Cinta Arasy (Ia, Ibarat Kaca yang Berdebu)

Sabtu, 20 Januari 2018

Musim dingin masih bertahan di daerah tropis yang gadis itu tinggali. Sesekali dia menatap jedela kamarnya. Mengamati rintik hujan yang tertiup angin dan menghepas ke wajahnya.
Dia mulai tersenyum kemb
ali membiarkan wajah dan jilbabnya basah terkena gerimis.
Ah, entah sudah lama sekali dia tidak mau tersenyum untuk membuat dirinnya sendiri bahagia.
.
Dulu dia amat membenci senyuman dan rintik gerimis. Membenci sampai level tertinggi. Sampai hal ini membuat dirinya lupa bagaimana cara untuk bahagia.
.
"Arasy,, heii Arasy.. Itu tamu yang cari kamu"
.
"Eh, iya aku keluar".
.
Dia Gadis yang bernama Arasy, kini senyumannya mulai kembali, dia mulai memeluk rindu dalam doa lama yang sudah ia hentikan bertahun-tahun.
.
.
"Assalamualaikum, Arasy"
.
.
Arasy tersenyum kembali mendengar salam langsung dari seseorang yang ada dihapannya, lebih merekah dari senyum sebelumnya. Dia masih menunduk, menahan semuanya agar tetap baik-baik saja.
.
.
Walaikumsalam, Kak...

Bersambung~
Part 2
Writer @umi.wijayalau
20.01.18

Ada Rindu Dibalik Jendela Masjid

Selasa, 17 Oktober 2017

Ada Rindu Dibalik Jendela Masjid
Oleh : Umi Wijaya Lau

Part 1
#MasjidFathullahCiputat

Langkahnya benar-benar jauh tertinggal, dia menahan panas dan sesak. Tidak semua orang memperhatikan matanya yang sembab, walau akhirnya dia jatuh terkulai lemas di teras masjid (Fathullah). Jika dipikir-pikir itu lebih baik. Karna, sesulit apapun keadaan manusia. Dia amat enggan untuk dikasihi.

Dia menarik nafas berkali-kali untuk menanangkan hati, sesekali mengusap peluh butiran keringat di dahinya yang putih. Jilbabnya yang tadi rapi level tinggi, kini sudah sulit digambarkan seperti apa bentuknya.

Dia mulai mengeluarkan mushafnya yang semakin lusuh. Entah apa yang terjadi, kini butirannya air matanya jatuh lagi. Genggamannya semakin kuat memeluk mushaf, getaran hatinya semakin tidak karuan. Tingkat kekhwatiranya pun semakin meninggi.

"Allah, aku sudah terlanjur tersesat dijalan yang sulit ini. Tolong bantu aku menempuhnya dengan kemudahan dariMu"

Gadis yang matanya masih sembab itu, mulai memejamkan mata, lalu menutup telinga lewat hatinya. Dan menjadi tuli terhadap sekitar dalam seketika.

Dia membuka lembaran memory tebal yang sudah dia tumpuk dengan kumpulan huruf-huruf asing yang dia belum fahami sama sekali.

"Alif Lam Mim.."

Gadis itu menunduk, membiarkan airmatanya tumpah secara tersembunyi. Sambil terus melanjutkan hafalannya.

Dalam tangis, dia terus melafalkan kumpulan huruf yang amat asing baginya. Batinnya semakin berteriak, bagaimana bisa kau berani menghafal ayat-ayat itu tapi tidak tau artinya. Bahkan, kau tidak bisa menulisnya!. Bagaimana bisa !!!

Dia terus melantunkan hafalannya, tidak peduli dengan cercaan yang berasal dari batinnya sendiri.

Am hasibtum an tadkhuluu al jannata wa lamma ya'tikum matsaluu al ladziina khalau min qablikum
Massathum al ba'saa'u wa adhdharraa'u wa zulziluu hatta, hatta,...

