlihat hampir menangis begitupun dengan perempuan yang baru pertama kali aku temui ini. Kami langsung diajak masuk kedalam rumah gadang yang besar ini.
                “Azalia, umurmu berapa sayang?” Beliau menatapku dengan manis, tatapannya sangat teduh.
                “Empat belas tahun ”. Jawabku sambil menunduk, waktu itu aku sangat pemalu untuk berbicara dengan orang baru.
                “Panggil saja ummi, aku juga amakmu” beliau langsung mengusap kepalaku sambil tersenyum.
                Aku mengangguk menjawab permintaan beliau. Lalu Amak langsung mengijinkan aku untuk bermain ke halaman belakang rumah ini. Benar saja, danau maninjau menjadi pandangan paling pertama ketika aku berlari keluar.
***
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada penciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang , adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?.
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dan tidak menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatan itupun dalam keadaan payah.
Dia langsung menatapku, sedikit kaget mungkin. Karena, tiba-tiba aku muncul dari belakang rumahnya. Lalu dia tersenyum sedikit dan melanjutkan hafalannya. Sedangkan, aku masih diam melihat dia menghafal di depan danau. Apa yang dia hafal sebenarnya. Aku tidak berani melangkah mendekati, apalagi untuk mengajak berbiacara.
“Hei,, kesini, tolong dengarkan hafalanku”. Dia memanggilku untuk pertama kalinya.
“Cepatlah, aku besok harus ujian tahfidz!”. Dia memanggilku lagi. Aku berjalan menunduk kearahnya. Lalu mengambil buku yang dia berikan.
“Hah, huruf apa ini?”. Aku kaget ketika melihat buku yang diberikannya. Aku pernah melihatnya dirumah, dan kadang Amak membacanya setelah shalat. Tapi aku tidak pernah tertarik untuk tau tentang buku itu.
“Ini huruf arab, kamu gak pernah ngaji ya?”. Keningku langsung berkerut mendengar pertanyaannya.
“Enggak, jawabku singkat sambil menatap danau.
“Loh, kata Ummi, tamu yang datang hari ini. Sahabat baiknya di pesantrenya dulu. Kamu Azalia anaknya tante Hafifah kan, masa gak bisa ngaji sih ?”
“Bacakannya saja artinya, tadi kau juga menghafal artinyakan. Biar aku dengarkan hafalanmu!” Jawabku tegas, mengabaikan pertanyaan yang menurutku tidak pentig saat itu.
***
Setelah keberangkatan suamiku besok ke Hongkong. Aku berharap Azalia bisa terbiasa dengan semua ajaran agamanya. Dia belum bisa ngaji sampai sekarang, dia selalu meberikan alasan. Kalau dia belum menyukainya.
“Bagaimana dengan shalatnya Fah?”
Belum Uni, dia meberikan alasan yang sama. Ayahnya belum pernah menyuruhnya shalat.
“Maksudmu Ayahnya melarang Azalia shalat?”
Kak Lan tidak pernah melarang putri kesayanganya untuk shalat, aku faham pemikirannya, dia berharap Az bisa shalat dengat kesadaran bukan karna agama keturunan. Sama seperti Kak Lan , semenjak menjadi mualaf sebelum menikah denganku. Dia sangat berusaha menemukan kesadaran itu.
Tapi sampai lima belas tahun ini, lihatlah Kak Lan masih seperti itu dan putrinya akhirnya mengikuti. Apa yang harus aku lakukan Uni ?. Aku meminta berpisah dari Kak Lan kalau dia masih bersikap seperti ini. Azalia sudah hampir dewasa, aku tidak ingin dia tidak mengenal agamanya. Uni faham maksudku kan ?
Aku faham Fah, aku faham sama seperti dulu ketika memahami pilihanmu untuk menikah dengan Kak Lan. Laki-laki asing yang mengajar di Andalas kampus kita. Aku faham, memaksa faham. Sama seperti dulu ketika kamu memaksaku untuk menerima donor ginjalmu waktu aku hampir meninggal pasca melahirkan Dave.
Aku akan selalu memahami. Biarkan Azalia bersamaku, biar dia hidup dalam bimbingan keluargaku. Ada Nisa yang akan rajin mengajaknya shalat, ada Dave yang mengajak dia mengaji. Kak Akbar pasti akan setuju. Ijinkan kami mengajak Azalia ke Hongkong.
“Hongkong, Bagaimana bisa Uni ?”. Aku sedang berusaha memisahkan Azalia dari Ayahnya. Ayahnya besok memilih kembali ke Hongkong sampai tiga tahun kedepan. Setelah aku memaksa Kak Lan untuk berpisah.
“Lalu apa yang bisa aku bantu untukmu Fah?, Kak Akbar dipindahkan tugas ke Hongkong juga awal tahun depan.
“Doakan yang terbaik untuk kami, Kak Lan berjanji berubah ketika sampai di tanah kelahirannya. Semoga dia bisa menjemput hidayah yang sudah dia ikrarkan lima belas tahun lalu”.
***
Hujan turun deras sekali, membuat amak dan perempuan yang sekarang aku pangggil ummi memanggil kami dari dalam rumah. Meminta kami untuk segera masuk. Anak to the point tadi juga ikut berlari, lalu meberikan daun talas yang cukup besar kepadaku.
“Untuk apa”. Tanyaku bingung.
“Untuk dimakan”. Jawab dia pendek, lalu masuk kedalam rumah tidak menghiraukan kebingunganku. Kalau saja sekarang sedang tidak hujan, akan aku balas dia. Mungkin dia termasuk kedalam golongan makhluk-makhluk gak jelas batinku.
“Terimakasih sudah mendengarkan hafalanku Azalia, Namaku Dave.” Dia berteriak lagi ketika sudah masuk kedalam rumahnya.
Ummi dan Amak tersenyum melihat keanehan Dave. Sepertinya dia memang aneh.
***
Masjid Ukhuwah Islamiyah UI
Akhir Tahun 2015
                                “Sadar itu diusahakan, bukan dibiarkan”
Aku sudah menunggu hampir satu jam. Ternyata seperti ini rasanya menunggu. Bosan dan menyebalkan. Seperti makhluk yang tidak memiliki tujuan hidup. Terlihat sekali orang-orang yang sering menunggu pasangannya di malam minggu, adalah orang yang pengangguran. Atau mungkin mereka lupa bahwa ada tugas kuliah atau deadline tabloid.
Sepedaku sudah entah dimana keberadaannya sekarang. Kalau saja danau yang sedang berhadapanku sekarang bisa berbicara. Aku sudah ajak dia berbicara dari tadi. Sayangnya, dia hanya manjadi pendengar yang baik saja. Belum menjadi pembicara yang baik.
Baiklah !!! Danau dengarkan aku lagi, untuk beberapa menit kedepan. Dan terimkasih untuk enampuluh menit yang berlalu begitu saja. Hari ini benar-benar membuatku bingung. Bahkan sudah sebulan terakhir ini. Sejak mimpi Ayah yang jatuh ke laut. Dan, tadi pagi suara Amak dengan bayangan-bayangannya yang nyata datang.
Aku percaya bahwa konsep tentang kebetulan tidak pernah ada. Tapi aku memang tidak punya jawaban dan penjelasan atas pertanyaan dari Nisa dan perintah dari Dave untuk sadar.
“SADAR!”
Selama ini aku tidak mabuk, dan normal dalam melakukan apapun. Bukannya kau melihatnya kenormalanku selama tiga tahun setengah di kampus ini danau?. Oh ya, aku lupa kau tidak bisa menjawab.
“Kau belum sadar, bahwa kita punya Allah Az!”. Suara Nisa memutus komunikasi satu arahku dengan Danau. Aku langsung berbalik, menatapnya.
“Aku sadar Nis, Aku muslim”. Jawabku singkat.
“Itu hanya identitasmu saja selama ini!” Nisa tidak pernah mengajakku berdiskusi soal agama. Atau memang aku yang selalu menghindar. Dia juga tidak pernah mengajakku secara paksa untuk melakukan semua hal yang dia lakukan sebagai muslim. Tapi sepertinya, tidak untuk sekarang.
“Kamu tau Nis, Ayahku tidak pernah memintaku untuk shalat!”
“Kamu juga tau Az, Ayahmu tidak pernah melarangmu untuk shalat!”
Sebenarnya aku malas sekali membahas masalah ini, apalagi harus sampai membongkar lagi kenangan masa lalu. Tidak menyakitkan memang. Tapi cukup membuat sesak.
“Lihat aku Az, aku akan mati, kamu juga, Uda Dave juga, Buya, Ummi, semuanya akan mati. Kamu tau kenapa Ayahmu tidak pernah melarang atau memerintahmu untuk shalat ?. Nisa menatapku semakin serius sekarang.
Aku menghela nafas panjang, mengingat semua kejadian satu per satu. Ayah seorang mualaf dengan pemahaman yang sangat sedikit tentang agama. Idealisnya tetap tinggi dalam berprinsip. Amak belajar memahami itu sampai aku umur empat belas tahun. Membiarkan kesadaran kami muncul perlahan untuk beribadah. Namun ternyata proses itu benar-benar lama. Karna kami tidak berusaha mencari hakikat ibadah sebenarnya. Sama seperti aku sekarang. Membiarkan semuanya begitu saja.
 “Untuk membuatku sadar, ibadah karna sadar”.
Apa kau sudah berusaha untuk sadar setelah kita kembali dari Hongkong! Setidaknya bertaya kepadaku untuk bagaimana memulai shalat. Padahal telihat sekali wajah  senangmu melihat kami shalat jamaah dulu waktu di rumah sakit, kau juga tersenyum ketika Uda Dave membacakan surat Al-Mulk di rumah sakit. Sekarang kau masih lupa tentang itu semua. Atau berpura-pura lupa ?
Kita sama-sama percaya kalau hukum kebetulan tidak pernah berlaku. Dan, sebulan mimpimu berturut-turut seperti itu apa tidak ada maksud tertentu dari yang Maha Pemilik Malam dan Siang ?
Apalagii yang kamu mau tau jawabannya Az, pertanyaanya adalah dirimu sendiri!.
 Nisa sudah menangis sekarang, dia langsung memelukku yang masih diam mematung. “Jilbab yang aku berikan selama sebulan terakhir, segera pakai. Ummi sudah mengirimkan banyak gamis untukmu. Buya menunggumu di Hongkong dengan pakaian muslimah dan usaha hijrahmu. Sekaligus mengunjungi makam Ayah dan Amak di Kowloon”.
“Hijrah?” Tanyaku lirih.
Aku belum sanggup membalas pelukan Nisa. Apalagi menjawab semua penjelasnya. Kenapa selama ini aku membiarkan diriku lupa.  Membiarkan diriku berpura- pura tidak tau dan tidak ingin tau. Membiarkan diriku menjadi bodoh, terjebak dalam kebingungan. Membiarkan kedasaran beribadah tumbuh begitu saja, tanpa berusaha sama sekali.
“Hijrah sama dengan Move On Az” Nisa melepaskan pelukannya lalu tersenyum penuh arti kepadaku. “Belum terlambat, kita mulai dari detik ini Az”.
Aku belajar menerima semua ini dengan baik sekarang. Aku tidak akan membiarkan kesalahan terulang. Tapi, entah kenapa “Nafasku tiba-tiba sesak Nis”. Nisa langsung mengambil tas kecilku. “Dimana obatmu Az” Nisa terlihat panik sekali, mencari obatku. “Ditinggal di kamar”. Aku mengenggam tangannya, “Pakaikan aku jilbab yang tadi pagi kamu berikan”.
Sbenarnya nafasku semakin sesak tapi aku tidak ingin Nisa mengetahuinya, dia sudah terlalu sedih melihat aku selama ini. Aku tidak ingin melihat Nisa menagis lagi karna kebodohanku.Walaupun wajah Nisa sudah mulai  berbayang dalam penghlihatanku sekarang. Aku berusaha terus tersenyum menatapnya yang merapikan jilbabku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi beberapa menit setelah ini. Kalau memang aku akan mati, setidaknya aku sudah berhijrah dengan jilbab pertamu sekarang. Dulu di rumah sakit Victoria, aku sudah meminta kepada Allah untuk kembali hidup demi ketulusa Nisa, Dave, Ummi dan Buya. Tapi untuk kali ini. Aku tidak akan memintanya lagi, sebagai penebus kesalahanku dan kebodohanku selama ini.
“Tanganmu hangat sekali Az, kamu yakin baik-baik saja ?”. Nisa membalas gengaman tanganku dengan erat. Lagi-lagi responku hanya senyuman, aku tidak bisa menjawab dan merespon apa-apa lagi sekarang. Aku hampir saja menangis melihat dia memakaikan jilbabku untuk pertama kalinya. Aku tidak tau, apa setelah ini aku masih hidup atau tidak. Masih bisa melihat senyum manisnya lagi atau sekedar mendengar nasihatnya. Benar-benar tidak tau. Jika memang ini waktunya untuk aku pergi, aku akan pergi.
“Azaliaaaaaaaaa…” Terakhir, aku hanya mendegar teriakan Nisa dalam kegelapan.

