Azalia Lee ( Part II )

Senin, 29 Februari 2016








Sekertariat Perss HI
Universitas Indonesia   
Mengharapkan jawaban dari pertanyaan yang tidak ada.
                Sudah tiga puluh menit aku diam sambil terus memaksa otakku untuk mencari jawaban. Mengobrak-abrik semua ruang ingatan dalam otakku. Mencari dan terus mencari jawaban. Bukan jawaban karna soal ujian akhir yang tidak aku mengerti, bukan jawaban karna soal essay yang tidak bisa aku uraikan. Tapi ini semua tentang masa lalu, jawaban dari pertanyaan yang tidak ada.
                Aku benar-benar sudah melupakan masa lalu itu, menghapus semua ingatan yang selalu membuat sesak. Membakar semua lembaran ingatan yang  mengotori perasaan dan membuat mataku sembab. Tapi kenapa semua orang menuntutku untuk menjawab dan menjelaskan apa yang tidak aku fahami. Padahal aku tidak menyukai, sekuat apapun aku mencarinya. Aku tidak akan menemukan apa-apa.
                “Azalia, Kak Dave menunggumu di depan”. Ah, Kenapa tidak pernah tepat ketika Dave mau menemuiku.
                “Terimaksih Zain”. Jawabku singkat sambil berjalan malas keluar ruang keseketariatan perss jurusan. Sepertinya aku akan benar-benar menjadi mayat hidup seperti yang Dave bilang.
                “Ada Apa?”. Aku sudah bosan sekali melihat wajahnya yang tidak pernah senyum itu. Beda sekali dengan Nisa yang selalu tersenyum kepadaku.
                “Ini konsep singkat untuk kesimpulan akhir penelitianmu, segera selesaikan. Besok pagi, aku sudah harus menerima emailmu. Kalau besok belum selesai! kau akan menyesal seumur hidup.”
                Sepertinya musim hujan ini membuat perasaan dia lebih sejuk sekarang. Sedikit senyum dan sedikit bantuan membuat dia terlihat seperti manusia. Bukan makhluk sadis lagi. Yess, setidaknya konsep yang dia buatkan untuk kesimpulan akhir penelitian, bisa membuatku bahagia hari ini.
                “Terimakasih Daveee…Semoga kau segera menikah.” Aku meneriakinya, setelah dia berlalu pergi.
                Dia terlihat sekali kalau sedang berpura-pura tidak mendengar walaupun terus berjalan tanpa menengok kebelakang sama sekali, padahal lorong ini bergema. Pasti kaliamatku barusan membuat dia menahan senyumnya. Setidaknya membuat orang-orang di ruang keseketariatan tertawa bahagia. Tim Baper tingkat akhir, yang masih belum mau mengkahiri masa lajangnya. Mereka selalu bahagia mendengar candaan-candaan penikahan seperti ini.
                “Sepertinya kau sudah hidup lagi Az, gak kaya tadi. Ka Dave ngasih kamu apa?” Tanya makhluk-baper tingkat akhir yang terkadang keponya berlebihan. Sebut saja namanya Mawar.
                “Dikasih Cintanya Dave kayanya, Cinta paling damai, sedamai danau UI”. Jawab Surya ketua editor majalah fakultas yang tingkat bapernya semakin parah semenjak ditolak berkali kali oleh adik kelas.
                Tiba-tiba ruangan sekertariat sudah penuh dengan tertawa yang paling menyakitkan. Hanya aku yang tidak bisa tertawa, kalau penyebab tertawanya adalah soal cintanya Dave. Dasar makhluk-makhluk baper yang gak punya bahasan selain cinta, jomlo, cinta, jomblo lagi, cinta lagi, jomblo lagi.
                “Aku tadi meneriaku Dave sebagai ucapan terimakasih, bukan baper kaya kalian”. Jawabku tegas sambil mengusahakan tawa mereka agar segera behenti.
                “Biasanya kau tidak pernah meberikan alasan atau menjelaskan sesuatu yang tidak penting”. Celetuk salah satu staf perss senior. Saudari Dini Shireen selaku Redaktur Online paling baper.
                “Berarti Dave Azzam Kahfi penting dong buat Azalia Lee”. Sambung lagi anggota tim baper yang paling sok puitis. Kali ini ketua tim Lay Out, yang namanya harus disembunyikan. Panggil saja namanya kak Dewan.
                “Cieeeeee…Cieeeee.” Ruangan sudah tidak kondusif lagi sekarang. Siklus baper mereka semakin tinggi tidak terarah. Parah, separah rasa sakit mereka yang terlalu sering ditolak. Dan sulit untuk menyelesaikan kepada mereka kalau pembahasan ini benar-benar menyebalkan.
                Biarlah mereka tertawa bahagia melihatku yang diam seribu bahasa sekarang. Serba salah, dan tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.  Seperti inilah mereka, anak perss yang perhatianya sangat-sangat luar biasa. Apalagi soal perasaan. Mereka akan memperjuangkan perasaannya seperti perjuangan mengejar berita yang terkadang belum pasti. Memperjuangkan koresponden dalam ketidakpastian.

Kira-kira seperti itulah mereka.
***

Victoria Park 2011

Tetaplah melidungi, Walaupun dilukai, Tetaplah Melindungi
Musim semi datang sedikit terlambat di Hongkong, Tapi teratai tidak terlambat tumbuh, kuncip putih kuning keemasannya mulai menghiasi kolam-kolam di hotel yang kami tempati. Nanti malam karnaval lentera akan diselengerakan di Victoria park. Ayah selalu bercerita tentang serunya malam-malam di Victoria Park. Bukan karna disana banyak orang Indonesia, lalu Ayah bisa melatih bahasa Indonesianya yang agak kacau disana.
 Ayah bilang kepadaku dia menyukai Lentera, karna lentera tidak pernah menyembunyikan cahaya di dalamnya. Lentera itu melindungi cahaya di dalamnya. Walaupun sebenarnya cahaya bisa saja mebakar lentera yang tiba-tiba, dia akan terus melidunginya.
“Kamu harus selalu melindungi orang disekitarmu, walaupun orang-orang disekitarmu bisa saja membuatmu terbakar. Entah terbakar emosi, persaan atau apapun itu. Tetaplah melindungi Az”.
Aku memutuskan untuk datang sendiri, karna Ayah harus bekerja di kapalnya malam ini. Tapi jam delapan malam aku harus segera menyusul ke pelabuhan. Tempat ayah bekerja Victoria Harbour. Setiap jam delapan malam di Victoria Harbour ada pertunjukan symphony of the light. Pertunjukan laser warna warni dengan cahaya yang menyilaukan sampai membuat bayangan di laut Hongkong. Diiringi dengan lampu dan musik yang diikuti empat puluh empat gedung pencakar langit di kedua sisi Victoria harbor.
“Kau baru saja berumur tujuh belas tahun Az, Ikut Amak saja ke tempat Ayah”. Paksa Amak ( Read ibu dalam bahasa padang ).
“Aku  bukan di negri orang Mak, ini negri Ayahku”. Aku membatah, dan segera keluar kamar hotel meninggalkan Amak yang belum selesai bicara.
Kita kesini tidak sebentar sayang, banyak hal yang harus kita urus untuk kuliahmu disini, kita harus bertemu Ayah. Temui Ayahmu dulu, peluk dia, cium tangannya, baru kau bebas main kemana saja. Kau akan tinggal disini sampai kapanpun. Ajak Amak lagi, lalu mengambil tasku.

“Amak, Aku akan menyusul nanti jam delapan malam”. Jawabku meyakinkan.

 Perjalanan dari bandara Internasional Minangkabau tidak begitu melelahkan. Kurang lebih sekitar empat sampai lima jam untuk tiba di Bandara Internasional Hongkong. Hari Idul Fitri Ayah tidak pernah pulang, dan Amak tidak bisa pergi ke Hongkong dalam tiga tahun terakhir. Begitupun denganku, Sudah tiga tahun aku tidak bertemu Ayah langsung. Bukan berarti, aku tidak ingin segera bertemu Ayah. Tapi…

 “Segera kembali setelah melihat karnaval lentera, Ayahmu sangat merindukan putrinya”. Amak langsung mengembalikan tas ranselku, aku segera mencium keningnya, mencium tanganya, lalu berlari mengejar waktu. Aku akan segera datang setelah membeli lentera paling bagus tahun ini. Kita akan melihatnya bersama-sama di pelabuahan nanti. Tunggu aku Ayah…

***
 Konsulat Jendral RI Hongkong 2011
127-129 Leighton Road, 6-8 Keswick Street , Causeway Bay Hongkong.

Kebakaran terjadi dengan cepat disebabkan kerusakan di mesin kapal. Peyebab lainnya masih diselidiki. Semua staf kapal meninggal dalam kejadian tersebut, Empat puluh turis asing meninggal di rumah sakit akibat luka bakar yang sangat parah. Penumpang yang lain tewas di tempat di kapal masih di identifikasi identitasnya. Tepat pukul delapan malam beriringan dengan pertunjukan symphony of the light sekitar Victoria Harbour.

“Berapa banyak orang Indonesia yang selamat ?”. Tanya Konsul Jendral RI yang beberapa waktu kedepan akan aku panggil Buya. ( Buya : Ayah )

“Semuanya tewas, lima orang turis, sepuluh orang pekerja. Dan satu orang lagi ibu dari anak ini yang baru saja mengurus perpindahan kependudukan di Hongkong. Lalu orang ini mentapku dengan iba. Dan melanjutkannya pembicaraanya kembali.

“Bagaimana dengan Ayahnya ?” Tanya lagi Buya penuh kekhawatiran.