Bersambung.... Mohon komentarnya ya

Kenyataannya Belum Tergenggam, Bukan Berarti Tidak Tergengggam

Kamis, 13 Oktober 2016





Maaf jika sudah lama sekali aku tidak membuat surat cinta untukmu. Jika aku tuliskan ribuan alasan sebenarnya bisa saja. Menjelaskan kehidupan kita yang seperkian detik menjadi debu di lautan catatan amal. Entah amal buruk atau amal baik. Namun kita memilih diam, biar Allah saja yang tau urusan kita. Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak mau menyulitkan kehidupan yang sudah sulit. 

Sudah hampir lima tahun kita bersama, berlari dalam teriakan ambisi dan rayuan masa depan. Kita sama-sama berjuangan dalam langkah yang tidak pasti. Bukan kaki yang sulit berlari, namun hati yang sering kali menyakiti. Ini sama sekali bukan soal mengkhianati, Sungguh bukan. Percayalah, ini hanya soal waktu.

Dulu kita pernah menulis bersama tentang mau kemana kita melangkah, melanjutkan hidup dengan penuh bahagia. Tanpa pusing memikirkan caranya. Ingat masa-masa itu? Dirimu senang sekali mengambil buku milikku, membuat robekan kecil dengan coretan-coretan mimpi.

Coretan mimpi itu tidak hilang, walaupun bukunya sudah hilang dimakan zaman. Kita sudah melewatinya bersama dalam empat tahun terakhir. Dirimu dengan perjuangan mimpimu. Diriku dengan perjuangan mimpiku. Bukankah, perjuangan kita belum selesai sampai sekarang?. Semuanya akan selesai ketika Allah meminta kita untuk pulang. Dan, sekarang kita masih di perjalanan untuk menyiapkan segala macam bekal. Right ?

Pelukan doa aku kirimkan dalam tulisanku yang entah kau menyukainya atau tidak. Allah tidak menciptakan kita sebagai pecundang. Aku ataupun dirimu kita sama, tidak ada beda. Senyummu masih diharapkan, sangat diharapkan. Ayah-Ibumu masih menanti kesuksesanmu bukan?, walaupun caranya terkadang membuatmu kesal setengah mati. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku akan sangat senang menjalani kekesalan ini. Asal mereka berdua ada dalam pelukanku di kehidupan nyata.

Jalan hidup tidak selamanya indah, jalani saja apa yang kita rasakan sekarang. Kita pasti bisa menemukan jawabannya. Semua akan berlalu, Ayah-Ibumu masih disini menemani perjuangan. Jika matamu sudah tidak tegar lagi seperti hari-hari lalu. Menangislah, bukan hanya ada bahagia di dunia. Dunia tidak akan memakimu karna dirimu lemah. Tidak akan!

Jika aku sekarang ada disampingmu, akan aku pinjam kedua bahuku, kedua gengaman kuat tanganku. Bersandarlah selama kau mau. Akan aku temani semua tangisanmu, aku akan menjadi pendengar yang baik selama kau mau. Tapi apalah aku, dayaku tak mampu. Allah lebih menginginkanmu bersandar pada kekuasaaNya. Menginginkanmu mengenggam erat Pemeberian-Nya tanpa kecewa sedikitpun. Ayolah,,, kita sama-sama tau soal ini. Allah tidak pernah ingkar janji.

Masa sekarang yang kita jalani dengan tangisan, akan menjadi masa lalu yang indah nanti ketika kita kenang. Ingat kata-kataku, tanpa masa lalu, kita tidak akan mungkin memiliki masa depan. Kemarin-kemarin bukan penyesalan yang harus melulu disalahkan. Biarkan semuanya berlalu seperti hujan, menumbuhkan banyak kenangan. Entah sedih ataupun senang, semuaanya akan menjadi pelajaran. Pelajaran berharga, bagi orang-orang yang tidak pernah menyerah dengan keadaan.

Bukankah kita mau pergi ke mekkah berama ? Entah dengan mimpi yang mana kita bisakesana. Ada pribahasa yang selalu kita dengar dari kecil “Banyak jalan menuju Mekkah”. Kalu satu jalan tertutAup, berarti ada seribu pintu terbuka. Ambil langkah sekarang, pastikan dengan keyakinan. Waktu tidak akan menunggu kita yang selalu diam dan bingung. Bahkan dia semakin cepat melaju dengan detik-detik pedangnya. Masiih maukah dirimu berlari denganku dengan ketertinggalan kita ?