Bersambung Part IV :)
Ditunggu yahh...

Writers : Umi Wijaya Lau

Azalia Lee ( Part II )

Senin, 29 Februari 2016








Sekertariat Perss HI
Universitas Indonesia   
Mengharapkan jawaban dari pertanyaan yang tidak ada.
                Sudah tiga puluh menit aku diam sambil terus memaksa otakku untuk mencari jawaban. Mengobrak-abrik semua ruang ingatan dalam otakku. Mencari dan terus mencari jawaban. Bukan jawaban karna soal ujian akhir yang tidak aku mengerti, bukan jawaban karna soal essay yang tidak bisa aku uraikan. Tapi ini semua tentang masa lalu, jawaban dari pertanyaan yang tidak ada.
                Aku benar-benar sudah melupakan masa lalu itu, menghapus semua ingatan yang selalu membuat sesak. Membakar semua lembaran ingatan yang  mengotori perasaan dan membuat mataku sembab. Tapi kenapa semua orang menuntutku untuk menjawab dan menjelaskan apa yang tidak aku fahami. Padahal aku tidak menyukai, sekuat apapun aku mencarinya. Aku tidak akan menemukan apa-apa.
                “Azalia, Kak Dave menunggumu di depan”. Ah, Kenapa tidak pernah tepat ketika Dave mau menemuiku.
                “Terimaksih Zain”. Jawabku singkat sambil berjalan malas keluar ruang keseketariatan perss jurusan. Sepertinya aku akan benar-benar menjadi mayat hidup seperti yang Dave bilang.
                “Ada Apa?”. Aku sudah bosan sekali melihat wajahnya yang tidak pernah senyum itu. Beda sekali dengan Nisa yang selalu tersenyum kepadaku.
                “Ini konsep singkat untuk kesimpulan akhir penelitianmu, segera selesaikan. Besok pagi, aku sudah harus menerima emailmu. Kalau besok belum selesai! kau akan menyesal seumur hidup.”
                Sepertinya musim hujan ini membuat perasaan dia lebih sejuk sekarang. Sedikit senyum dan sedikit bantuan membuat dia terlihat seperti manusia. Bukan makhluk sadis lagi. Yess, setidaknya konsep yang dia buatkan untuk kesimpulan akhir penelitian, bisa membuatku bahagia hari ini.
                “Terimakasih Daveee…Semoga kau segera menikah.” Aku meneriakinya, setelah dia berlalu pergi.
                Dia terlihat sekali kalau sedang berpura-pura tidak mendengar walaupun terus berjalan tanpa menengok kebelakang sama sekali, padahal lorong ini bergema. Pasti kaliamatku barusan membuat dia menahan senyumnya. Setidaknya membuat orang-orang di ruang keseketariatan tertawa bahagia. Tim Baper tingkat akhir, yang masih belum mau mengkahiri masa lajangnya. Mereka selalu bahagia mendengar candaan-candaan penikahan seperti ini.
                “Sepertinya kau sudah hidup lagi Az, gak kaya tadi. Ka Dave ngasih kamu apa?” Tanya makhluk-baper tingkat akhir yang terkadang keponya berlebihan. Sebut saja namanya Mawar.
                “Dikasih Cintanya Dave kayanya, Cinta paling damai, sedamai danau UI”. Jawab Surya ketua editor majalah fakultas yang tingkat bapernya semakin parah semenjak ditolak berkali kali oleh adik kelas.
                Tiba-tiba ruangan sekertariat sudah penuh dengan tertawa yang paling menyakitkan. Hanya aku yang tidak bisa tertawa, kalau penyebab tertawanya adalah soal cintanya Dave. Dasar makhluk-makhluk baper yang gak punya bahasan selain cinta, jomlo, cinta, jomblo lagi, cinta lagi, jomblo lagi.
                “Aku tadi meneriaku Dave sebagai ucapan terimakasih, bukan baper kaya kalian”. Jawabku tegas sambil mengusahakan tawa mereka agar segera behenti.
                “Biasanya kau tidak pernah meberikan alasan atau menjelaskan sesuatu yang tidak penting”. Celetuk salah satu staf perss senior. Saudari Dini Shireen selaku Redaktur Online paling baper.
                “Berarti Dave Azzam Kahfi penting dong buat Azalia Lee”. Sambung lagi anggota tim baper yang paling sok puitis. Kali ini ketua tim Lay Out, yang namanya harus disembunyikan. Panggil saja namanya kak Dewan.
                “Cieeeeee…Cieeeee.” Ruangan sudah tidak kondusif lagi sekarang. Siklus baper mereka semakin tinggi tidak terarah. Parah, separah rasa sakit mereka yang terlalu sering ditolak. Dan sulit untuk menyelesaikan kepada mereka kalau pembahasan ini benar-benar menyebalkan.
                Biarlah mereka tertawa bahagia melihatku yang diam seribu bahasa sekarang. Serba salah, dan tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.  Seperti inilah mereka, anak perss yang perhatianya sangat-sangat luar biasa. Apalagi soal perasaan. Mereka akan memperjuangkan perasaannya seperti perjuangan mengejar berita yang terkadang belum pasti. Memperjuangkan koresponden dalam ketidakpastian.