Ayahnya seorang teknisi mesin kapal dan juga ikut tewas dalam kejadian. Ayahnya masih tercatat sebagai penduduk Hongkong. Dia menatapku lagi, seperti menahan tangis. Sama sepertiku sekarang.

“Segera jemput Nisa dan Dave. Langsung ajak mereka ke ruangan saya, sampaikan Buya mereka ingin berbicara serius malam ini juga”.

Seharusnya sekarang aku bersama Ayah dan Amak di kapal melihat pertujukan symphony of the light dan kemegahan Victoria Harbour. Kenapa aku tidak ikut saja bersama meraka tadi. Kenapa aku tidak menuruti Amak. Kenapa aku harus membeli lentera ini. KENAPAA… SEMUA KENAPA TERJADI DI SAAT AKU INGIN BAHAGIA !!! Aku bereriak di dalam hati.

Aku tidak akan menangis di depan manusia. Ayah, aku sudah berjanji. Lihatlah aku tidak menangis sekarang. Tapi bolehkan aku meminta sesuatu kepadamu, karna aku sudah bisa menahan tangisku. Bawa aku pergi bersamamu sekarang juga, aku ingin bersamamu dan amak. Aku mohon…. Aku tidak ingin sendiri seperti ini.

Tiba-tiba seorang perempuan seumur Amakku masuk kedalam ruangan dengan terburu-buru. Aku sudah tidak bisa melihat wajahnya, pandanganku sangat berberkunang-kunang. Aku sekilas melihat senyuman tulusnya dan dia langsung memelukku yang masih diam menahan tangis. Dia mengusap rambutku dengan lembut, lalu berbisik pelan “Aku Amakmu sekarang, menangislah Azalia”. Dia terus memeluk erat sekali. Sampai aku merasakan semuanya menjadi gelap, bisu dan lenyap.

Bersambung.... Part III #Semogaberkesan :)

Writers : Umi Wijaya Lau

____________________________________________________

Blog : http://umiwijaya.blogspot.co.id/
Facebook : https://web.facebook.com/umi.w.lau
Instagram : https://www.instagram.com/umi_wijayalau/

Azalia Lee ( Part I )




Hongkong, Victoria Harbour 2016

                Langit Victoria yang gelap mulai menutupi senja yang belum berakhir. Hanya sedikit cahaya yang terlihat dari menara mercusuar di sisi barat dermaga. Padahal belum terlalu sore. Namun gelap sudah menyelimuti laut pekat sekali. Kilatan petirpun mulai bergantian datang meneriaki bumi. Gelombang laut seakan berbisik enggan untuk dilewati.

Kapal Feri yang aku tumpangi juga sudah terlambat dari jadwal keberangkatan. Menatap laut bukan jadi solusi yang efektif untuk menghilangkan kecemasan. Pada akhirnya aku lebih baik memilih berjalan sendirian, Mempelajari sejarah baru yang mulai aku fahami sedikit demi sedikit alurnya.

Aku mahasiswa tingkat akhir Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Berkonsentrasi dalam hubungan diplomatik Asia Timur. Beberapa hari lagi, aku akan sidang. Kakak perempuanku akan menikah. Dan jawaban harus segera aku sampaikan.

Sebenarnya tidak perlu banyak alasan untuk menjawab sesuatu. Meyakinkan pilihan untuk memilih atau menolak. Semua itu sederhana. Sangat sederhana.

Walaupun hidupku selama ini ternyata tidak sesederhana itu. Aku tetap percaya bahwa jawaban yang nanti aku berikan, adalah jawaban yang akan mampu mensederhanakan semua kerumitan yang ada. Aku sangat percaya.
***


Universitas Indonesia 2015

Dave sedang fokus memainkan gadjetnya. Mengetik beberapa kali. Lalu mencatat di buku kecil miliknya sesekali. Sepertinya dia sedang sibuk. Itu bagus karna, aku malas bertemu dia hari ini. Kakiku harus segera memutar balik arah jalan sebelum dia memanggil.

“ Azalia, kesini sebentar”.

Benar sajakan. Dave sudah langsung menatap kearahku dan memintaku untuk mendengarkannya. Sepertinya dia punya radar setinggi mercusuar di Victoria Harbour. “Ada apa?” Jawabku cuek sambil melangkah malas mendekatinya. “Kau sakit, kenapa seperti mayat berjalan?”.

Bukan Dave namanya kalau gak   menampar dalam bertanya. Makhluk yang satu ini memang selalu serius. Aku juga sama kaya dia, suka dengan keseriusan. Karna candaan, terkadang menyimpan banyak kebohongan yang berkelanjutan. “Aku malas bertemu denganmu”.

Petir seketika menyambar berbarengan dengan jawabanku. Seolah menolak jawabanku. Padahal aku menjawab pertanyaan Dave dengan jujur. Ekspresi Dave tidak berubah sama sekali setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri barusan. Sepertinya dia senang sekali menyembunyikan senyumnnya. Sama seperti menyembunyikan dirinya sendiri dalam kehidupan. It sudut pandangku.

 “Aku sedang malas tersenyum, dan aku tidak pernah bersembunyi, apalagi dari kehidupan!”. Tatapnya tajam menjawab pikiranku.

“Astaga! Apa yang kau katakan barusan?” Aku langsung mengalihkan suasana.

Dave memberikanku catatan kecil “Aku sedang tidak ingin  berbicara denganmu, segera selesaikan kesimpulan penelitian itu. Agar kita tidak beretemu lagi”. Ini cara komunikasi paling mengerikan, dia sebenarnya makhluk apa. Dia yang memanggilku, lalu mengajakku bicara lewat surat. Itupun bentuknya perintah. Ini Sadis dan menyakitkan.

Hujan, segeralah turun. Agar taman ini menjadi basah. Kampus ini menjadi lebih sejuk. Dan kesadisan makhluk disampingku ini segera berakhir. “Cepat kerjakan Azalia!”. Dave mengiramkan surat kecil lagi. “Aku akan menyelesaikannya di asrama”. Setidaknya itu jawaban yang  sopan atas perintahnya sebagai seorang asisten pembimbing.

Aku melangkah secepat mungkin, tidak ada lagi alasan untuk menunggu jawabannya. Aku rasa ini cara yang baik. Lagi pula hujan ju ga turun tepat ketika aku pergi dari taman fakultas. Dave seseorang yang penuh dengan keserius, sangat korelis, dan kadang menjadi makhluk tanpa perasaan sama sekali.

Dia adalah alumni dari jurusan yang sama denganku, yang masih menjabat sebagai ketua angkatan, ketua himpunan, ketua dakwah, Dan jabatan satu lagi, dia dipercayakan oleh dosen pembimbingku untuk menjadi. “Asisten pembimbing skripsi sekaligus pengawas penelitian”.
***

“Jika saja aku tidak punya masa lalu, Tentu saja aku tidak punya masa depan”

Awan malam benar-benar pekat. Pelabuhan sudah tertinggal amat jauh. Tidak ada hujan malam ini, tapi kilatan petir sering terlihat. Membuatku sedikit menunduk. Ayah selalu bilang, jangan pernah menutup telinga apalagi berteriak  jika kau melihat petir. “Pejamkan matamu, lalu berdoa saja Az, Kamu bukan perempuan yang dilahirkan untuk menjadi penakut”.

Aku mengenggam tangan Ayah sangat kuat. Aku tidak tau sekarang ada dimana, yang aku tau aku sedang berjalan pergi meninggalkan kota yang membuat Ayah diam dan sering menatap kosong kearah yang sangat jauh. Sudah berhari-hari kita melakukan perjalanan laut. Ayah semakin pucat dan tidak banyak bicara seperti dulu.
“Kita mau kemana ?” Tanyaku sambil terus menggenggam tangannya yang dingin. Ayah tidak langsung menjawab, dia malah mengajakku ke bagian paling atas kapal laut ini. Kaki kanan sudah sulit sekali untuk berjalan, dan kini dia mengajakku menaiki anak tangga besi yang cukup tinggi.

“Ayah, aku batalkan pertanyaanku. Ayo kita kembali ke kamar”. Ayah tidak memperdulikankku sekarang, dia terus-terusan berjalan dan memperkuat genggaman tanggannya. Perban di kaki kanannya yang tadi berwarna putih, kini menjadi merah pekat sekali. Ayah terlalu tegas dengan dirinya sendiri, dia tidak pernah mau kalah dengan apapun. Apalagi dengan rasa sakit.

Tapiii, aku tidak suka melihatnya sakit, sangat tidak suka.

 “ Ayah, kakimu sudah dipenuhi darah, Tolong berhenti aku mohon!”.

Sekarang, aku sudah menangis dan mencoba melepaskan genggamannya. Aku berteriak sekuat aku bisa, berteriak memaksa Ayah untuk berhenti. “Ayah aku tidak ingin kau mati, tolong hentikan ini semua!. Nafasku sudah sesak, bajuku sudah basah dengan tangisan. Teriakanku benar-benar tidak didengarkan.

Aku kalah dengan keteguhan langkahnya, prinsipnya, pilihannya. Aku kalah!.

“Maafkan Ayah Azalia”. Ayah melepaskan genggamannya, dia mengusap kepalaku, mengapus semua air mataku, mencium keningku, lalu memelukku sebentar. Tidak ada yang dibisikan ke telingaku, aku masih sulit mengatur nafas. Air mataku juga belum bisa berhenti. Aku berusaha memberhentinkannya, tapi aku tidak bisa. Padahal aku tau, Ayah sangat membenci tangisan.