Aku menunggu kebahagian terbaikmu dalam dua tahun kedepan, InsyAllah…


Umi Wijaya Lau
Dershane Jakarta
11.09 PM       





Cukuplah kusimpan semua ceritaku yang dulu, tentangku, tentang semua yang membuatku tidak berarti"

Senin, 04 Juli 2016

Part IV

♡♡♡

Aku langsung berlari mencari bantuan seseorang untuk membawa Nata ke ruang kesehatan. Di kelas lukis tidak ada laki-laki sama sekali. Aku faham, mungkin anak laki-laki lebih senang di kelas musik atau di kelas Tari. Ini hanya hipotesaku saja. Jadi tidak perlu diperdebatkan.

Aku melirik ke kelas-kelas, melihat wajah-wajah asing yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Murid sepertiku memang kuno sekali untuk pergaulan jaman sekarang. Lihatlah, selama setahun sekolah. Baru pertama ini aku menginjakan langkah ke kelas-kelas lain. Dan memperhatikan wajah-wajah murid musik, tari dan akting.

Ah, jujur aku malas sekali memperhatikan siapapun. Kalau bukan karna Nata yang sedang sesak nafas itu. Aku tidak akan kebingungan seperti ini mencari murid laki-laki yang bisa membantu.

"Ada yang bisa aku bantu?"

Tanya salah satu murid yang sepertinya ingin masuk ke kelas. Mungkin aku menghalangi jalannya, jadi dia bertanya. Atau mungkin juga dia mencari perhatianku.

Oh Tuhan, aneh sekali jalan pikiranku ini. Bukankah aku memang sedang membutuhkan bantuan seseorang.

"Iya," jawabku singkat sambil menunduk dan melihat sepatunya. Ah, kenapa menatap wajah orang itu sangat sulit. Aku merasa tidak sopan berbicara seperti ini.

"Apa yang bisa kubuntu Daiy?"

Dia tau namaku, seingatku aku belum pernah bertemu dengannya. Aku juga bukan murid populer di kelas lukis seperti anak manja-manja yang habis ku ikat itu.

"Hai, kok melamun sih? Apa yang bisa kubantu?"

Dia langsung menyadarkanku, mengingat keperluan apa aku ke lantai tiga ini. Semenit kemudian aku langsung menarik tangannya, menuju state lukis dilantai dua. Detak jantungku mulai karuan tidak main. Nata itu lemah sekali, tapi selalu saja mencoba melakukan banyak hal. Seperti pembelaan ceroboh tadi. Mungkin dia sudah tidak tahan melihatku setahun ini dipermainkan oleh anak-anak kaya dan manja itu.

Sebenarnya aku terbiasa diam membalas tingkah menyebalkan mereka setahun ini. Aku mengabaikan mereka dengan baik. Tapi mereka malah makin menjadi-menjadi. Apalagi permasalahan duplikan lukisan itu. Rasanya aku ingin ikat Zen di pohon lie lalu aku hanyutkan dia ke sungai samping sekolah.

Lihatlah, mungkin pipi Zen yang mulus itu akan bengkak karna tamparanku sampai beberapa hari kedepan. Itu balasan kecilku karna sudah membuat  Nata ketakutan.

***

Aku berlari lebih cepat menuruni tangga, dan langsung mendobrak pintu kelas.

"Nataaaaaaa" aku berteriak histeris melihatnya sudah tidak sadarkan diri.

Murid laki-laki dari kelas musik itu langsung menggendong Nata ke ruang kesehatan. Lalu sedikit memberikan senyum sinis kepada Zen dan kawan-kawanya itu. Entahlah, apa maksudnya. Tapi aku suka melihat gaya sinisnya barusan.

"Hyuuun, seharusnya kau membantuku bukan membantu anak lemah itu" Teriak Zen dari pintu kelas dan segera mengejar kami.