Kira-kira seperti itulah mereka.
***

Victoria Park 2011

Tetaplah melidungi, Walaupun dilukai, Tetaplah Melindungi
Musim semi datang sedikit terlambat di Hongkong, Tapi teratai tidak terlambat tumbuh, kuncip putih kuning keemasannya mulai menghiasi kolam-kolam di hotel yang kami tempati. Nanti malam karnaval lentera akan diselengerakan di Victoria park. Ayah selalu bercerita tentang serunya malam-malam di Victoria Park. Bukan karna disana banyak orang Indonesia, lalu Ayah bisa melatih bahasa Indonesianya yang agak kacau disana.
 Ayah bilang kepadaku dia menyukai Lentera, karna lentera tidak pernah menyembunyikan cahaya di dalamnya. Lentera itu melindungi cahaya di dalamnya. Walaupun sebenarnya cahaya bisa saja mebakar lentera yang tiba-tiba, dia akan terus melidunginya.
“Kamu harus selalu melindungi orang disekitarmu, walaupun orang-orang disekitarmu bisa saja membuatmu terbakar. Entah terbakar emosi, persaan atau apapun itu. Tetaplah melindungi Az”.
Aku memutuskan untuk datang sendiri, karna Ayah harus bekerja di kapalnya malam ini. Tapi jam delapan malam aku harus segera menyusul ke pelabuhan. Tempat ayah bekerja Victoria Harbour. Setiap jam delapan malam di Victoria Harbour ada pertunjukan symphony of the light. Pertunjukan laser warna warni dengan cahaya yang menyilaukan sampai membuat bayangan di laut Hongkong. Diiringi dengan lampu dan musik yang diikuti empat puluh empat gedung pencakar langit di kedua sisi Victoria harbor.
“Kau baru saja berumur tujuh belas tahun Az, Ikut Amak saja ke tempat Ayah”. Paksa Amak ( Read ibu dalam bahasa padang ).
“Aku  bukan di negri orang Mak, ini negri Ayahku”. Aku membatah, dan segera keluar kamar hotel meninggalkan Amak yang belum selesai bicara.
Kita kesini tidak sebentar sayang, banyak hal yang harus kita urus untuk kuliahmu disini, kita harus bertemu Ayah. Temui Ayahmu dulu, peluk dia, cium tangannya, baru kau bebas main kemana saja. Kau akan tinggal disini sampai kapanpun. Ajak Amak lagi, lalu mengambil tasku.

“Amak, Aku akan menyusul nanti jam delapan malam”. Jawabku meyakinkan.

 Perjalanan dari bandara Internasional Minangkabau tidak begitu melelahkan. Kurang lebih sekitar empat sampai lima jam untuk tiba di Bandara Internasional Hongkong. Hari Idul Fitri Ayah tidak pernah pulang, dan Amak tidak bisa pergi ke Hongkong dalam tiga tahun terakhir. Begitupun denganku, Sudah tiga tahun aku tidak bertemu Ayah langsung. Bukan berarti, aku tidak ingin segera bertemu Ayah. Tapi…

 “Segera kembali setelah melihat karnaval lentera, Ayahmu sangat merindukan putrinya”. Amak langsung mengembalikan tas ranselku, aku segera mencium keningnya, mencium tanganya, lalu berlari mengejar waktu. Aku akan segera datang setelah membeli lentera paling bagus tahun ini. Kita akan melihatnya bersama-sama di pelabuahan nanti. Tunggu aku Ayah…

***
 Konsulat Jendral RI Hongkong 2011
127-129 Leighton Road, 6-8 Keswick Street , Causeway Bay Hongkong.

Kebakaran terjadi dengan cepat disebabkan kerusakan di mesin kapal. Peyebab lainnya masih diselidiki. Semua staf kapal meninggal dalam kejadian tersebut, Empat puluh turis asing meninggal di rumah sakit akibat luka bakar yang sangat parah. Penumpang yang lain tewas di tempat di kapal masih di identifikasi identitasnya. Tepat pukul delapan malam beriringan dengan pertunjukan symphony of the light sekitar Victoria Harbour.

“Berapa banyak orang Indonesia yang selamat ?”. Tanya Konsul Jendral RI yang beberapa waktu kedepan akan aku panggil Buya. ( Buya : Ayah )

“Semuanya tewas, lima orang turis, sepuluh orang pekerja. Dan satu orang lagi ibu dari anak ini yang baru saja mengurus perpindahan kependudukan di Hongkong. Lalu orang ini mentapku dengan iba. Dan melanjutkannya pembicaraanya kembali.

“Bagaimana dengan Ayahnya ?” Tanya lagi Buya penuh kekhawatiran.

Ayahnya seorang teknisi mesin kapal dan juga ikut tewas dalam kejadian. Ayahnya masih tercatat sebagai penduduk Hongkong. Dia menatapku lagi, seperti menahan tangis. Sama sepertiku sekarang.

“Segera jemput Nisa dan Dave. Langsung ajak mereka ke ruangan saya, sampaikan Buya mereka ingin berbicara serius malam ini juga”.

Seharusnya sekarang aku bersama Ayah dan Amak di kapal melihat pertujukan symphony of the light dan kemegahan Victoria Harbour. Kenapa aku tidak ikut saja bersama meraka tadi. Kenapa aku tidak menuruti Amak. Kenapa aku harus membeli lentera ini. KENAPAA… SEMUA KENAPA TERJADI DI SAAT AKU INGIN BAHAGIA !!! Aku bereriak di dalam hati.

Aku tidak akan menangis di depan manusia. Ayah, aku sudah berjanji. Lihatlah aku tidak menangis sekarang. Tapi bolehkan aku meminta sesuatu kepadamu, karna aku sudah bisa menahan tangisku. Bawa aku pergi bersamamu sekarang juga, aku ingin bersamamu dan amak. Aku mohon…. Aku tidak ingin sendiri seperti ini.

Tiba-tiba seorang perempuan seumur Amakku masuk kedalam ruangan dengan terburu-buru. Aku sudah tidak bisa melihat wajahnya, pandanganku sangat berberkunang-kunang. Aku sekilas melihat senyuman tulusnya dan dia langsung memelukku yang masih diam menahan tangis. Dia mengusap rambutku dengan lembut, lalu berbisik pelan “Aku Amakmu sekarang, menangislah Azalia”. Dia terus memeluk erat sekali. Sampai aku merasakan semuanya menjadi gelap, bisu dan lenyap.

Bersambung.... Part III #Semogaberkesan :)

Writers : Umi Wijaya Lau

____________________________________________________

Blog : http://umiwijaya.blogspot.co.id/
Facebook : https://web.facebook.com/umi.w.lau
Instagram : https://www.instagram.com/umi_wijayalau/

Azalia Lee ( Part I )




Hongkong, Victoria Harbour 2016

                Langit Victoria yang gelap mulai menutupi senja yang belum berakhir. Hanya sedikit cahaya yang terlihat dari menara mercusuar di sisi barat dermaga. Padahal belum terlalu sore. Namun gelap sudah menyelimuti laut pekat sekali. Kilatan petirpun mulai bergantian datang meneriaki bumi. Gelombang laut seakan berbisik enggan untuk dilewati.

Kapal Feri yang aku tumpangi juga sudah terlambat dari jadwal keberangkatan. Menatap laut bukan jadi solusi yang efektif untuk menghilangkan kecemasan. Pada akhirnya aku lebih baik memilih berjalan sendirian, Mempelajari sejarah baru yang mulai aku fahami sedikit demi sedikit alurnya.

Aku mahasiswa tingkat akhir Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Berkonsentrasi dalam hubungan diplomatik Asia Timur. Beberapa hari lagi, aku akan sidang. Kakak perempuanku akan menikah. Dan jawaban harus segera aku sampaikan.

Sebenarnya tidak perlu banyak alasan untuk menjawab sesuatu. Meyakinkan pilihan untuk memilih atau menolak. Semua itu sederhana. Sangat sederhana.

Walaupun hidupku selama ini ternyata tidak sesederhana itu. Aku tetap percaya bahwa jawaban yang nanti aku berikan, adalah jawaban yang akan mampu mensederhanakan semua kerumitan yang ada. Aku sangat percaya.
***


Universitas Indonesia 2015

Dave sedang fokus memainkan gadjetnya. Mengetik beberapa kali. Lalu mencatat di buku kecil miliknya sesekali. Sepertinya dia sedang sibuk. Itu bagus karna, aku malas bertemu dia hari ini. Kakiku harus segera memutar balik arah jalan sebelum dia memanggil.

“ Azalia, kesini sebentar”.

Benar sajakan. Dave sudah langsung menatap kearahku dan memintaku untuk mendengarkannya. Sepertinya dia punya radar setinggi mercusuar di Victoria Harbour. “Ada apa?” Jawabku cuek sambil melangkah malas mendekatinya. “Kau sakit, kenapa seperti mayat berjalan?”.

Bukan Dave namanya kalau gak   menampar dalam bertanya. Makhluk yang satu ini memang selalu serius. Aku juga sama kaya dia, suka dengan keseriusan. Karna candaan, terkadang menyimpan banyak kebohongan yang berkelanjutan. “Aku malas bertemu denganmu”.

Petir seketika menyambar berbarengan dengan jawabanku. Seolah menolak jawabanku. Padahal aku menjawab pertanyaan Dave dengan jujur. Ekspresi Dave tidak berubah sama sekali setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri barusan. Sepertinya dia senang sekali menyembunyikan senyumnnya. Sama seperti menyembunyikan dirinya sendiri dalam kehidupan. It sudut pandangku.

 “Aku sedang malas tersenyum, dan aku tidak pernah bersembunyi, apalagi dari kehidupan!”. Tatapnya tajam menjawab pikiranku.

“Astaga! Apa yang kau katakan barusan?” Aku langsung mengalihkan suasana.

Dave memberikanku catatan kecil “Aku sedang tidak ingin  berbicara denganmu, segera selesaikan kesimpulan penelitian itu. Agar kita tidak beretemu lagi”. Ini cara komunikasi paling mengerikan, dia sebenarnya makhluk apa. Dia yang memanggilku, lalu mengajakku bicara lewat surat. Itupun bentuknya perintah. Ini Sadis dan menyakitkan.

Hujan, segeralah turun. Agar taman ini menjadi basah. Kampus ini menjadi lebih sejuk. Dan kesadisan makhluk disampingku ini segera berakhir. “Cepat kerjakan Azalia!”. Dave mengiramkan surat kecil lagi. “Aku akan menyelesaikannya di asrama”. Setidaknya itu jawaban yang  sopan atas perintahnya sebagai seorang asisten pembimbing.