Aku tidak ingin melalakukan hal-hal yang Ayah benci. Sungguh aku tidak ingin. Untuk pertama kalinya aku menangis di depannya sekarang. Aku  takut kehilangan Ayah. Aku Takut. Aku,, tidak ingin melihat Ayah sakit. Tuhan, aku benar-benar takut sekarang…

Ayah mundur beberapa langkah menjauhiku, sampai ke pinggir pagar pembatas atap. Laut dengan ombaknya sudah tepat dibelakang Ayah, satu langkah ayah mundur lagi ayah akan terjatuh ke laut. Aku benar-benar bingung. Nafasku semakin sesak. Tangisku semakin menjadi-jadi. Melihat Ayah yang semakin menjauh mundur.

Kaki kananya sudah tidak bisa lagi melangkah, darahnya sudah terlalu banyak. Semua perban sudah penuh dengan darah. Kenapa Ayah terus mundur menjauhiku. Aku ingin berlari memeluknya, menggenggam tangannya lagi. Aku ingin ikut kemanapun Ayah pergi. Aku tidak ingin ditinggalkan.
“Ayaaah…”. Aku berteriak lagi dan ingin segera memeluknya.

Tapi, kenapa kakiku tidak bisa melangkah sama sekali, tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Ada apa dengan ini semua, kenapa semuanya membiarkan Ayahku pergi. KENAPAAA !!!

“TUHAN, AKU MOHON JANGAN BIARKAN AYAH PERGI”.
Aku semakin sesak, sesak sekali. Rasanya tidak lagi ada nafas.

“Jangan  Ayaaaaah…. Ayaaaaahh.”

***
Dershane Akhwat UI

Aku menghela nafas panjang. Seperti malam-malam yang lalu. Mimpi Ayah jatuh ke laut berulang lagi  datang. Kenapa semua ini nyata sekali. Padahal benar-benar sesak mimpi menangis sampai terbangun.  Sudah tiga tahun lebih, Aku menjadi pengabai yang baik setelah banyak kejadian terjadi di dalam hidupku. Mimpi ini akan aku abaikan sebisaku. Aku berharap ini mimpi biasa tanpa maksud tersirat yang harus mengungkapkan banyak hal yang menyakitkan. Abaikan saja Azalia.Bisik hatiku sediri. 

Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk datang ke kampus, tapi aku tidak mau berlama-lama berlarut dalam mimpi dan kebingungan tanpa akhir. Aku harus mencari kedamaian dan keluar dari asrama. Mengabaikan semua hal yang membuatku banyak bertanya dan bingung. Setidaknya meringankan sembab mataku yang sayu ini.

Beberapa jalan utama kampus masih tertutup dengan portal. Sepertinya pintu fakultas juga masih terkunci, hanya gerbang masjid yang masih terbuka. Walaupun aku tidak tau, kenapa aku harus ke masjid. Tapi setidaknya, hanya tempat ini yang sudah terbuka dan aku nyaman jika sudah di dalamnya.

“Azalia?”. Sapa Nisa sahabat yang satu asarama denganku.

“Hai, Bagaimana acaramu  semalam”?. Aku mulai memberikannya pertanyaan yang membuatnya banyak menjelaskan, ketimbang bertanya balik. Aku tidak ingin ditanya kenapa mataku sembab lagi. Nisa sangat suka menjelaskan kegiatannnya, jadi ini adalah cara yang tepat untuk mengatur keadaan.

 Nisa adalah adik kandung Dave. Dia suka sekali berbicara, public speaking cukup bagus dalam menyampaikan banyak hal. Apalagi soal agama. Walaupun aku tidak mengerti tentang agama, aku tetap senang mendengarkan Nisa berbiacara. Sedikit membuatku tenang. Ketimbang berbicara dengan Dave abangnya yang mengerikan itu.
“Aku tidak akan menjawabmu Az!”. Nissa langsung menarikku, dan mengambil alih sepedaku.
 “Hei, Ada apa?”. Nisa tidak menjawab, dan membiarkanku bingung sesuka hatinya.

Tidak Nisa, tidak Dave mereka semuanya sama, terkadang mereka bisa menjadi makhluk yang sama-sama aneh. Selalu saja membuat bingung, dan melakukan apapun sesuka hatinya.
“Apa semalam kamu bermimpi Ayahmu lagi”. Nisa langsung menatapku .

Aku malas menatap balik, dan malas menjawab. Itu bukan masalah besar. Tidak penting juga untuk dibahas. Masih banyak pembahasan yang lebih penting untuk saat ini, seperti sidang akhirku, program S2 ke Hongkong. Atau mencari cara agar Dave memudahkan penulisan skripsiku. Agar tidak berbelit-belit seperti sekarang.

 “Azalia, aku selalu terbangun tengah malam, dan aku selalu melihatmu menangis dalam tidur tiga minggu ini.” Aku menatap nisa sebentar, “Aku terlihat baik-baik sajakan ?”.

 Nisa mengabaikan tatapanku, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, kain besar berwarna merah. “Dengarkan aku Azalia Lee”.

Aku seorang muslim. Aku memiliki tempat kembali, aku akan diminta pertanggung jawaban, aku akan dituntut Tuhan kalau terus-terusan membiarkanmu seperti ini. Kita ini saudara, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sekaligus sahabatku sejak kecelakaan maut itu terjadi. Aku, Buya dan Ummi tidak pernah memaksamu untuk mengikuti kami. Apalagi Uda Dave, dia sangat memperdulikanmu. Benar-benar memperdulikanmu. Apa kau masih tidak ingat ?

Apa kau tidak ingat apapun tentang keluargamu atau agamamu?”. Atau kau sengaja melupakannya dan membiarkan semuanya menghilang. Masa lalu yang akan membuat kau memiliki masa depan Az. Sebulan terakhir, tidurmu selalu bercampur tangisan dan teriakan “Ayah.. Ayah..”. Kenapa kau harus begitu kuat didepan kami ? Kenapa kau terus menyimpannya sendiri Az!?.

Aku mohon, dengarkan perasaanmu sekarang. Dia punya hak untuk didengarkan. Jangan sakiti dirimu seperti ini. Jika kau terus-terusan seperti ini, sama saja kau membunuh Aku, Uda Dave, Buya, Ummi secara perlahan. Dan itu benar-benar menyakitkan.


Nisa pergi dengan bersama tangisannya. Bukan kemarahan, sungguh dia tidak akan pernah marah kepadaku. Nisa pergi dengan perhatiannya yang menenangkan itu. Dia masih menahan emosinya, dia sangat pandai soal menenangkan perasaan. Padahal  ini sudah kesepuluh kalinya dia memarahiku dalam tiga minggu terakhir. Setiap kali dia menarikku dan mengajakku pergi lalu bertanya dan bertanya lagi selalu ada yang dia berikan. Kemarin dia memberikan kain besar berwana biru, tadi merah, kemarinya lagi hijau, sepuluh kali dia menangis dan bertanya kepadaku, sepuluh kali dia memberikan kain besar kepadaku.
                Kalau aku masih bermimpi dan menangis dalam mimpi terus- terusan seperti ini. Lalu Nisa melihatku lagi, pasti dia akan menarikku lagi seperti pagi ini. Lalu meberikan kain besar seperti yang dia pakai untuk menutupi kepalanya sampai setengah tubuhnya. Andai aku bisa mengatur mimpi dalam setiap malamku Nis. Aku akan memilih untuk bermimpi yang lain. Setidaknya, mimpi yang tidak membuatku menangis sampai terbangun. Dan, mimpi yang tidak membuatmu khawatir. Mimpi yang tidak membuatku bingung dan mengingat semua hal yang menyakitkan.

Bersambung...... #Part II

Writers : Umi Wijaya Lau
29 Febuari  2016

_____________________________________


Blog : http://umiwijaya.blogspot.co.id/
Facebook : https://web.facebook.com/umi.w.lau
Instagram : https://www.instagram.com/umi_wijayalau/

SEMENANJUNG KOWLOON HONGKONG

Minggu, 09 Agustus 2015

Semanjung Kowloon Agustus
Part I

Langit masih jadi pendiam sampai nanti Tuhan mengijinkannya mengatakan semua yang dia saksikan di bumi. Langit  sebenarnya sedang berpura-pura tidak melihat kelakuanmu, berpura-pura tidak mendengar pembicaraanmu. Berpura-pura tidak peduli dengan kesombonganmu. Padahal, dia sudah hampir mau meledak melihat dirimu yang sangat sombong itu. ( catatan calon imammu 2008 )

Pemakaman San Diego Hills
Karawang Jawa Barat Agustus 2008

Zu masih saja diam tanpa ekspresi di depan makam ayahnya. Benar-benar datar tanpa ekspresi sedikitpun. Dia sama sekali tidak menangis, jika ada kaca pembesar di wajahnyapun sekarang. Sungguh, satu tetes air mata rasanya tidak pernah berlinang sama sekali di wajahnya yang chines itu. 
Satu per satu kerabat ayahnya mulai pergi meninggalkan makam yang luas itu. Sedangakan Zu masih menatap kosong nisan ayahnya. Dia benar-benar sendiri sekarang. Tidak ada siapa-siapa disampingnya. Kecuali malaikat yang masih setia menunggu di sisi kira kanannya.
 Ibunya sudah meninggal ketika ia berusia 2 tahun. Menyedihkan sekali melihat hidup gadis yang satu ini. Tapi sebenarnya, dia terlalu sombong untuk dikasihani sekarang.
“Hallo, Aku lagi di pemakaman Ayah, tunggu aja di tempat main golf” Zu baru saja menjawab telfon dari senior sekolahnya. Tidak sampai sepuluh menit, Zu sudah sampai di tempat bermain golf. “Gilaaa! ini pemakaman. Fasilitasnya lengkap banget, Golf ada, kolam renang ada, Restoran ada, sering-sering aja kamu ajak aku kesini Zu”.
“Emang siapa yang mau meninggal lagi. Hah ? Ayahku cuma satu, yang mafia itu” jawab Zu ketus sambil menatap jauh bola golfnya. Walaupun sebenarnya dia sedang menatap jauh ke arah makam ayahnya.
“Sejahat inikah diriku Tuhan, Aku hambamu yang selalu memaki Ayahnya sampai akhir hayatnya kini, Ada apa dengan hatiku Tuhan!”