Murid laki-laki itu tidak merespon apapun dia malah mempercepat langkahanya masuk keruang kesehatan. Dokter sekolah kami baru saja datang. Dia langsung mengambil tindakan cepat untuk Nata.

Aku menghela nafas panjang bersyukur sambil terus berdoa untuk kebaikan sahabatku ini. Sepertinya aku membutuhkan air putih, setalah kejadian menyebalkan hari ini.

"Minumlah Daiy" Murid kelas musik itu sudah dihadapanku lagi sekarang.

"Terimakasih banyak sudah membantu membawa Nata"

"Aku senang bisa membantu, namaku Hyun Lee, Zen memang menyebalkan dan dia layak kau balas untuk kenalakannya kepadamu setahun ini"

Aku tersenyum mendengar dukungannya, seakan-akan dia tau apa yang Zen lakukan kepadaku setahun ini, padahal dilorong sekolah tadi aku hanya menceritakan tentang Nata yang sesak nafas karna ulah mereka.

Oh, aku salah faham. Menurut curhatan Nata selama ini kepadaku, semua murid sekolah tau bahwa seorang Daiyu ini adalah murid paling pendiam yg tidak bisa membalas orang-orang yg jahat padanya. Dan bisa jadi Hyun adalah satu dari mereka.

"Aku tau namamu dari tabloid pusat kesenian tongzhou semester lalu. Selamat untuk karyamu itu"

Aku diam, menatapnya sebentar. Sepertinya aku salah menebak kalau Hyun sama seperti anak anak lain yg ada dalam curharan Nata.

Lalu dari mana dia tau kegiatan amal kami, apakah anak ini yang waktu itu membuat soundtrack untuk acara drama lukisanku dan Nata.

"Kau Hyun Lee yang membantu acara amal aku dan Nata waktu itu?" Aku mulai penasaran.

Sepertinya Nata pernah menyebut namanya beberapa kali waktu acara berlangsung. Dan aku hanya tau namanya saja waktu itu. Aku tidak bisa menemuinya, Nata bilang dia orang yang sibuk dan sulit ditemui. Jadi aku menitipkan terimakasih lewat asistennya.
"Yap, tepat sekali. Kau suka dengan senandung sondtracku Daiy?"

Siapa yang tidak suka dengan soundtrack hebat itu. Hampir semua penonton dan anak-anak berkebutuhan khusus di acara itu menangis, ketika dentingan-dentingan awal musik dimainkan.

Ternyata murid laki-laki ini adalah salah satu pemusik muda terbaik yang dimiliki sekolah dan daerah kami Tongzhou. Dia bukan orang biasa, dan aku tidak menyangka kalau kita seumuran bahkan satu sekolah.

"Hanya yang hatinya rusak yang tidak bisa mendengar tulus dari senandung soundtrack waktu itu Hyun" jawabku.

Bersambung...
Part V

Penasarankan ? Cieee..cieee :D
Penulis : Umi Wijaya Lau

"Cukuplah kusimpan semua ceritaku yang dulu, tentangngku, tentang semua yang membuatku tidak berarti"