Aku melangkah secepat mungkin, tidak ada lagi alasan untuk menunggu jawabannya. Aku rasa ini cara yang baik. Lagi pula hujan ju ga turun tepat ketika aku pergi dari taman fakultas. Dave seseorang yang penuh dengan keserius, sangat korelis, dan kadang menjadi makhluk tanpa perasaan sama sekali.

Dia adalah alumni dari jurusan yang sama denganku, yang masih menjabat sebagai ketua angkatan, ketua himpunan, ketua dakwah, Dan jabatan satu lagi, dia dipercayakan oleh dosen pembimbingku untuk menjadi. “Asisten pembimbing skripsi sekaligus pengawas penelitian”.
***

“Jika saja aku tidak punya masa lalu, Tentu saja aku tidak punya masa depan”

Awan malam benar-benar pekat. Pelabuhan sudah tertinggal amat jauh. Tidak ada hujan malam ini, tapi kilatan petir sering terlihat. Membuatku sedikit menunduk. Ayah selalu bilang, jangan pernah menutup telinga apalagi berteriak  jika kau melihat petir. “Pejamkan matamu, lalu berdoa saja Az, Kamu bukan perempuan yang dilahirkan untuk menjadi penakut”.

Aku mengenggam tangan Ayah sangat kuat. Aku tidak tau sekarang ada dimana, yang aku tau aku sedang berjalan pergi meninggalkan kota yang membuat Ayah diam dan sering menatap kosong kearah yang sangat jauh. Sudah berhari-hari kita melakukan perjalanan laut. Ayah semakin pucat dan tidak banyak bicara seperti dulu.
“Kita mau kemana ?” Tanyaku sambil terus menggenggam tangannya yang dingin. Ayah tidak langsung menjawab, dia malah mengajakku ke bagian paling atas kapal laut ini. Kaki kanan sudah sulit sekali untuk berjalan, dan kini dia mengajakku menaiki anak tangga besi yang cukup tinggi.

“Ayah, aku batalkan pertanyaanku. Ayo kita kembali ke kamar”. Ayah tidak memperdulikankku sekarang, dia terus-terusan berjalan dan memperkuat genggaman tanggannya. Perban di kaki kanannya yang tadi berwarna putih, kini menjadi merah pekat sekali. Ayah terlalu tegas dengan dirinya sendiri, dia tidak pernah mau kalah dengan apapun. Apalagi dengan rasa sakit.

Tapiii, aku tidak suka melihatnya sakit, sangat tidak suka.

 “ Ayah, kakimu sudah dipenuhi darah, Tolong berhenti aku mohon!”.

Sekarang, aku sudah menangis dan mencoba melepaskan genggamannya. Aku berteriak sekuat aku bisa, berteriak memaksa Ayah untuk berhenti. “Ayah aku tidak ingin kau mati, tolong hentikan ini semua!. Nafasku sudah sesak, bajuku sudah basah dengan tangisan. Teriakanku benar-benar tidak didengarkan.

Aku kalah dengan keteguhan langkahnya, prinsipnya, pilihannya. Aku kalah!.

“Maafkan Ayah Azalia”. Ayah melepaskan genggamannya, dia mengusap kepalaku, mengapus semua air mataku, mencium keningku, lalu memelukku sebentar. Tidak ada yang dibisikan ke telingaku, aku masih sulit mengatur nafas. Air mataku juga belum bisa berhenti. Aku berusaha memberhentinkannya, tapi aku tidak bisa. Padahal aku tau, Ayah sangat membenci tangisan.

Aku tidak ingin melalakukan hal-hal yang Ayah benci. Sungguh aku tidak ingin. Untuk pertama kalinya aku menangis di depannya sekarang. Aku  takut kehilangan Ayah. Aku Takut. Aku,, tidak ingin melihat Ayah sakit. Tuhan, aku benar-benar takut sekarang…

Ayah mundur beberapa langkah menjauhiku, sampai ke pinggir pagar pembatas atap. Laut dengan ombaknya sudah tepat dibelakang Ayah, satu langkah ayah mundur lagi ayah akan terjatuh ke laut. Aku benar-benar bingung. Nafasku semakin sesak. Tangisku semakin menjadi-jadi. Melihat Ayah yang semakin menjauh mundur.

Kaki kananya sudah tidak bisa lagi melangkah, darahnya sudah terlalu banyak. Semua perban sudah penuh dengan darah. Kenapa Ayah terus mundur menjauhiku. Aku ingin berlari memeluknya, menggenggam tangannya lagi. Aku ingin ikut kemanapun Ayah pergi. Aku tidak ingin ditinggalkan.
“Ayaaah…”. Aku berteriak lagi dan ingin segera memeluknya.

Tapi, kenapa kakiku tidak bisa melangkah sama sekali, tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Ada apa dengan ini semua, kenapa semuanya membiarkan Ayahku pergi. KENAPAAA !!!

“TUHAN, AKU MOHON JANGAN BIARKAN AYAH PERGI”.
Aku semakin sesak, sesak sekali. Rasanya tidak lagi ada nafas.

“Jangan  Ayaaaaah…. Ayaaaaahh.”

***
Dershane Akhwat UI

Aku menghela nafas panjang. Seperti malam-malam yang lalu. Mimpi Ayah jatuh ke laut berulang lagi  datang. Kenapa semua ini nyata sekali. Padahal benar-benar sesak mimpi menangis sampai terbangun.  Sudah tiga tahun lebih, Aku menjadi pengabai yang baik setelah banyak kejadian terjadi di dalam hidupku. Mimpi ini akan aku abaikan sebisaku. Aku berharap ini mimpi biasa tanpa maksud tersirat yang harus mengungkapkan banyak hal yang menyakitkan. Abaikan saja Azalia.Bisik hatiku sediri. 

Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk datang ke kampus, tapi aku tidak mau berlama-lama berlarut dalam mimpi dan kebingungan tanpa akhir. Aku harus mencari kedamaian dan keluar dari asrama. Mengabaikan semua hal yang membuatku banyak bertanya dan bingung. Setidaknya meringankan sembab mataku yang sayu ini.

Beberapa jalan utama kampus masih tertutup dengan portal. Sepertinya pintu fakultas juga masih terkunci, hanya gerbang masjid yang masih terbuka. Walaupun aku tidak tau, kenapa aku harus ke masjid. Tapi setidaknya, hanya tempat ini yang sudah terbuka dan aku nyaman jika sudah di dalamnya.

“Azalia?”. Sapa Nisa sahabat yang satu asarama denganku.

“Hai, Bagaimana acaramu  semalam”?. Aku mulai memberikannya pertanyaan yang membuatnya banyak menjelaskan, ketimbang bertanya balik. Aku tidak ingin ditanya kenapa mataku sembab lagi. Nisa sangat suka menjelaskan kegiatannnya, jadi ini adalah cara yang tepat untuk mengatur keadaan.

 Nisa adalah adik kandung Dave. Dia suka sekali berbicara, public speaking cukup bagus dalam menyampaikan banyak hal. Apalagi soal agama. Walaupun aku tidak mengerti tentang agama, aku tetap senang mendengarkan Nisa berbiacara. Sedikit membuatku tenang. Ketimbang berbicara dengan Dave abangnya yang mengerikan itu.
“Aku tidak akan menjawabmu Az!”. Nissa langsung menarikku, dan mengambil alih sepedaku.
 “Hei, Ada apa?”. Nisa tidak menjawab, dan membiarkanku bingung sesuka hatinya.

Tidak Nisa, tidak Dave mereka semuanya sama, terkadang mereka bisa menjadi makhluk yang sama-sama aneh. Selalu saja membuat bingung, dan melakukan apapun sesuka hatinya.
“Apa semalam kamu bermimpi Ayahmu lagi”. Nisa langsung menatapku .

Aku malas menatap balik, dan malas menjawab. Itu bukan masalah besar. Tidak penting juga untuk dibahas. Masih banyak pembahasan yang lebih penting untuk saat ini, seperti sidang akhirku, program S2 ke Hongkong. Atau mencari cara agar Dave memudahkan penulisan skripsiku. Agar tidak berbelit-belit seperti sekarang.

 “Azalia, aku selalu terbangun tengah malam, dan aku selalu melihatmu menangis dalam tidur tiga minggu ini.” Aku menatap nisa sebentar, “Aku terlihat baik-baik sajakan ?”.

 Nisa mengabaikan tatapanku, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, kain besar berwarna merah. “Dengarkan aku Azalia Lee”.

Aku seorang muslim. Aku memiliki tempat kembali, aku akan diminta pertanggung jawaban, aku akan dituntut Tuhan kalau terus-terusan membiarkanmu seperti ini. Kita ini saudara, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sekaligus sahabatku sejak kecelakaan maut itu terjadi. Aku, Buya dan Ummi tidak pernah memaksamu untuk mengikuti kami. Apalagi Uda Dave, dia sangat memperdulikanmu. Benar-benar memperdulikanmu. Apa kau masih tidak ingat ?

Apa kau tidak ingat apapun tentang keluargamu atau agamamu?”. Atau kau sengaja melupakannya dan membiarkan semuanya menghilang. Masa lalu yang akan membuat kau memiliki masa depan Az. Sebulan terakhir, tidurmu selalu bercampur tangisan dan teriakan “Ayah.. Ayah..”. Kenapa kau harus begitu kuat didepan kami ? Kenapa kau terus menyimpannya sendiri Az!?.