***
Biar saja langit masih menjadi pendiam sekarang. Setidaknya, sekarang kamu masih bisa melakukan apapun sesuai nafsumu sampai ruh yang ada di dalam tubuhmu dicabut tiba-tiba. Toh, langit gak bakal berteriak dengan gemuruh petirnya karna melihat kemaksiatan yang kau lakukan setiap waktu. ( catatan  calon imammu 2008 )

Istana Mafia Yosian Kim Tan
22 Agustus 2008
 Ayahnya seorang mafia batu berlian paling terkenal di Hongkong. Baru beberapa hari yang lalu tepat dihari kelahirannya Zu. Dia diberikan cincin berlian termahal oleh ayahnya.
“The Moussaieff Red Diamond termasuk kedalam sepuluh berlian termahal di dunia. Kamu tau Honey, walaupun dia termasuk berlian yang paling kecil tapi dia memiliki nilai paling tinggi diantara berlian yang lain” ujar ayahnya saat itu.
“Ah, sudahlah! Aku tau harga berlian ini hanya enam puluh delapan miliar saja. Jadi, kau tidak perlu membanggakan pemberiamu yang murah itu!”
Sahabat-sahabat dari Senior High School Zu hanya binggung menatap kelakuan Zu yang berlebihan itu. Walaupun mereka tau Zu memang memiliki karakter yang buruk sekali. Tapi seharusnya diacara ulang tahunnya ini dia bisa mengendalikannya.” Ah, bukan Zu namanya kalau tidak buruk sikapnya” bisik salah satu sahabat dekatnya.
    “Dia tidak murah Honey, dia kecil tapi tidak terlihat murahan sama sekali. Sungguh, ini benar-benar berlian paling mahal”. Ayahnya Zu mulai meyakinkan kembali sambil mengkondisikan pesta yang mulai tegang, karena Zu hampir saja melempar hadiah dari Ayahnya sendiri. Ayahnya terus merayu Zu agar menerima hadiahnya. Zu masih tidak peduli dengan Ayahnya sendiri, dia malah sibuk mengajak bicara Kak Lee yang dia sukai sejak lama. “Kak Lee mau minum bersamaku?”.
    Zu sudah berjalan menuju bagian taman belakang rumahnya itu dan meninggalkan Ayahnya di depan teman-temannya sendiri. Sambil terus mengandeng erat tangan kakak kelas idolanya. Zu sudah terlihat menjadi ratu pesta pada malam itu, Zu memakai gaun panjang berwarna biru yang bagian belakanya terbuka membentuk huruf V. Rambutnya panjang keriting gantung berwarna merah keunguan membuat dirinya terlihat menjadi lebih dewasa dari umurnya.Dan badanya yang tinggi semampai kini sudah menyandar kedalam pelukan Kak Lee.
Rumah Zu kini sudah di sulap sesuai permintaannya. Tamannya sudah menjadi bar yang penuh dengan botol alkohol bermerek.  Kolam renangnya sudah menjadi arena panggung diskotik high class, penari striptis sengja disiapkan untuk menjadi pusat perhatian teman-teman sekolahnya.
    Muka Ayahnya sudah merah padam menahan malu sekaligus marah terhadap Zu. Degg ! Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Tiba-tiba suara sirine mobil kepolisan seakan menggantikan musik yang sedang diputar di istana Zu malam itu. “RUMAH ANDA SUDAH DIKEPUNG! SEGERA MENYERAHKAN DIRI BPK. YOSI” . Semua teman-teman Zu berteriak, berlari kesana-kesini tanpa bisa mengendalikan diri. Mereka berada dalam pengaruh alkohol dan obat yang benar-benar parah. Belum lagi sahabat-sahabat dekat Zu yang sedang asik berpacaran di dalam kamar tidur yang sengaja Zu sediakan untuk sahabat-sahabatnya itu. Mereka panik bukan main dengan keadaan yang benar-bena memalukan. Ah, Apalagi selain seks bebas. Itu sudah menjadi hal yang biasa saja bagi mereka.

***
    Dentuman peluru saling bersahutan di dalam rumah Zu. Darah sudah tumpah dimana-mana. Beberapa teman sekolah Zu tewas di tempat. Mereka anak-anak mafia yang memang memiliki senjata api sempat melawan beberpa kali, namun akhirnya tewas. Mereka yang memang memiliki peran penting dalam pengedaran narkotika internasional. Sebenanya Zu tau, teman-temannya ini sudah menjadi incaran keamanan internasional sejak lama. Dia tetap sengaja mengadakan pesta besar dan memaksa Ayahnya untuk mengundang semua rekan mafianya.
    Ayahnya menolak habis-habisan. Tapi akhirnya dia mengalah untuk putri kesayangannya. Dia juga sengaja mengundang teman-temanya yang sudah menjadi agen pemasaran narkotika internasional Asia. “Kau, mau mancing polisi! Hah?” Kurang lebih seperti itulah respon temannya. “Sudahlah, Ayahku akan mengirim keamanan mafia terbaik dari Hongkong, jadi kau tidak perlu khawatir”. Jawab Zu simpel.
    Zu sudah merencanakan semuanya, dia ingin menyelesaikan semuanya. Dia sudah bosan dengan kekhawatiran yang selalu menghantuinya. Dia sudah kesal melihat Ayahnya dikejar-kejar intel negara. Dia sudah malas dengan kecemburuan sahabat-sahabatnya sendiri. Dan dia sudah benar-benar muak dengan teman-temannya yang selalu memanfaatkan kekayaanya.
    “Awaaaaaaaass Zu, Teriak Ayah Zu sambil memeluk putrinya dari belakang. Wussh, Ayah Zu tertembak tepat dijantungnya sambil memeluk Zu. Ayah Zu sudah jatung ke lantai bersimbah darah, ditangannya masih tergenggam berlian nuntuk putrinya itu. Zu tidak berteriak sama sekali, dia masih diam mematung. Sebenarnya keinginanya tidak seperti ini. Benar-benar tidak seperti ini. “Seburuk-buruknya diriku, Aku tidak berniat menjebak Ayahku sendiri, Apalagi sampai membunuhnya”


***

Cerpen Semenanjung Kowloon
Part II
“Sejauh apapun kamu berlari dari kesaksian langit, dia akan terus menyaksikanmu”
Hongkong, China Selatan

    Zu sedang berada di semenajung Kowloon,salah satu bagian daerah paling menawan dari Kota Hongkong. Semenanjung kecil yang palin terkenal di Asia dengan kemewahan gedung-gedung tinggi di pinggir lautnya. Semenanjung Kowloon memiliki pelabuhan terkenal yang menyimpan banyak sejarah. Pelabuhan Victoria, terlihat sekali dari namanya bahwa kota ini dulu adalah jajahan Inggris.
Victoria dulu selalu menjadi tempat yang Zu ingin kunjungi, Zu selalu menunggu hari jum’at untuk meminta Ayahnya untuk pergi ke pelabuhan. “Aku hanya ingin matahari tenggelam saja, sudah itu saja!”. Sebenarnya Zu adalah anak yang baik, tidak hedonis walaupun Ayahnya memiliki harta yang gak akan habis dimakan sepuluh generasi.
    Bukit itu masih berdiri tegap sama seperti dulu, gradasi warna biru tua dengan senja sore berpadu menjadi lukisan yang selalu membuat rindu. Secara jelas menggambarkan bahwa malam akan segera datang, menyisahkan matahari yang lama-lama terus tenggelam lalu menghilang. Benar-benar menjadi backround alam yang membuat Zu sulit meninggalkan pelabuhan. “Andai Mama masih disini, pasti dirimu akan menangis darah melihat diriku yang rusak seperti ini”. Batin Zu sambil melihat bayangannya sendiri.
Bangunan-bangunan pecakar langit berbaris rapi berhadapan langsung dengan laut. Setiap tahun pembangunan gedung-gedung di Hongkong semakin tinggi. Tingkat kriminalpun tidak kalah tingginya. Ibu Zu meninggal karna menyelematkan Zu dari penyerangan kelompok mafia judi di Macau. Dulu Ibu Zu memang sengaja untuk bisa berjalan berdua saja tanpa pengawalan dari bawahan Ayah Zu. Hal itu menjadi kesempatan untuk musuh-musuh mafia judi yang lahanya di ambil Ayah Zu untuk judi berlian balas dendam.
Pertikaian terjadi di Central Macau saat itu. Ibu Zu yang bukan berasal dari bangsa Tionghoa dan terkenal sebagai istri dari mafia berlian, menjadi incaran para mafia untuk balas dendang kepada Ayah Zu yang mengambil lahan judinya. “Tidaaak usah menangis Honey,, Mama akan terus memelukmu”. Tetapi Zu tetap saja menangis melihat ibunya dipukuli oleh banyak orang, baju ibu Zu sudah koyak tidak kelihatan bentuknya. Darah segar sudah mengalir dari kepala ibu Zu yang ditusukan besi tajam. Punggung Ibu Zu sudah robek dengan garetan-garetan pisau yang tidak terhitung  jumlahnya. Ibu Zu masih memeluk putri kecil saat itu, Zu yang masih kecil saat itu hanya bisa menangis dalam pelukan ibunya yang mulai melemah. Ibu Zu masih menahan tangisnya sambil berbisik kecil ke telinga Zu “Allah.... Allah.... Allah... Engkau sebaik-baiknya tempat kembali”.
Ibu Zu tewas tepat ketika pengawal Ayah Zu datang bergelombolan menembaki mafia judi yang tidak menyerang istri dari tuan mereka. Zu masih menangis bingung, dia benar-benar tidak tau dengan kejadian yang terjadi. Dia tidak tau kalau Ibunya sudah tewas, dia tidak tau kalau sekarang dia sendirian tanpa ibunya. Dia benar-benar tidak tau apa-apa. Zu segera di gendong kedalam pelukan Ayahnya. Ayah Zu menangis sambil memeluk putrinya dan istrinya yang sudah bersimbah darah tidak bernyawa.
   