Minggu, 03 Juli 2016


Part III
Senandung lirih terus bertanya pada langkah-langkah mimpi yang mulai mendaki. Sanggupkah kaki ini melangkah meninggalkan seseorang yang paling berarti. Menyanggupi permintaannya untuk terus meraih langit mimpi yang indah.
Langit mimpi yang diinginkan semua seniman muda di daratan negri ini. Ah, Lagi -lagi soal pilihan, pilihan untuk memilih atau meninggalkan.
Coba saja semua ini bisa lebih mudah aku terima, aku jalani, tanpa harus merasa terbebani.
Tapi, apalah aku. Hanya seorang manusia yang sedang dititipkan amanat besar oleh Tuhan.
Apalah aku ini, manusia kecil yang terbuat dari daging yang bisa rusak dan mati kapan saja.
Ya, aku ini biasa saja. Bukan manusia yang terbuat dari batu dan besi. Sedikit saja aku lupa dan sombong. Lalu waktuku habis, kiamat sudah hidupku. Kiamat yang bisa dirasakan semua orang. Termasuk diriku yang kecil ini.
***
"Besok hari kelulusan kita Daiy". Natalia tiba-tiba sudah duduk disampingku.
"Iyah, lalu kenapa?"
Aku menjawab singkat.
"Berarti setelah itu, kita sulit bertemu?" Natalia mulai mengacaukan perasaannya lagi sore ini.
"Perasaanmu terlalu berlebihan Nat! Sudah cukup sedih-sedihannya kemarin"
Natalia mengambil tisu ditas kecilnya, menghapus sedikit air matanya yang hampir jatuh.
Setiap sore ini aku selalu menghabiskan waktu menatap pohon-pohon lie di taman sekolah bersama Nata. Sedikit mengurangi kepenatanku dari keributan-keribuatan masa lalu disekolah.
"Pohon itu penuh ketegasan namun tetap cantik, sama sepertimu Daiy"
Bisik seseorang yang tidak asing dalam ingatanku. Bisikan itu cepat sekali menghilang. Aku langsung melihat kesemua arah taman dekat tempat kami istirahat. Mencari kemana perginya bisikan itu.
Sore ini terlalu banyak siswa yang lewat disekitar kami.
Mungkin karna sekolah sedang sibuk untuk acara kelulusan besok.
"Nata, siapa yang tadi lewat dibelakang kita?"
Kening Nata langsung berkerut mendengar pertanyaanku, orang yang berperasaan seperti dia memang sulit sekali diajak bicara to the point.
"Maksudmu hantu Daiy?" Tanyanya yang mulai ketakutan.
Aku tersenyum kecil meresponnya, sudahlah abaikan saja. Mungkin aku salah mendengar. Atau mungkin tidak tertuju untukku.
***
Tingkat Pertama
Art Internasional Tongzhou
"Itu lukisanku, aku yang membuatnya" Aku mulai berteriak menarik semua perhatian di kelas.
Zen menatap tajam sama seperti tatapanku. Dia mulai mendorongku ke pojok kelas. Aku bisa saja membalasanya balik. Bahkan aku bisa melukainya dengan luka paling menyakitkan dalam waktu yang singkat ini.
"Apa yang kalian lakukan!!!" Teriak Nata yang tiba-tiba datang ke kelasku.
Psikis Nata lembutnya bukan main, sekali dia teriak. Berarti beberapa menit lagi dia akan segera masuk ruang kesehatan. Dan ini menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah yang ada.
Nata juga didorong sampai terjatuh oleh teman-teman Zen yang sama jahatnya. Aku harus bertindak cepat, sebelum Nata menjadi sasaran empuk mereka.
Air mata nata sudah jatuh deras sekali. Dia ketakutan bukan main. Aku langsung melepas dasi sekolahku, aku tarik tangan Zen, aku ikat tubuh dan tangannya dalam satu menit. Tubuh kecil anak manja seperti dia mudah sekali untuk dipermainkan seperti gangsing. Aku dorong dia, lalu sedikit aku kasih tamparan manis.
Seketika teman-teman Zen diam melihatku. Mungkin mereka takut. Karna selama ini aku terlihat makhluk paling pendiam dikelas.
Aku ambil dasi Nata, aku tarik mereka bertiga. Sebenarnya mereka terlalu manis untuk disakiti. Tapi anggaplah ini akhir permainan kelas lukis bersama anak-anak menyebalkan seperti mereka.
"Ini akhir semester kelas lukis ditahun pertama sekolah, jadi simpalah kenangan manis kita baik-baik"
Ancamku kepada mereka.
***
Siapa yang senang karyanya diambil dan diakui begitu saja. Ini lomba nasional, dan dia dengan mudahnya menduplikat lukisanku dengan jabatan ayahnya itu.
Astaga, inikah dunia yang sebenarnya!. Batinku.
Bersambung...
Gimana gimana ???
Senandung lirih malam ini..
Penulis : Umi Wijaya Lau

“Cukuplah kusimpan semua ceritaku yang dulu, tentangku, tentang apapun yang membuatku tiada berarti.”