Aku mohon, dengarkan perasaanmu sekarang. Dia punya hak untuk didengarkan. Jangan sakiti dirimu seperti ini. Jika kau terus-terusan seperti ini, sama saja kau membunuh Aku, Uda Dave, Buya, Ummi secara perlahan. Dan itu benar-benar menyakitkan.


Nisa pergi dengan bersama tangisannya. Bukan kemarahan, sungguh dia tidak akan pernah marah kepadaku. Nisa pergi dengan perhatiannya yang menenangkan itu. Dia masih menahan emosinya, dia sangat pandai soal menenangkan perasaan. Padahal  ini sudah kesepuluh kalinya dia memarahiku dalam tiga minggu terakhir. Setiap kali dia menarikku dan mengajakku pergi lalu bertanya dan bertanya lagi selalu ada yang dia berikan. Kemarin dia memberikan kain besar berwana biru, tadi merah, kemarinya lagi hijau, sepuluh kali dia menangis dan bertanya kepadaku, sepuluh kali dia memberikan kain besar kepadaku.
                Kalau aku masih bermimpi dan menangis dalam mimpi terus- terusan seperti ini. Lalu Nisa melihatku lagi, pasti dia akan menarikku lagi seperti pagi ini. Lalu meberikan kain besar seperti yang dia pakai untuk menutupi kepalanya sampai setengah tubuhnya. Andai aku bisa mengatur mimpi dalam setiap malamku Nis. Aku akan memilih untuk bermimpi yang lain. Setidaknya, mimpi yang tidak membuatku menangis sampai terbangun. Dan, mimpi yang tidak membuatmu khawatir. Mimpi yang tidak membuatku bingung dan mengingat semua hal yang menyakitkan.

Bersambung...... #Part II

Writers : Umi Wijaya Lau
29 Febuari  2016

_____________________________________


Blog : http://umiwijaya.blogspot.co.id/
Facebook : https://web.facebook.com/umi.w.lau
Instagram : https://www.instagram.com/umi_wijayalau/

SEMENANJUNG KOWLOON HONGKONG

Minggu, 09 Agustus 2015

Semanjung Kowloon Agustus
Part I

Langit masih jadi pendiam sampai nanti Tuhan mengijinkannya mengatakan semua yang dia saksikan di bumi. Langit  sebenarnya sedang berpura-pura tidak melihat kelakuanmu, berpura-pura tidak mendengar pembicaraanmu. Berpura-pura tidak peduli dengan kesombonganmu. Padahal, dia sudah hampir mau meledak melihat dirimu yang sangat sombong itu. ( catatan calon imammu 2008 )

Pemakaman San Diego Hills
Karawang Jawa Barat Agustus 2008

Zu masih saja diam tanpa ekspresi di depan makam ayahnya. Benar-benar datar tanpa ekspresi sedikitpun. Dia sama sekali tidak menangis, jika ada kaca pembesar di wajahnyapun sekarang. Sungguh, satu tetes air mata rasanya tidak pernah berlinang sama sekali di wajahnya yang chines itu. 
Satu per satu kerabat ayahnya mulai pergi meninggalkan makam yang luas itu. Sedangakan Zu masih menatap kosong nisan ayahnya. Dia benar-benar sendiri sekarang. Tidak ada siapa-siapa disampingnya. Kecuali malaikat yang masih setia menunggu di sisi kira kanannya.
 Ibunya sudah meninggal ketika ia berusia 2 tahun. Menyedihkan sekali melihat hidup gadis yang satu ini. Tapi sebenarnya, dia terlalu sombong untuk dikasihani sekarang.
“Hallo, Aku lagi di pemakaman Ayah, tunggu aja di tempat main golf” Zu baru saja menjawab telfon dari senior sekolahnya. Tidak sampai sepuluh menit, Zu sudah sampai di tempat bermain golf. “Gilaaa! ini pemakaman. Fasilitasnya lengkap banget, Golf ada, kolam renang ada, Restoran ada, sering-sering aja kamu ajak aku kesini Zu”.
“Emang siapa yang mau meninggal lagi. Hah ? Ayahku cuma satu, yang mafia itu” jawab Zu ketus sambil menatap jauh bola golfnya. Walaupun sebenarnya dia sedang menatap jauh ke arah makam ayahnya.
“Sejahat inikah diriku Tuhan, Aku hambamu yang selalu memaki Ayahnya sampai akhir hayatnya kini, Ada apa dengan hatiku Tuhan!”



***
Biar saja langit masih menjadi pendiam sekarang. Setidaknya, sekarang kamu masih bisa melakukan apapun sesuai nafsumu sampai ruh yang ada di dalam tubuhmu dicabut tiba-tiba. Toh, langit gak bakal berteriak dengan gemuruh petirnya karna melihat kemaksiatan yang kau lakukan setiap waktu. ( catatan  calon imammu 2008 )

Istana Mafia Yosian Kim Tan
22 Agustus 2008
 Ayahnya seorang mafia batu berlian paling terkenal di Hongkong. Baru beberapa hari yang lalu tepat dihari kelahirannya Zu. Dia diberikan cincin berlian termahal oleh ayahnya.
“The Moussaieff Red Diamond termasuk kedalam sepuluh berlian termahal di dunia. Kamu tau Honey, walaupun dia termasuk berlian yang paling kecil tapi dia memiliki nilai paling tinggi diantara berlian yang lain” ujar ayahnya saat itu.
“Ah, sudahlah! Aku tau harga berlian ini hanya enam puluh delapan miliar saja. Jadi, kau tidak perlu membanggakan pemberiamu yang murah itu!”
Sahabat-sahabat dari Senior High School Zu hanya binggung menatap kelakuan Zu yang berlebihan itu. Walaupun mereka tau Zu memang memiliki karakter yang buruk sekali. Tapi seharusnya diacara ulang tahunnya ini dia bisa mengendalikannya.” Ah, bukan Zu namanya kalau tidak buruk sikapnya” bisik salah satu sahabat dekatnya.
    “Dia tidak murah Honey, dia kecil tapi tidak terlihat murahan sama sekali. Sungguh, ini benar-benar berlian paling mahal”. Ayahnya Zu mulai meyakinkan kembali sambil mengkondisikan pesta yang mulai tegang, karena Zu hampir saja melempar hadiah dari Ayahnya sendiri. Ayahnya terus merayu Zu agar menerima hadiahnya. Zu masih tidak peduli dengan Ayahnya sendiri, dia malah sibuk mengajak bicara Kak Lee yang dia sukai sejak lama. “Kak Lee mau minum bersamaku?”.
    Zu sudah berjalan menuju bagian taman belakang rumahnya itu dan meninggalkan Ayahnya di depan teman-temannya sendiri. Sambil terus mengandeng erat tangan kakak kelas idolanya. Zu sudah terlihat menjadi ratu pesta pada malam itu, Zu memakai gaun panjang berwarna biru yang bagian belakanya terbuka membentuk huruf V. Rambutnya panjang keriting gantung berwarna merah keunguan membuat dirinya terlihat menjadi lebih dewasa dari umurnya.Dan badanya yang tinggi semampai kini sudah menyandar kedalam pelukan Kak Lee.
Rumah Zu kini sudah di sulap sesuai permintaannya. Tamannya sudah menjadi bar yang penuh dengan botol alkohol bermerek.  Kolam renangnya sudah menjadi arena panggung diskotik high class, penari striptis sengja disiapkan untuk menjadi pusat perhatian teman-teman sekolahnya.
    Muka Ayahnya sudah merah padam menahan malu sekaligus marah terhadap Zu. Degg ! Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Tiba-tiba suara sirine mobil kepolisan seakan menggantikan musik yang sedang diputar di istana Zu malam itu. “RUMAH ANDA SUDAH DIKEPUNG! SEGERA MENYERAHKAN DIRI BPK. YOSI” . Semua teman-teman Zu berteriak, berlari kesana-kesini tanpa bisa mengendalikan diri. Mereka berada dalam pengaruh alkohol dan obat yang benar-benar parah. Belum lagi sahabat-sahabat dekat Zu yang sedang asik berpacaran di dalam kamar tidur yang sengaja Zu sediakan untuk sahabat-sahabatnya itu. Mereka panik bukan main dengan keadaan yang benar-bena memalukan. Ah, Apalagi selain seks bebas. Itu sudah menjadi hal yang biasa saja bagi mereka.