    ***
Oh, andai saja kamu mengerti kalau hujan itu sebagai tanda. Bahwa langit sedang menangis merindu menatap kesucian hatimu yang mulai terkagum haru.. ( imammu 2010 )

Semenanjung Kowloon 22 Agustus 1994
Untuk anakku, ZUKHRUF YOSIAN KIM TAN

    Honey, Aku tidak tau akan apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita nanti. Aku menulis ini sebagai rasa syukurku atas kelahiranmu sekarang. Allah menitipakanmu sebagai anugrah besar yang tidak ternilai sama sekali. Sekecil apapun fisikmu yang baru berumur sekian jam kini, aku tetap bersyukur bahwa nilaimu benar-benar tinggi, nilaimu sebagai putriku, nilaimu sebabai pejuang doaku nanti, nilaimu.... yang benar-benar tidak ternilai.
    Honey, seburuk apapun dirimu nanti, Ayahmu nanti, atau hidupmu nanti. Mamah mohon ,tidak perlu kau menambah perburuk hatimu karna kekecewaanmu terhadap Allah. “Kau mulai mengeluh kepada-Nya, tapi kau tidak boleh mengeluhkan-Nya”.
    “Bisa kamu memberikan surat ini kepada suami Zu nanti, Aku tidak yakin bisa memberikan surat ini nanti kepada Zu. Terimakasih Kakak sudah menemani kelahiran ku, sampai harus datang ke Hongkong!. Padahal, Aku tau Kau sibuk di Jakarta”.
    “Simpan saja surat itu sendiri Fathia, Aku hanya kasihan kepadamu. Ingat! Aku bukan Kakak kandungmu lagi, Kau lebih memilih suami Chinamu itu kan!. Bentak kakak Fathia sambil melemparkan surat kecil tadi. “Kau sudah menghancurkan kepercayan orang tuamu, keluargamu bahkan agamamu Fath!”.
    “Aku masih seorang muslim Kak, percayalah padaku. Aku tau, Aku salah memilih, Aku tau aku melanggar syariatku, Lagian Yosi berjanji masuk islam setelah Zukhruf berusia remaja”. Seru Fathia Ibu Zu sambil terus meyakinkan Kakaknya sendiri. “Kau itu hanya dibodohi Fathia, Seharusnya Kau sadar. Dia itu seorang mafia, Kau tau itu membahayakan dirimu dan Zukhruf.”
    “KALAU KAU MASIH MAU HIDUP DI NEGARA MAFIA INI. SILAKAN!” teriak perempuan itu dengan tegas. Sambil merapikan tasnya dan bersiap melangkah keluar dari kamar persalinan. “Kak Farihah,, Aku mohon..” panggil Fathihah sambil mengenggam tangan  Kak Farihah dan mencoba menahan langkah Kakaknya. “Aku titipkan cinta Zukhruf kepadamu, Aku tidak tau bisa bertahan hidup sampai kapan di Hongkong. Aku tau aku yang salah, tapi ini sudah jalanku. Aku akan bertanggung jawab Kak!. Tapi aku mohon, tolong jaga Zukhruf dari jauh, lihat dia terus dari jauh, biarkan dia tetap bersama Ayahnya. Tapi, aku mohon jaga dia.
    “Jika dia mulai menyukai seseorang biarkan saja dia, jika dia mulai keterlaluan bergaul biarkan saja dia. Tapi jika dia sudah terlalu hidup dalam kesedihan, tolong dekati dia. Yosi akan menjadi Ayah yang baik untuk Zukhruf, dia akan memberikan apapun untuk Zukhruf, karna sebentar lagi Yosi akan menjadi Mafia Berlian yang paling disegani di Hongkong”.
    Farihah hanya bisa menghela nafas sambil menatap adiknya itu. “Betapa bodohnya Kau Fathia”. Umpat Farihah dalam hati. “Suratnya aku ambil, Ini pertemuan terakhir kita sebagai saudara, jika nanti kita bertemu di negara manapun. Anggap saja kita tidak saling mengenal. Kau, bukan adikku lagi”.
    Farihah sudah menggenggam surat kecil itu sambil menahan tangis. Dia pergi meninggalkan ruangan persalinan tanpa mau menatap lagi adiknya. Farihah sempat berbalik badan sebentar, menatap Zukhruf kecil yang masih digendong Fathia Ibunya. “Semoga Allah mengijinkan kau bermuara dalam cinta terbaik milik-Nya”. Bisik Farihah dari jauh, lalu berlari meninggalkan ruangan.
***

Jakarta, 06 Maret 2008
Markas Besar BIN Republik  Indonesia
   
    Zu terlihat berlari terburu-buru turun dari mobil Lamborghini Veneno terbarunya. Tanpa pengawalan dari siapapun. Masih  dengan seragam sekolahnya dia keluar mobil dengan rokoknya yang sudah hampir habis, sambil menghisap rokoknya terus masuk ke dalam markas itu.
    Zu sudah membuang rokoknya di kamar mandi, dan segera mengganti baju seragam sekolahnys. Zu hanya mengenakan rok hitam selutut dan kemeja putih yang membentuk badanya yang idealnya itu,  berbalut blezer hitam. Sengaja Zu membuka dua kancing kemeja atasnya, agar terlihat lebih menarik  menurut Zu.
 Dia segera menyapa semua orang di dalam markas besar intel itu dengan senyuman manisnya. Para intel muda disana hanya bisa diam membisu mentatap kecantikan Zu yang  mirip mulai meracuni otak mereka. Zu yang memang mirip sekali dengan Vicky Zhao Wei artis china yang manis itu. Siapa yang tidak mengenal kecantikan Vicky Zhao Wei dalam drama sejarah kekaisaran Huan-Zhu.
Semua orang di dalam markaz tau bahwa Zu, gadis chines itu adalah pacar atasan mereka. Jadi tidak ada satu orangpun yang berani mendekati Zu, walaupun sekedar mengajak berbicara.  “Ah, Zu. Berlian pun kalah mahal denganmu” bisik salah satu intel muda si markaz itu.
Mereka sangat sulit mengetahui identitas Zu yang sebenarnya. Zu yang memang sudah akrab dengan markaz itu dari dua tahun lalu dan selalu menjadi trending topic dalam obrolan intel-intel muda di markaz.
 Secerdas apapun intel muda yang berda di dalam markaz BIN. Mereka hanya tau bahwa identitas Zu sebagai pacar dari pimpinan mereka sekarang. “Zein Farihah Wijaya” Pimpinan intel termuda itu, adalah lulusan terbaik sekolah intelejen negara. Karakternya benar-benar tegas. Di umur dua puluh tahun dia sudah menjadi penghafal Al-Qur’an sekaligus pimpinan intel milik negara.

Zu     : Sekarang Kau sebagai pimpinan tertinggi dalam Badan Intelejen Negara ( BIN ), padahal umurmu masih sangat muda.
Zein     : Allah yang menitipkan amanatnya, maka aku berusaha melaksanakan sebaik yang  aku bisa. Lagi pula ini memang harapan ibuku.
Zu     : Dulu aku berniat masuk sekolah intelejen sepertimu, tapi Ayahku marah mendengar anaknya mau menjadi intel.
Zein     : Kenapa, harus marah?
Zu     : Tidak perlu kau bertanya Zain, Kau tau sendiri Ayahku adalah seorang mafia.
Zein     : Kau, seharusnya bisa mengambil pilihan yang tepat.
Zu    : Ini adalah pilihanmu, semua rencanakupun itu adalah rencanamu.
Zein    : Ini permintaann ibuku, dan Aku menyangupinya.
Zu    : Apa ibumu sayang kepadamu ?
Zein    : Dia sayang kepadamu dan kepadaku. Kalau bukan karnmu, Ibuku tidak akan memaksakan kehendaknya kepadaku untuk menjadi Intel. Kau tau, aku hanya ingin menjadi ahli agama, bukan ahli intel. Kau tau, aku hanya menyukai wanita muslimah yang menutup auratnya dengan rapi dan bisa membaca Al-Qur’an dengan baik.
Zu     : Aku tau, lalu masalahnya apa denganku ?
Zein     : Ibuku memintaku segera menikahimu, karna dia sudah khawatir sekali dengan hidupmu yang semakin bebas itu.
Zu    : Aku baik-baik saja dengan hidupku dan Ayahku. Walaupun Aku juga sudah lelah dengan kelakuan Ayahku sendiri.
Zein    : Ayahmu itu mafia paling dicari, kau seharusnya bekerjasama denganku untuk menyelesaikan kasus ini.
Zu    : Aku sudah membaca surat kecil dari ibuku yang dititipkan kepada ibumu. Aku tidak berniat bekerja sama denganmu. Aku akan berkencan dengan Kak Lee malam ini. Besok ulang tahunku, datanglah ajak tim intelmu untuk menghancurkan Ayahku. Jika kau berhasil, Aku akan menikah denganmu. Itu janjiku.
   