***
    Dentuman peluru saling bersahutan di dalam rumah Zu. Darah sudah tumpah dimana-mana. Beberapa teman sekolah Zu tewas di tempat. Mereka anak-anak mafia yang memang memiliki senjata api sempat melawan beberpa kali, namun akhirnya tewas. Mereka yang memang memiliki peran penting dalam pengedaran narkotika internasional. Sebenanya Zu tau, teman-temannya ini sudah menjadi incaran keamanan internasional sejak lama. Dia tetap sengaja mengadakan pesta besar dan memaksa Ayahnya untuk mengundang semua rekan mafianya.
    Ayahnya menolak habis-habisan. Tapi akhirnya dia mengalah untuk putri kesayangannya. Dia juga sengaja mengundang teman-temanya yang sudah menjadi agen pemasaran narkotika internasional Asia. “Kau, mau mancing polisi! Hah?” Kurang lebih seperti itulah respon temannya. “Sudahlah, Ayahku akan mengirim keamanan mafia terbaik dari Hongkong, jadi kau tidak perlu khawatir”. Jawab Zu simpel.
    Zu sudah merencanakan semuanya, dia ingin menyelesaikan semuanya. Dia sudah bosan dengan kekhawatiran yang selalu menghantuinya. Dia sudah kesal melihat Ayahnya dikejar-kejar intel negara. Dia sudah malas dengan kecemburuan sahabat-sahabatnya sendiri. Dan dia sudah benar-benar muak dengan teman-temannya yang selalu memanfaatkan kekayaanya.
    “Awaaaaaaaass Zu, Teriak Ayah Zu sambil memeluk putrinya dari belakang. Wussh, Ayah Zu tertembak tepat dijantungnya sambil memeluk Zu. Ayah Zu sudah jatung ke lantai bersimbah darah, ditangannya masih tergenggam berlian nuntuk putrinya itu. Zu tidak berteriak sama sekali, dia masih diam mematung. Sebenarnya keinginanya tidak seperti ini. Benar-benar tidak seperti ini. “Seburuk-buruknya diriku, Aku tidak berniat menjebak Ayahku sendiri, Apalagi sampai membunuhnya”


***

Cerpen Semenanjung Kowloon
Part II
“Sejauh apapun kamu berlari dari kesaksian langit, dia akan terus menyaksikanmu”
Hongkong, China Selatan

    Zu sedang berada di semenajung Kowloon,salah satu bagian daerah paling menawan dari Kota Hongkong. Semenanjung kecil yang palin terkenal di Asia dengan kemewahan gedung-gedung tinggi di pinggir lautnya. Semenanjung Kowloon memiliki pelabuhan terkenal yang menyimpan banyak sejarah. Pelabuhan Victoria, terlihat sekali dari namanya bahwa kota ini dulu adalah jajahan Inggris.
Victoria dulu selalu menjadi tempat yang Zu ingin kunjungi, Zu selalu menunggu hari jum’at untuk meminta Ayahnya untuk pergi ke pelabuhan. “Aku hanya ingin matahari tenggelam saja, sudah itu saja!”. Sebenarnya Zu adalah anak yang baik, tidak hedonis walaupun Ayahnya memiliki harta yang gak akan habis dimakan sepuluh generasi.
    Bukit itu masih berdiri tegap sama seperti dulu, gradasi warna biru tua dengan senja sore berpadu menjadi lukisan yang selalu membuat rindu. Secara jelas menggambarkan bahwa malam akan segera datang, menyisahkan matahari yang lama-lama terus tenggelam lalu menghilang. Benar-benar menjadi backround alam yang membuat Zu sulit meninggalkan pelabuhan. “Andai Mama masih disini, pasti dirimu akan menangis darah melihat diriku yang rusak seperti ini”. Batin Zu sambil melihat bayangannya sendiri.
Bangunan-bangunan pecakar langit berbaris rapi berhadapan langsung dengan laut. Setiap tahun pembangunan gedung-gedung di Hongkong semakin tinggi. Tingkat kriminalpun tidak kalah tingginya. Ibu Zu meninggal karna menyelematkan Zu dari penyerangan kelompok mafia judi di Macau. Dulu Ibu Zu memang sengaja untuk bisa berjalan berdua saja tanpa pengawalan dari bawahan Ayah Zu. Hal itu menjadi kesempatan untuk musuh-musuh mafia judi yang lahanya di ambil Ayah Zu untuk judi berlian balas dendam.
Pertikaian terjadi di Central Macau saat itu. Ibu Zu yang bukan berasal dari bangsa Tionghoa dan terkenal sebagai istri dari mafia berlian, menjadi incaran para mafia untuk balas dendang kepada Ayah Zu yang mengambil lahan judinya. “Tidaaak usah menangis Honey,, Mama akan terus memelukmu”. Tetapi Zu tetap saja menangis melihat ibunya dipukuli oleh banyak orang, baju ibu Zu sudah koyak tidak kelihatan bentuknya. Darah segar sudah mengalir dari kepala ibu Zu yang ditusukan besi tajam. Punggung Ibu Zu sudah robek dengan garetan-garetan pisau yang tidak terhitung  jumlahnya. Ibu Zu masih memeluk putri kecil saat itu, Zu yang masih kecil saat itu hanya bisa menangis dalam pelukan ibunya yang mulai melemah. Ibu Zu masih menahan tangisnya sambil berbisik kecil ke telinga Zu “Allah.... Allah.... Allah... Engkau sebaik-baiknya tempat kembali”.
Ibu Zu tewas tepat ketika pengawal Ayah Zu datang bergelombolan menembaki mafia judi yang tidak menyerang istri dari tuan mereka. Zu masih menangis bingung, dia benar-benar tidak tau dengan kejadian yang terjadi. Dia tidak tau kalau Ibunya sudah tewas, dia tidak tau kalau sekarang dia sendirian tanpa ibunya. Dia benar-benar tidak tau apa-apa. Zu segera di gendong kedalam pelukan Ayahnya. Ayah Zu menangis sambil memeluk putrinya dan istrinya yang sudah bersimbah darah tidak bernyawa.
   
    ***
Oh, andai saja kamu mengerti kalau hujan itu sebagai tanda. Bahwa langit sedang menangis merindu menatap kesucian hatimu yang mulai terkagum haru.. ( imammu 2010 )

Semenanjung Kowloon 22 Agustus 1994
Untuk anakku, ZUKHRUF YOSIAN KIM TAN

    Honey, Aku tidak tau akan apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita nanti. Aku menulis ini sebagai rasa syukurku atas kelahiranmu sekarang. Allah menitipakanmu sebagai anugrah besar yang tidak ternilai sama sekali. Sekecil apapun fisikmu yang baru berumur sekian jam kini, aku tetap bersyukur bahwa nilaimu benar-benar tinggi, nilaimu sebagai putriku, nilaimu sebabai pejuang doaku nanti, nilaimu.... yang benar-benar tidak ternilai.
    Honey, seburuk apapun dirimu nanti, Ayahmu nanti, atau hidupmu nanti. Mamah mohon ,tidak perlu kau menambah perburuk hatimu karna kekecewaanmu terhadap Allah. “Kau mulai mengeluh kepada-Nya, tapi kau tidak boleh mengeluhkan-Nya”.
    “Bisa kamu memberikan surat ini kepada suami Zu nanti, Aku tidak yakin bisa memberikan surat ini nanti kepada Zu. Terimakasih Kakak sudah menemani kelahiran ku, sampai harus datang ke Hongkong!. Padahal, Aku tau Kau sibuk di Jakarta”.
    “Simpan saja surat itu sendiri Fathia, Aku hanya kasihan kepadamu. Ingat! Aku bukan Kakak kandungmu lagi, Kau lebih memilih suami Chinamu itu kan!. Bentak kakak Fathia sambil melemparkan surat kecil tadi. “Kau sudah menghancurkan kepercayan orang tuamu, keluargamu bahkan agamamu Fath!”.
    “Aku masih seorang muslim Kak, percayalah padaku. Aku tau, Aku salah memilih, Aku tau aku melanggar syariatku, Lagian Yosi berjanji masuk islam setelah Zukhruf berusia remaja”. Seru Fathia Ibu Zu sambil terus meyakinkan Kakaknya sendiri. “Kau itu hanya dibodohi Fathia, Seharusnya Kau sadar. Dia itu seorang mafia, Kau tau itu membahayakan dirimu dan Zukhruf.”
    “KALAU KAU MASIH MAU HIDUP DI NEGARA MAFIA INI. SILAKAN!” teriak perempuan itu dengan tegas. Sambil merapikan tasnya dan bersiap melangkah keluar dari kamar persalinan. “Kak Farihah,, Aku mohon..” panggil Fathihah sambil mengenggam tangan  Kak Farihah dan mencoba menahan langkah Kakaknya. “Aku titipkan cinta Zukhruf kepadamu, Aku tidak tau bisa bertahan hidup sampai kapan di Hongkong. Aku tau aku yang salah, tapi ini sudah jalanku. Aku akan bertanggung jawab Kak!. Tapi aku mohon, tolong jaga Zukhruf dari jauh, lihat dia terus dari jauh, biarkan dia tetap bersama Ayahnya. Tapi, aku mohon jaga dia.
    “Jika dia mulai menyukai seseorang biarkan saja dia, jika dia mulai keterlaluan bergaul biarkan saja dia. Tapi jika dia sudah terlalu hidup dalam kesedihan, tolong dekati dia. Yosi akan menjadi Ayah yang baik untuk Zukhruf, dia akan memberikan apapun untuk Zukhruf, karna sebentar lagi Yosi akan menjadi Mafia Berlian yang paling disegani di Hongkong”.
    Farihah hanya bisa menghela nafas sambil menatap adiknya itu. “Betapa bodohnya Kau Fathia”. Umpat Farihah dalam hati. “Suratnya aku ambil, Ini pertemuan terakhir kita sebagai saudara, jika nanti kita bertemu di negara manapun. Anggap saja kita tidak saling mengenal. Kau, bukan adikku lagi”.
    Farihah sudah menggenggam surat kecil itu sambil menahan tangis. Dia pergi meninggalkan ruangan persalinan tanpa mau menatap lagi adiknya. Farihah sempat berbalik badan sebentar, menatap Zukhruf kecil yang masih digendong Fathia Ibunya. “Semoga Allah mengijinkan kau bermuara dalam cinta terbaik milik-Nya”. Bisik Farihah dari jauh, lalu berlari meninggalkan ruangan.
***

Jakarta, 06 Maret 2008
Markas Besar BIN Republik  Indonesia
   
    Zu terlihat berlari terburu-buru turun dari mobil Lamborghini Veneno terbarunya. Tanpa pengawalan dari siapapun. Masih  dengan seragam sekolahnya dia keluar mobil dengan rokoknya yang sudah hampir habis, sambil menghisap rokoknya terus masuk ke dalam markas itu.
    Zu sudah membuang rokoknya di kamar mandi, dan segera mengganti baju seragam sekolahnys. Zu hanya mengenakan rok hitam selutut dan kemeja putih yang membentuk badanya yang idealnya itu,  berbalut blezer hitam. Sengaja Zu membuka dua kancing kemeja atasnya, agar terlihat lebih menarik  menurut Zu.
 Dia segera menyapa semua orang di dalam markas besar intel itu dengan senyuman manisnya. Para intel muda disana hanya bisa diam membisu mentatap kecantikan Zu yang  mirip mulai meracuni otak mereka. Zu yang memang mirip sekali dengan Vicky Zhao Wei artis china yang manis itu. Siapa yang tidak mengenal kecantikan Vicky Zhao Wei dalam drama sejarah kekaisaran Huan-Zhu.
Semua orang di dalam markaz tau bahwa Zu, gadis chines itu adalah pacar atasan mereka. Jadi tidak ada satu orangpun yang berani mendekati Zu, walaupun sekedar mengajak berbicara.  “Ah, Zu. Berlian pun kalah mahal denganmu” bisik salah satu intel muda si markaz itu.
Mereka sangat sulit mengetahui identitas Zu yang sebenarnya. Zu yang memang sudah akrab dengan markaz itu dari dua tahun lalu dan selalu menjadi trending topic dalam obrolan intel-intel muda di markaz.
 Secerdas apapun intel muda yang berda di dalam markaz BIN. Mereka hanya tau bahwa identitas Zu sebagai pacar dari pimpinan mereka sekarang. “Zein Farihah Wijaya” Pimpinan intel termuda itu, adalah lulusan terbaik sekolah intelejen negara. Karakternya benar-benar tegas. Di umur dua puluh tahun dia sudah menjadi penghafal Al-Qur’an sekaligus pimpinan intel milik negara.

Zu     : Sekarang Kau sebagai pimpinan tertinggi dalam Badan Intelejen Negara ( BIN ), padahal umurmu masih sangat muda.
Zein     : Allah yang menitipkan amanatnya, maka aku berusaha melaksanakan sebaik yang  aku bisa. Lagi pula ini memang harapan ibuku.
Zu     : Dulu aku berniat masuk sekolah intelejen sepertimu, tapi Ayahku marah mendengar anaknya mau menjadi intel.
Zein     : Kenapa, harus marah?
Zu     : Tidak perlu kau bertanya Zain, Kau tau sendiri Ayahku adalah seorang mafia.
Zein     : Kau, seharusnya bisa mengambil pilihan yang tepat.
Zu    : Ini adalah pilihanmu, semua rencanakupun itu adalah rencanamu.
Zein    : Ini permintaann ibuku, dan Aku menyangupinya.
Zu    : Apa ibumu sayang kepadamu ?
Zein    : Dia sayang kepadamu dan kepadaku. Kalau bukan karnmu, Ibuku tidak akan memaksakan kehendaknya kepadaku untuk menjadi Intel. Kau tau, aku hanya ingin menjadi ahli agama, bukan ahli intel. Kau tau, aku hanya menyukai wanita muslimah yang menutup auratnya dengan rapi dan bisa membaca Al-Qur’an dengan baik.
Zu     : Aku tau, lalu masalahnya apa denganku ?
Zein     : Ibuku memintaku segera menikahimu, karna dia sudah khawatir sekali dengan hidupmu yang semakin bebas itu.
Zu    : Aku baik-baik saja dengan hidupku dan Ayahku. Walaupun Aku juga sudah lelah dengan kelakuan Ayahku sendiri.
Zein    : Ayahmu itu mafia paling dicari, kau seharusnya bekerjasama denganku untuk menyelesaikan kasus ini.
Zu    : Aku sudah membaca surat kecil dari ibuku yang dititipkan kepada ibumu. Aku tidak berniat bekerja sama denganmu. Aku akan berkencan dengan Kak Lee malam ini. Besok ulang tahunku, datanglah ajak tim intelmu untuk menghancurkan Ayahku. Jika kau berhasil, Aku akan menikah denganmu. Itu janjiku.
   
        Langit menjadi saksi pembicaraan mereka, dalam hitungan detik setelah Zu meninggalkan Zein di kantornya. Zein langsung mengatur rencana penyerangan kerumah Zu yang sebenarnya sepupunya itu. Zein hanya bisa berteriak di dalam hati mencaci dirinya sendiri. Karna belum bisa menerima dengan ikhlas ketentuan jalan hidupnya sekarang.

***
Cerpen Semenanjung Kowloon
PART III
    Farihah selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk putranya. Zein, namun setiap hari hidupnya tidak tenang dengan bayangan wajah adiknya fathia. Dia tau fathia akhirnya tewas menjadi korban di Hongkong. Dia juga tau Zu dan ayahnya hidup dalam bayangan ketakutan. Karna kasus pencurian berlian di dunia internasional sedang diurus semakin detail.
“Nak, apakah kau mau membantu ibumu?” Tanya farihah kepada Zein yang sedang membaca kitab tafsir tematik Risalah Nur yang berbahasa Turki. “Apa yang Aku bisa bantu Ummi?” jawab Zein.
“Nak jika nanti kamu menyukai seorang perempuan, tidak apa bila Ummi tidak tau, Karena mungkin kamu malu mengatakannya. Ibu hanya berpesan agar kamu tidak sembarangan mengutarakan perasaanmu kepadanya.Kalau kamu mau mengutarakannya maka kamu wajib mengabarkannya dahulu kepada Ummi dan Abi. Karena perkara itu bukan main-main.
Bila kamu belum cukup kuasa mengatakannya, Maka jagalah dia dengan kamu menjaga perasaanmu sendiri. Jangan sekali-kali kamu menyebut namanya sembarangan. Itu bisa menjatuhkan kehormatanya yang seharusnya kau lindungi. Kalau kamu mau diam, tapi tetaplah bergerak. Mudahkanlah urusannya dalam diam, tidak usah tampil sebagai pahlawan yang seolah-olah selalu ada ketika ia butuhkan. Sembunyilah di tempat yang aman, tapi kamu tetap terjaga untuk membuatnya aman.
Mudahkanlah urusannya, bantulah dia secara diam-diam. Buatlah dia bahagia diam-diam. Doakan dia secara ahsan... Kamu tau Zein, siapa yang Ummi maksud ?
Zein hampir menangis mendengar perkataan ibunya, dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia tau semua hal tentang keluarga ibunya termasuk Fathia, adik dari ibunya sendiri. Dan dia faham betul bahwa Zukhruf adalah wanita yang ibunya maksud. Wanita china yang dulu menjadi alasan ibunya untuk membuat Zein menjadi intel. Wanita china yang sempat meracuni hati dan otaknya selama dua tahun terakhir. Bagaimana tidak, Zein sangat menyukai Zu sebagai laki-laki yang normal. Namun Zu bukan kriteria istri shalihah yang Zein harapkan.
“Doakan dia secara ahsan Zein...” Kalimat itu kini terngiang-ngiang di otak Zein. Malam ini dia akan menyelesaikan kasus pencurian berlian yang dilakukan ayahnya Zu. “Ketika kasus ini selesai Aku akan menikahi Zukhruf InsyAllah” Zein akhirnya mengetakan hal itu kepada ibunya.
“Ibu tau kau masih terpaksa Zein, Sesunggunya Ketidaksempurnaan itu terletak pada ketidaksempurnaanya. Kamu tau, Zukhruf adalah perhiasan Allah yang harus dijaga. Dia memang sedang direbutkan oleh banyak pihak sekarang. Dan dia sudah terlalu sering merusak dirinya sendiri. Tapi dia dalam keadaan ketakutan Zein, wajar dia melakukan semua itu. Dan dalam ketakutan itu, Kau adalah saudaranya yang paling dekat. Kau harus membantunya Zein...” Farihah sudah menangis di hadapan anaknya sekarang.