        Langit menjadi saksi pembicaraan mereka, dalam hitungan detik setelah Zu meninggalkan Zein di kantornya. Zein langsung mengatur rencana penyerangan kerumah Zu yang sebenarnya sepupunya itu. Zein hanya bisa berteriak di dalam hati mencaci dirinya sendiri. Karna belum bisa menerima dengan ikhlas ketentuan jalan hidupnya sekarang.

***
Cerpen Semenanjung Kowloon
PART III
    Farihah selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk putranya. Zein, namun setiap hari hidupnya tidak tenang dengan bayangan wajah adiknya fathia. Dia tau fathia akhirnya tewas menjadi korban di Hongkong. Dia juga tau Zu dan ayahnya hidup dalam bayangan ketakutan. Karna kasus pencurian berlian di dunia internasional sedang diurus semakin detail.
“Nak, apakah kau mau membantu ibumu?” Tanya farihah kepada Zein yang sedang membaca kitab tafsir tematik Risalah Nur yang berbahasa Turki. “Apa yang Aku bisa bantu Ummi?” jawab Zein.
“Nak jika nanti kamu menyukai seorang perempuan, tidak apa bila Ummi tidak tau, Karena mungkin kamu malu mengatakannya. Ibu hanya berpesan agar kamu tidak sembarangan mengutarakan perasaanmu kepadanya.Kalau kamu mau mengutarakannya maka kamu wajib mengabarkannya dahulu kepada Ummi dan Abi. Karena perkara itu bukan main-main.
Bila kamu belum cukup kuasa mengatakannya, Maka jagalah dia dengan kamu menjaga perasaanmu sendiri. Jangan sekali-kali kamu menyebut namanya sembarangan. Itu bisa menjatuhkan kehormatanya yang seharusnya kau lindungi. Kalau kamu mau diam, tapi tetaplah bergerak. Mudahkanlah urusannya dalam diam, tidak usah tampil sebagai pahlawan yang seolah-olah selalu ada ketika ia butuhkan. Sembunyilah di tempat yang aman, tapi kamu tetap terjaga untuk membuatnya aman.
Mudahkanlah urusannya, bantulah dia secara diam-diam. Buatlah dia bahagia diam-diam. Doakan dia secara ahsan... Kamu tau Zein, siapa yang Ummi maksud ?
Zein hampir menangis mendengar perkataan ibunya, dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia tau semua hal tentang keluarga ibunya termasuk Fathia, adik dari ibunya sendiri. Dan dia faham betul bahwa Zukhruf adalah wanita yang ibunya maksud. Wanita china yang dulu menjadi alasan ibunya untuk membuat Zein menjadi intel. Wanita china yang sempat meracuni hati dan otaknya selama dua tahun terakhir. Bagaimana tidak, Zein sangat menyukai Zu sebagai laki-laki yang normal. Namun Zu bukan kriteria istri shalihah yang Zein harapkan.
“Doakan dia secara ahsan Zein...” Kalimat itu kini terngiang-ngiang di otak Zein. Malam ini dia akan menyelesaikan kasus pencurian berlian yang dilakukan ayahnya Zu. “Ketika kasus ini selesai Aku akan menikahi Zukhruf InsyAllah” Zein akhirnya mengetakan hal itu kepada ibunya.
“Ibu tau kau masih terpaksa Zein, Sesunggunya Ketidaksempurnaan itu terletak pada ketidaksempurnaanya. Kamu tau, Zukhruf adalah perhiasan Allah yang harus dijaga. Dia memang sedang direbutkan oleh banyak pihak sekarang. Dan dia sudah terlalu sering merusak dirinya sendiri. Tapi dia dalam keadaan ketakutan Zein, wajar dia melakukan semua itu. Dan dalam ketakutan itu, Kau adalah saudaranya yang paling dekat. Kau harus membantunya Zein...” Farihah sudah menangis di hadapan anaknya sekarang.

***
Lee mengejar Zu sampai ke Hongkong. Zein semakin khawatir. Rasanya dia benar-benar ingin segera menikah Zukhruf untuk melindunginya. Dia tau Lee bukan lelekai yang baik. Walaupun Zein merasa bersalah karena dalam penyerangan waktu itu. Banyak korban yang tewas termasuk Ayah Zu. Itu yang paling disesali Zein. Zein sadar bahwa Zu benar-benar marah dengan dirinya.
Zu memang tidak terlihat menagis dengan tewasnya Ayahnya sendiri. Tapi Zein mengerti bahwa Zu benar-benar merasa kesepian, dan akan melempiaskannya kepada pacarnya yang brengsek itu. Lee cowok yang sukai Zu sejak lama sekaligus anak dari mafia judi di Singapur.
Lee mengajak Zu tinggal di singapur selama beberapa bulan setelah kematian Ayahnya. Zein hanya bisa mengawasi mereka dari jauh. Zein tidak melepaskan Zu begitu saja. Dia tetap mengingat pesan ibunya untuk menjaga Zu secara diam-diam. Menyelsaikannya secara diam-diam. Tanpa perlu hadir sebagai pahlawan.
Di akhir musim hujan Zein mendapat kabar bahwa Zukhruf gadis yang sekarang mulai dia rindukan. Akan dijual oleh Lee, Karena Lee terikat hutang yang cukup banyak, sedangkan lahan uangnya yakni Zu sudah mulai miskin.
“LEE AKAN KUBUNUH KAU, SEKALI SAJA KAU MELUKAI ZUKHRUF” ancam Zein sambil mengatur rencana untuk mengambil Zu dari Lee yang jahat itu. Zein mengirimkan tiket penerbangan ke Hongkong sekaligus pengawalan intel Singapur untuk mengantarnya  Zu ke Hongkong.
“Rekaman apa ini” Tanya Zu kepada dirinya sendiri sambil membuka rekaman itu dari emailnya. Zu kaget bukan main melihat rekaman itu, dia melihat Lee melakukan transaksi untuk menjual dirinya kepada seseorang.  Lee laki-laki yang selama ini dia harapkan, laki-laki yang sudah dia berikan segalanya. Kini malah mau menjualnya karena hutang. Zu benar-benar marah, Takut menjadi satu. Lalu dia segera mengecek email berikutnya. Ternyata itu konfirmasikeberangkatan dari tiket pesawat yang dikirmkan Zein.
***
Zein pun langsung berangkat ke Hongkong bersama ibunya. Dan menyiapkan segala keperluan pernikahan disana. Zukhruf yang tidak tau apa-apa langsung di jemput di bandara internasional Hongkong. “Saya terima nikahnya Zukhruf Yosian Kim Tan bin Yosian Kim Tan”.
Pernikahan sudah selesai disalah satu masjid dekat New Kowloon. “Aku sudah menepati janjiku, terimakasih sudah membantuku Zein. Sekarang ijinkan aku bebas kemana saja”. Farihah ibu Zein kaget bukan main mendengar perkataan Zukhruf yang sekarang menjadi menantunya.
“Aku sudah mengikuti banyak mau muZein, Ketika dulu kau suruh aku bersyahadat, aku bersyahadat. Ketika Kau mengajak bekerja sama, aku juga membantumu bahkan sampai Ayahku tewas melindungku!”
“Aku sebenarnya ingin tinggal disini, sore ini ijinkan aku pergi sendirian ke pelabuhan Victoria. Setelah senja jemput aku, kalau kau masih mau menunggu keputusanku sebagai istrimu”. “Bolehkan aku memelukmu lagi seperti dulu” Tiba-tiba Kak Lee sudah ada di belakang Zu yang masih menatap matahari tenggelam di pelabuhan. Tanpa menunggu jawaban Zu, Kak Lee langsung memeluk Zu, sontak Zu langsung melepaskan pelukannya “ Ada apa Honey ?” Tanya Kak Lee kaget.
“Aku bukan Zu yang dulu Kak!” Jawab Zu sambil mundur menjauh. “ Aku bukan Zu yang bisa di peluk atau di cium seperti dulu Kak”. Zu terus mundur perlahan menjauhi Kak Lee. “Sebenarnya kamu kenapa Honey, Aku akan menikahimu nanti, jadi apa masalahnya?”.
    Angin pelabuhan semakin lama, semakin menusuk tulang, membuat sendi-sendi tubuh tersa lebih tegang. Degup jantung Zu semakin cepat. Dia semakin takut dengan hal yang akan terjadi beberapa saat lagi, Sungguh Zu benar-bena
    “Zu, kenapa kau semakin menjauh. Aku sudah mengejarmu sampai ke Hongkong. Dan kau menolakku?” Kak Lee terus mendekaati Zu yang sudah mendekati batas tiang dermaga, kalau Zu mundur lagi dia akan terjatuh ke Laut. “Aku mohon jangan mendekat Kak! Aku bukan Zu yang dulu”. Zu sudah hampir menagis karna benar-benar takut dengan hal yang akan dilakukan Kak Lee ketika mendekatinya.
    “Aku tau, kamu bukan Zu yang kaya raya seperti dulu.  Aku hanya ingin dirimu saja Zu seperti dulu, kamu faham kan?”. Zu sudah hampir menangis, badanya sudah lemas. Kakinya sudah bergetar sekali saking takutnya.”Aku tau, tapi aku tidak akan melakukannya denganmu!”. Jawab Zu dengan suara bergetar. “Hah ? Mau Aku bayar berapa kau! untuk pelacur seperti dulu!”. Bentak Kak Lee tiba-tiba dengan suara kasarnya.
    Air mata Zu sudah tumpah membasahi pipinya, ini pertama kalinya Zu menangis dalam sepuluh tahun terakhir. Zu gadis yang dulu keras sekali hati dan prilakunya, kini menangis ketakutan. Dalam sepuluh tahun terakhir Zu tidak pernah takut dengan apapun. Dan kini dirinya benar-benar ketakutan. Dirinya kini benar-benar kecil sekecil berlian yang dulu Ayahnya hadiahkan. Tapi Zu merasa menjadi kecil tanpa nilai, “Aku sudah terlalu buruk Kak, Aku tidak ingin memperburuknya lagi!”. Kini Zu merasa bahwa dirinya akan benar-benar jatuh ke Lautan, karna Kak Lee sudah ada dihadapannya.
    “Allah...Allah...Allah Engkau sebaik-baiknya tempat kembali” Batin Zu sambil memejamkan matanya pasrah.
***

Cerpen Semenanjung Kowloon
Part IV
Malam sudah mulai menggantikan senja dengan iringan hujan secara perlahan. “Maaf, Zu sudah menjadi istriku sekarang, Kau tidak bisa mendekatinya lagi”. Tiba-tiba seseorang menepuk punggung Kak Lee dengan tegas. “ Apa perlu Kau! Aku ajak ke kantor pencatatan pernikahan sipil” Tegur lelaki itu lagi. “Siapa Kau! Hah!” bentak Kak Lee. “Aku suami dari Zukhruf Yosian Tan”.
    “Apa perlu aku panggil pihak keamanan karna kau menggangu istriku ?” Lelaki itu sudah menarik kerah kemeja Lee sambil mengecamnya. Lee hanya bisa diam menahan marah lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Zu langsung terduduk lemas, untuk berdiri saja dia benar-benar tidak bisa. Kini keringat dingginya sudah bercampur dengan derasnya hujan Hongkong.
    “Aku akan kembali ke Indonesia besok, semoga kau baik-baik saja disini”. Seru Zein secara tegas  sambil menatap  lautan yang mulai ramai  dengan cahaya mercusuar. “ Aku lebih baik di Hongkong, dari pada pulang ke keluarga mamah”. Jawab Zu pelan tidak kuasa menatap laki-laki yang mulai dia cintai di hadapannya.
Lelaki itu menatap sendu wajah Zu yang semakin pucat. Bibirnya bergetar mengigil tidak tertahan.  “Itu pilihanmu, Zu. Aku tidak bisa memaksa”. Lelaki itu mulai membuka pembicaraan lagi dalam kekakuan yang tidak tertahan.
“Setiaknya kau merasa nyaman dengan rasa takutmu disini, ketimbang hidup bersama suamimu sendiri”. Bisik lelaki tegas itu sambil pergi meninggalkan Zu.

***
Indonesia
Insitut Ilmu Al-Qur’an Jakarta
22 Agustus 2015

    Butiran-butiran kecil bening sudah mulai turun satu persatu dari langit, terbawa angin dari laut bagian selatan yang cukup jauh dari kota yang Zu tinggali sekarang. Kota dengan sedikit cerita yang mengubah bagian dalam kesucian hatinya. Semakin deras hujan membasahi daratan paling subur di Asia tenggara, Negara penuh kesucian yang dilewati garis khatulistiwa itu membuat Zu semakin diam tertunduk menatap kitab kecil yang ada di tangannya.
Zu sudah tidak bisa memandang langit atau melihat laut seperti di hongkong dulu. Untuk meraba kitab barunya itupun dia harus secara perlahan. “Mamah, sekarang Zu sudah ada di tempat terbaik untuk mendoakanmu dan Ayah”. Zu mulai berbisik pelan kepada dirinya sendiri. Zu akhirnya, dia memilih kembali ke negara asal Ibunya. Setelah kejadian  lima tahun lalu.
“Apakah kau masih menolak Aku sebagai Imammu Zu?”. Tiba-tiba datang suara lelaki tegas yang dulu meninggalkanya di pelabuhan. “APAKAH KAU AKAN TERUS MENGHINDAR DARIKU ZU?”. Zu kaget bukan main dengan laki-laki yang sekarang mengengam tanganya. Zu mulai menangis membasahi cadarnya, air matanya tumpah membasahi khimar hitam yang dia pakai sekarang. Zu masih terus menangis lama sekali dihadapkan laki-laki tegas yang mengenggam erat tangannya.
    Aku tau aku dulu hanya berstatus sebagai sepupumu, Aku tau!, Aku hanya saudara dari ibumu yang Kau lupakan, Aku hanya anak dari Kakak Ibumu, Aku hanya orang biasa yang terlambat memperjuangkan kesucian hati sepupunya sendiri. Maaaf, Sungguh maafkan aku.
Aku tau kau sedang belajar memantaskan diriku untukku. Aku faham kau menjauh untuk mendekatkan diri ke pada Allah, Agar Allah mengijinkan kau bisa dekat denganku. Aku tau kau masih merasa menjadi Zu yang dulu. Aku tau Zukhruf!.
Tapi sudah terlalu lama aku menjauh dan diam melihatmu berjuang sendirian. Aku sudah terlalu lama diam melihatmu memangis sampai matamu buta seperti ini. Semua ini sudah terlalu lama. Apakah kau masih mau menghindar dari suamimu ini ?
Zukhruf masih menangis sambil memegang kitab brailernya. “Aku tau kau sedang berjuang menghafal Al-Qur’an”. Sungguh, Aku ingin melindungi mu Zu sebagai istriku sekarang.
“Aku ini Imam mu, Imam yang Allah takdirkan untuk membimbingmu, menjagamu, menemanimu, dan bertanggung jawab atas dirimu”.
“Percayalah padaku Zukhruf”

The End.