***
Lee mengejar Zu sampai ke Hongkong. Zein semakin khawatir. Rasanya dia benar-benar ingin segera menikah Zukhruf untuk melindunginya. Dia tau Lee bukan lelekai yang baik. Walaupun Zein merasa bersalah karena dalam penyerangan waktu itu. Banyak korban yang tewas termasuk Ayah Zu. Itu yang paling disesali Zein. Zein sadar bahwa Zu benar-benar marah dengan dirinya.
Zu memang tidak terlihat menagis dengan tewasnya Ayahnya sendiri. Tapi Zein mengerti bahwa Zu benar-benar merasa kesepian, dan akan melempiaskannya kepada pacarnya yang brengsek itu. Lee cowok yang sukai Zu sejak lama sekaligus anak dari mafia judi di Singapur.
Lee mengajak Zu tinggal di singapur selama beberapa bulan setelah kematian Ayahnya. Zein hanya bisa mengawasi mereka dari jauh. Zein tidak melepaskan Zu begitu saja. Dia tetap mengingat pesan ibunya untuk menjaga Zu secara diam-diam. Menyelsaikannya secara diam-diam. Tanpa perlu hadir sebagai pahlawan.
Di akhir musim hujan Zein mendapat kabar bahwa Zukhruf gadis yang sekarang mulai dia rindukan. Akan dijual oleh Lee, Karena Lee terikat hutang yang cukup banyak, sedangkan lahan uangnya yakni Zu sudah mulai miskin.
“LEE AKAN KUBUNUH KAU, SEKALI SAJA KAU MELUKAI ZUKHRUF” ancam Zein sambil mengatur rencana untuk mengambil Zu dari Lee yang jahat itu. Zein mengirimkan tiket penerbangan ke Hongkong sekaligus pengawalan intel Singapur untuk mengantarnya  Zu ke Hongkong.
“Rekaman apa ini” Tanya Zu kepada dirinya sendiri sambil membuka rekaman itu dari emailnya. Zu kaget bukan main melihat rekaman itu, dia melihat Lee melakukan transaksi untuk menjual dirinya kepada seseorang.  Lee laki-laki yang selama ini dia harapkan, laki-laki yang sudah dia berikan segalanya. Kini malah mau menjualnya karena hutang. Zu benar-benar marah, Takut menjadi satu. Lalu dia segera mengecek email berikutnya. Ternyata itu konfirmasikeberangkatan dari tiket pesawat yang dikirmkan Zein.
***
Zein pun langsung berangkat ke Hongkong bersama ibunya. Dan menyiapkan segala keperluan pernikahan disana. Zukhruf yang tidak tau apa-apa langsung di jemput di bandara internasional Hongkong. “Saya terima nikahnya Zukhruf Yosian Kim Tan bin Yosian Kim Tan”.
Pernikahan sudah selesai disalah satu masjid dekat New Kowloon. “Aku sudah menepati janjiku, terimakasih sudah membantuku Zein. Sekarang ijinkan aku bebas kemana saja”. Farihah ibu Zein kaget bukan main mendengar perkataan Zukhruf yang sekarang menjadi menantunya.
“Aku sudah mengikuti banyak mau muZein, Ketika dulu kau suruh aku bersyahadat, aku bersyahadat. Ketika Kau mengajak bekerja sama, aku juga membantumu bahkan sampai Ayahku tewas melindungku!”
“Aku sebenarnya ingin tinggal disini, sore ini ijinkan aku pergi sendirian ke pelabuhan Victoria. Setelah senja jemput aku, kalau kau masih mau menunggu keputusanku sebagai istrimu”. “Bolehkan aku memelukmu lagi seperti dulu” Tiba-tiba Kak Lee sudah ada di belakang Zu yang masih menatap matahari tenggelam di pelabuhan. Tanpa menunggu jawaban Zu, Kak Lee langsung memeluk Zu, sontak Zu langsung melepaskan pelukannya “ Ada apa Honey ?” Tanya Kak Lee kaget.
“Aku bukan Zu yang dulu Kak!” Jawab Zu sambil mundur menjauh. “ Aku bukan Zu yang bisa di peluk atau di cium seperti dulu Kak”. Zu terus mundur perlahan menjauhi Kak Lee. “Sebenarnya kamu kenapa Honey, Aku akan menikahimu nanti, jadi apa masalahnya?”.
    Angin pelabuhan semakin lama, semakin menusuk tulang, membuat sendi-sendi tubuh tersa lebih tegang. Degup jantung Zu semakin cepat. Dia semakin takut dengan hal yang akan terjadi beberapa saat lagi, Sungguh Zu benar-bena
    “Zu, kenapa kau semakin menjauh. Aku sudah mengejarmu sampai ke Hongkong. Dan kau menolakku?” Kak Lee terus mendekaati Zu yang sudah mendekati batas tiang dermaga, kalau Zu mundur lagi dia akan terjatuh ke Laut. “Aku mohon jangan mendekat Kak! Aku bukan Zu yang dulu”. Zu sudah hampir menagis karna benar-benar takut dengan hal yang akan dilakukan Kak Lee ketika mendekatinya.
    “Aku tau, kamu bukan Zu yang kaya raya seperti dulu.  Aku hanya ingin dirimu saja Zu seperti dulu, kamu faham kan?”. Zu sudah hampir menangis, badanya sudah lemas. Kakinya sudah bergetar sekali saking takutnya.”Aku tau, tapi aku tidak akan melakukannya denganmu!”. Jawab Zu dengan suara bergetar. “Hah ? Mau Aku bayar berapa kau! untuk pelacur seperti dulu!”. Bentak Kak Lee tiba-tiba dengan suara kasarnya.
    Air mata Zu sudah tumpah membasahi pipinya, ini pertama kalinya Zu menangis dalam sepuluh tahun terakhir. Zu gadis yang dulu keras sekali hati dan prilakunya, kini menangis ketakutan. Dalam sepuluh tahun terakhir Zu tidak pernah takut dengan apapun. Dan kini dirinya benar-benar ketakutan. Dirinya kini benar-benar kecil sekecil berlian yang dulu Ayahnya hadiahkan. Tapi Zu merasa menjadi kecil tanpa nilai, “Aku sudah terlalu buruk Kak, Aku tidak ingin memperburuknya lagi!”. Kini Zu merasa bahwa dirinya akan benar-benar jatuh ke Lautan, karna Kak Lee sudah ada dihadapannya.
    “Allah...Allah...Allah Engkau sebaik-baiknya tempat kembali” Batin Zu sambil memejamkan matanya pasrah.
***

Cerpen Semenanjung Kowloon
Part IV
Malam sudah mulai menggantikan senja dengan iringan hujan secara perlahan. “Maaf, Zu sudah menjadi istriku sekarang, Kau tidak bisa mendekatinya lagi”. Tiba-tiba seseorang menepuk punggung Kak Lee dengan tegas. “ Apa perlu Kau! Aku ajak ke kantor pencatatan pernikahan sipil” Tegur lelaki itu lagi. “Siapa Kau! Hah!” bentak Kak Lee. “Aku suami dari Zukhruf Yosian Tan”.
    “Apa perlu aku panggil pihak keamanan karna kau menggangu istriku ?” Lelaki itu sudah menarik kerah kemeja Lee sambil mengecamnya. Lee hanya bisa diam menahan marah lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Zu langsung terduduk lemas, untuk berdiri saja dia benar-benar tidak bisa. Kini keringat dingginya sudah bercampur dengan derasnya hujan Hongkong.
    “Aku akan kembali ke Indonesia besok, semoga kau baik-baik saja disini”. Seru Zein secara tegas  sambil menatap  lautan yang mulai ramai  dengan cahaya mercusuar. “ Aku lebih baik di Hongkong, dari pada pulang ke keluarga mamah”. Jawab Zu pelan tidak kuasa menatap laki-laki yang mulai dia cintai di hadapannya.
Lelaki itu menatap sendu wajah Zu yang semakin pucat. Bibirnya bergetar mengigil tidak tertahan.  “Itu pilihanmu, Zu. Aku tidak bisa memaksa”. Lelaki itu mulai membuka pembicaraan lagi dalam kekakuan yang tidak tertahan.
“Setiaknya kau merasa nyaman dengan rasa takutmu disini, ketimbang hidup bersama suamimu sendiri”. Bisik lelaki tegas itu sambil pergi meninggalkan Zu.

***
Indonesia
Insitut Ilmu Al-Qur’an Jakarta
22 Agustus 2015

    Butiran-butiran kecil bening sudah mulai turun satu persatu dari langit, terbawa angin dari laut bagian selatan yang cukup jauh dari kota yang Zu tinggali sekarang. Kota dengan sedikit cerita yang mengubah bagian dalam kesucian hatinya. Semakin deras hujan membasahi daratan paling subur di Asia tenggara, Negara penuh kesucian yang dilewati garis khatulistiwa itu membuat Zu semakin diam tertunduk menatap kitab kecil yang ada di tangannya.
Zu sudah tidak bisa memandang langit atau melihat laut seperti di hongkong dulu. Untuk meraba kitab barunya itupun dia harus secara perlahan. “Mamah, sekarang Zu sudah ada di tempat terbaik untuk mendoakanmu dan Ayah”. Zu mulai berbisik pelan kepada dirinya sendiri. Zu akhirnya, dia memilih kembali ke negara asal Ibunya. Setelah kejadian  lima tahun lalu.
“Apakah kau masih menolak Aku sebagai Imammu Zu?”. Tiba-tiba datang suara lelaki tegas yang dulu meninggalkanya di pelabuhan. “APAKAH KAU AKAN TERUS MENGHINDAR DARIKU ZU?”. Zu kaget bukan main dengan laki-laki yang sekarang mengengam tanganya. Zu mulai menangis membasahi cadarnya, air matanya tumpah membasahi khimar hitam yang dia pakai sekarang. Zu masih terus menangis lama sekali dihadapkan laki-laki tegas yang mengenggam erat tangannya.
    Aku tau aku dulu hanya berstatus sebagai sepupumu, Aku tau!, Aku hanya saudara dari ibumu yang Kau lupakan, Aku hanya anak dari Kakak Ibumu, Aku hanya orang biasa yang terlambat memperjuangkan kesucian hati sepupunya sendiri. Maaaf, Sungguh maafkan aku.
Aku tau kau sedang belajar memantaskan diriku untukku. Aku faham kau menjauh untuk mendekatkan diri ke pada Allah, Agar Allah mengijinkan kau bisa dekat denganku. Aku tau kau masih merasa menjadi Zu yang dulu. Aku tau Zukhruf!.
Tapi sudah terlalu lama aku menjauh dan diam melihatmu berjuang sendirian. Aku sudah terlalu lama diam melihatmu memangis sampai matamu buta seperti ini. Semua ini sudah terlalu lama. Apakah kau masih mau menghindar dari suamimu ini ?
Zukhruf masih menangis sambil memegang kitab brailernya. “Aku tau kau sedang berjuang menghafal Al-Qur’an”. Sungguh, Aku ingin melindungi mu Zu sebagai istriku sekarang.
“Aku ini Imam mu, Imam yang Allah takdirkan untuk membimbingmu, menjagamu, menemanimu, dan bertanggung jawab atas dirimu”.
“Percayalah padaku Zukhruf”

The End.

Penulis : Umi Wijaya Lau
Dershane Turki
10 Agustus 2015