Penulis : Umi Wijaya Lau
Dershane Turki
10 Agustus 2015

My Syariat Is My Style II

Selasa, 09 Juni 2015



“Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu, Mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya”
            Sekarang aku udah jadi anak kampus nih. Bukan lagi anak aliyah yang ketika UN pake acara telat (masa lalu biarlah masa lalu :D )#sambilnyanyi. Aku Fara Azali sudah hidup sekitar 20 tahun di belahan bumi yang dilewati garis katulistiwa bernama Indonesia. Kampusku terletak di  selatan Jakarta bukan Jakarta selatan. Aku punya seorang abang yang memiliki jabatan duniawi cukup tinggi di kampusnya. Entahlah kalau jabatan ukhrawi,  Namanya Syafril Fatih Presiden psikologi UI. Aktifis Dakwah, Hafidz, Vocalis Nasyid Nafs Voice. Ini bukan promosi loh! Cuma lagi cuci gudang aja. Hahaha #Edisi Terbatas
            Jaamiatul Ulumul Qur’an Jakarta merupakan kampus khusus untuk kaum paling manis di dunia bernama wanita. Disini gak ada kaum so cool yang kadang bikin PHP sampai gak berujung. Ciee yang sering di PHPin kayanya lagi senyum-senyum sendiri nih. Hahahha, Sebatas Informasi aja gak ada satupun kaum itu di kelas ataupun di loby kampus kami #dijamin, kecuali pak satpam sama dosen ushul fiqih. Hahahhaha
            Di loby kampus tinggal beberapa mahasiswi tarbiyah yang belum pulang. Seertinya masih asik menunggu, padahal kalo aku mah lebih baik ditunggu dari pada menunggu #Cieeee  #SoSweaaat :D . Kampus kecil nan manis ini, sama seperti mahasiwanya yang manis-manis. Apalagi mahasiswa tarbiyah :D ! Kita selalu menunggu dan ditunggu bis jemputan dari asrama. Saking setianya sama bis yang satu ini, belom sampai depan gerbang kampus, biasanya kita udah lari-lari hampir ke pertengahan jalan. Enggak separah akang begal sih, tapi cukup kelihatan sadis buat mahasiswa manis-manis kayak kita ini. Hahaha, bayangin aja pakai gamis, bawa buku-buku tebel, lari-lari ke jalanan terus berebut masuk bis yang belum parkir !!! #Exstrim kan !
            Udah sore, cukup mendung tapi belum hujan. Semoga hujan cepat turun, biar dia gak jadi datang. Hujan cepatlah turun, biar nanti aku kehujanan sendiri. Aku lebih baik kehujanan sendirian dari pada harus kehujanan berdua. Lebih baik sendirian pokoknya ! Gak mau berdua.
            “Far kamu  mau pulang kedepok, gak mau ikut ke asrama aja ?” Tanya mba Ana ketua kelasku yang lagi sibuk dengan kedatangan saudaranya dari korea. “Enggak mba, Abi sama ummi sekarang tinggal di depok nemenin bang Syafril yang masih jomblo padahal udah wisuda setahun yang lalu”.
            “Hahhhaa,Yowis aku muleh yo Far! Hati-hati kampus udah sepi”.
            “Iya mba, masih ada orang mau ditemui nih” Jawabku sambil mengantarnya ke gerbang depan. “Hati-Hati yo mba, kalo ada apa-apa sebut aja nama fara tiga kali dijamin nambah galau”. Dia hanya membalas dengan senyum khas koreanya itu.
***
            Sudah hampir satu jam aku diloby kampus. Sekarang sudah jam enam sore dan hujan sudah cukup turun cukup deras sekarang. Ini sudah kesekian kalinya dia terlambat. Sudah dari jaman Aliayah dulu, dia sering telat dari waktu janjian yang ia buat. Entah itu rapat osis, rapat rohis, atau rapat kelas. Telaatt teruus ! Semoga aja untuk rapat pernikahannya nanti dia gak telat. Hahahha
            Adzan dari masjid Fathullah juga sudah berkumndang. Ah, Ciputat memang daerah kecil penuh cerita, yang selalu membuat sendu kalau hujan. Aku langsung berlari dari kampus, aku gak suka payung jadi sengaja gak bawa payung. Biarlah hujan membasahi tubuhku, asalkan jangan air matamu yang membasahi hidupku. #Lebay ah.
            Halte kampus tetangga sudah penuh dengan orang-orang yang berteduh. Aku sekilas melihat ke arah halte berharap dia juga ada disana. Kenapa juga aku harus berharap sama manusia sih ! “Aku sudah sering merasakan berbagai macam kepahitan di dunia, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”(Ali Bin Abi Thaib).
            Aku langsung ingat perkataan sahabat rasul yang terkenal dengan kecerdasannya itu. Astagfiruallah, maafkan Fara ya Rabb. Masjid Fatuallah sudah mulai mengumandangkan iqamah, aku harus segera berlari untuk mendapatkan jamaah.
            Bruukk !!! “Uh, sakit sekali kakiku”. Mau langsung bangun rasanya, tapi kakiku sepertinya kaku seketika. Buku-bukuku juga langsung jatuh berantakan di tengah hujan. Aduhh, jadi basah semua kan. “Siapa sih jalan gak liat-liat !” Aku langsung teriak di hadapan orang asing itu.
            “Fara, maafkan aku” Wajahnya asing sekali, tapi suaranya benar-benar gak asing buatku.  “Fara, kamu bisa berdiri kan ?” dia menyebut namaku lagi. Perasaan aku gak pake name tag dan gak nempel KTP di keningku deh. “Heii Fara sekertarisku, kamu gak kenapa-kenapa kan?”
            “Hah Pak Ketua, Boy Zuniarsaaaa !”
            “Kita udah hampir lima menit di depan masjid berduaan nih Far, kamu gak liat kalau kita jadi pusat perhatian orang-orang yang mau shalat. Ini udah kaya drama korea kesukaanmu dulu waktu aliyah, Aku mayungin kamu, dan aku kehujanan tanpa payung. Buku-bukumu aku yang rapiin dan kamu masih duduk diam menatap bingung di hadapanku sekarang. Sama banget kan sama Korea ?”
            Aku bener-bener barus sadar sekarang. Kemungkinan besar orang-orang yang dari tadi lewat mikir kalo kita ini pacaran yang lagi berantem. Hadoohhh, mana wajahku merah karna kesakitan gini, bisa dikira orang kalau aku lagi nahan nangis. Tapi, aku gak mau sudzon lah, mana ada sih orang pacaran berantem di depan masjid. Lagian ada saksi juga kayanya kalau aku ketabrak  Boy ketika lagi lari ngejar jamaah di masjid.
“Kamu gak bisa berdiri ya ?” Tanya Boy lagi, wajahnya benar-benar keihatan khawatir sekarang. “Aku bisa sendiri”. Jawabku singkat dan langsung memaksakan berdiri. “Ahh, sakit banget” gak boleh teriak Far, kamu bisa ! (Batinku). “Fara, sini tasmu biar aku yang bawa!” Boy langsung mengambil tas ranselku tanpa menunggu jawabanku. Sambil memayungiku dari belakang. Sepertinya dia tau, kalau aku lagi menahan sakit. “Maafkan aku, kita bukan muhrim jadi aku bisa menggendongmu”. Inikah dirimu yang sekarang Boy, bukan dirimu yang dulu, yang suka memaksa.(Batinku)
“Sesakit apapun aku, aku gak akan melanggar syariatku Boy. Dan aku juga tau kau akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi denganmu”.
***
Hujan sudah turun hampir dua jam setengah. Malam sudah mulai pekat dengan gemuruh petir yang saling bersahutan. Sekilas gamabaran tiga tahun yang lalu setelah UN aliyah. Aku langsung dikirim Abi ke Jakarta setelah acara silaturahmi kelurga ka Wahyu yang  niatnya mau melamarku saat itu. Padahal wajahnya ka Wahyu mirip banget sama Lee Min Hoo itu. Dia teman LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Bang Syafril. Aku juga kaget, dan saking kagetnya buat aku mau lari dari dunia nyata dan masuk dunia dongeng aja. Cukup jadi putri tidur sehari tanpa pangeran dan kurcaci. “Aku mau tidur seharian aja Bi, nanti kalau keluarga ka Wahyu datang bilang aja, aku lagi jadi putri tidur dan gak bisa bangun kecuali denger adzan”. Dulu aku polos banget kan, Hahahha.
            Abi sebenarnya mendukung aja anaknya menikah muda. Tapi Ummi nolak banget. Alasan ummi menolak bukan karna aku masih terlalu muda untuk nikah. Tapi karna, kalau aku nikah ummi gak punya temen masak , gak ada punya temen curhat, gak punya temen yang sering ngajakin shopping, ga punya temen buat bikin kue, dst. Alasannya gara-gara itu doang! ummi tiga tahun lalu juga polos banget. Hahhahha
            Percakapan Abi yang masih aku ingat ketika itu adalah “Fara mau menhgafal Qur’an dulu di Jakarta, dia bilang mau jadi hafidzhah. Malu sama ka Wahyu yang sudah hafidz dari kecil”. GUBRAAKK !!! Rasanya ada bola api yang tiba-tiba masuk kamar dan ngebakar semua novel sama komik milikku. Aku kan mau kuliah jurnalis di Semarang. Jadi penulis novel atau animator komik di jepang. Abi bener-bener parah banget ngasih jawabanya, udah tau aku gak suka menghafal.
Bang Syafril cuma bisa senyum-senyum melirikku saat itu. Aku menginjak kakinya. Itu balasan untuk permasalahan ini. Huft,, biarlah, namanya juga kehidupan. Harus ada yang di korbankan, ada yang harus diperjuangkan. Demi perjuangan Abi yang udah nolak lamaran Ka Wahyu, aku akan menghafal. #SambilNangis.
***
Via Whats App :
My Brodther : Fara. Boy baru balik dari Madinah sama malika adik perempuannya. Malika lagi di UIN ketemu temannya sebentar. Nanti kalian pulang bertiga yah.
Me : Kenapa dia gak langsung bilang ke aku ?
My Brodther :Lebih sopan lewat abang katanya, jadi dia menyampaikan ke abang dulu. Baru abang menyampaikan ke kamu.
Me : Sejak kapan dia jadi alim kayak gitu -_-“ ?
My Brodther : Sejak dia mengenal Rabbnya dengan baik.
Menarik nafas sebentar, lalu mencoba mengingat kejadian-kejadian aliyah dulu. Boy Zuniarsa Putra ketua osis terbaik sepanjang abad masa anak alay 2012. Sekaligus teman debatku dulu, kita gak pernah sependapat dalam hal apapun. Kalau judul awalnya forum diskusi sekolah, ujung-ujunya kita tetap debat. Ketua genk alay yang sering di teriak-teriakin fens klubnya ketika main basket. “Ayo Booy kamu pasti bisa” atau ada juga adik kelas  yang neriakin kayak gini “Kakak Booy aku padamuuu”. Ihh, alay banget kan!
Wajah Boy lebih mirip Woo Bin lawan main Lee Min Hoo di film The Heirs. Kalau sekolah motornya yang paling banyak ngambil tempat. Motornya bukan kaya Herley sih, tapi ninja yang guedeee bingitz. Dia gak pernah pacaran, tapi mantan calon pacarnya dimana-mana. Alias kaum PHP yang tebar pesona di mana-mana dan sering bikin geer orang. Nyebelin banget kan !
Aku selalu menjadi rivalnya untuk prestasi akademik di sekolah. Kadang aku juara satu dan dia juara dua, atau sebaliknya. Sering juga jadi korban labrakan kakak kelas yang ngefens juga sama Boy itu hal paling buruk di masa aliyah dulu. Hampir-hampir aku dikunciin di gudang belakang sama fens klub Boy yang fanatik itu. Untung aja, Ka Wahyu yang waktu itu sedang jadi guru pengawas melihat kejahatan mereka. Alhamdulilah masih terlindungi. Setelah itu, Ka Wahyu marahin Boy abis-abisan di ruang BK. Jadi kalau sekarang buat Whats App aku aja lewat bang Syafril dulu, berarti dia benar-benar berubah. Semoga aja seseorang di hatinya juga berubah. #BukanBerharap
***
“Assalamualaikum kak Fara, Aku malika adiknya Abang Boy” Tiba-Tiba ada gadis manis berjilbab putih yang menutup hampir setengah tubuhnya menghampiriku. “Walaikumsalam, iya malika. Aku masih inget kamu kok” Jawabku sambil memeluknya. “Kakimu gimana kak, tadi Abangku bilang kamu jatuh kak” Aku hanya menjawabnya dengan senyum. “Kerumah sakit sebentar yah, seteah itu kita buka puasa terus ke depok”. Aku sebenarnya malas kalau harus kerumah sakit.
“Bang Boy puasa soalnya kak, kalau aku lagi gak puasa, mau yah ?”
            “Gini aja, kamu beliin abangmu makanan, kamu juga sekalian beli buat kamu. Terus ajak abangmu makan di pelataran masjid” Bukannya aku enggak mau bergabung makan dengan mereka. Kakiku benr-benar sakit sekarang, jadi lebih baik aku meunggu disini dari pada merepotkan mereka.
            “Kakimu pasti sakit sekali yah?” Malika mulai khawatir. “Gamismu juga basah kak!”. Aku hanya tersenyum menjawab perhtiannya. “Cepatlah, kasihan abangmu kelaparan”. Aku langsung menyuruhnya pergi, setidaknya itu mengurangi pertanyaan-pertanyaan khawatir darinya.
“Aku tau ini kesekian kalinya aku terlambat menemuimu Fara. Aku akan mengejarmu dengan ketertinggalanku dulu dalam masalah syariat. Walaupun harus berlari, Setidaknya aku belum terlambat untuk mengejar janji terbaikku untumu sekarang” (Boy Zuniarsa Putra )
Bersambung…. My Syariat Is My Life III
Dershane 9 Juni 2015-06-09
Pukul 02: 05
***