Sabtu, 02 Juli 2016





Part II

Akhir-akhir ini langit biru cepat sekali berubah menjadi kelabu. Bukan masalah kalau hujan mau turun terus, selama apapun hujan turun. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Akan kubiarkan hujan menghapus semua kelemahanku, menutup bayanganganku, memperlihatkan betapa kuatnya aku berdiri sendiri disini. Lihatlah, aku masih hidup, masih bernafas, masih bisa mencium harumnya tanah yang basah. Masih bisa hidup.

“Bagaimana sekolah hari ini Daiyu ?” Tanya ibuku.

“Baik, baik sekali” Aku menjawabnya dengan senyuman paling manis yang aku miliki.
Aku mulai membersihkan kakinya yang semakin memerah. Lukanya terus bertambah. Sedikit saja aku salah membersihkan, air mata ibuku akan jatuh. Menahan betapa sakitnya kakinya sekarang. Kalau saja bisa diganti. Biarlah kakiku ini yang sakit, biarlah semua luka itu pindah untukku. Biarlah aku saja yang merasakannya.

“Oh, ya bagaimana sekolahmu hari ini Daiyu?” Tanya ibuku lagi.

“Baik, baik sekali bu”. Aku tersenyum, menjawabnya lagi sengan senyuman seperti tadi, bahkan lebih manis lagi.

Entah berapa kali ibu mengulang pertanyaanya dalam sejam. Aku akan menjawabnya dengan ekpressi yang sama. Aku akan tetap menjawabnya dengan baik, dengan senyuman yang paling manis. Aku tidak akan melukiskan kesedihan apapun untuknya. Untuk manusia paling terhormat yang aku cintai di dunia ini.

“Daiyu, bagaimana sekolahmu hari ini?”. Aku menatapnya lagi dengan hangat, mencium keningnya dan berbisik sedikit “Baik, baik sekali. Aku senang sekolah disana bu.” Lalu aku memeluknya dan mulai menahan sesak.

Tuhan, jangan ijinkan aku menangis didepanya. Tahan aku sampai akhir, aku mohon.

***

Congrats For Daiyu. From Tongzhou Bejing. Art Internasional Tongzhou.

Email itu baru masuk beberapa menit yang lalu. Natalia langsung menelfonku dan memintaku datang kerumahnya membawa berkas-berkas yang diperlukan. Aku malas sekali mengurusi akademi itu.
 Aku benar-benar tidak bisa memilih ataupun menolak.

“Menangislah nata, terimakasih sudah menjadi sahabatku selama ini”

“Kamu serius akan pergi Daiy?”

“Aku tidak akan pergi, kalau ibuku yang memintanya”

“Tapi, beliau yang memintamu pergi, dan lihatlah perjuanganya bertahun-tahun ini untuk sekolahmu.

“Aku tidak pernah sanggup menolak permintaanya , Bagaimana mungkin aku akan pergi ke Akademi di luar negri itu! Sedangkan beliau sudah tidak bisa berjalan”.

“ Semakin lupa dengan banyak hal. Termasuk denganku. Dan kau tau! Kenapa kemarin aku hampir terlambat ke sekolah. Ibuku lupa kalau aku anaknya, beliau lupa namaku, wajahku, Senyumku…"

"Beliau menanyakan banyak hal dan terus diulang-ulang seperti biasanya. Kau tau Nata!, ini yang paling aku takutkan dari dulu”. Kini tangisku sudah pecah"

“Aku tidak pernah takut ketika tidak dianggap oleh teman-teman, aku tidak pernah takut dengan ejekan mereka, bahkan ancaman merekapun tidak pernah aku takuti sama sekali. Kau yang melihatnya selama ini, selama tiga tahun terakhir di sekolah itu”.

“Anggap dulu itu perjuanganmu,aku tau betapa sakitnya ketika lukisamu diduplikat oleh anak penjabat itu. Aku ingat ketika kau harus berurusan dengan polisi karna fitnah mereka.
Ah,sudahlah kau bukan lagi bayangan seperti anggapan mereka. Lihatlah sekarang siapa Daiyu, batu giok hitam terbaik ini. Berhasil terpilih dari ratusan delegasi di daratan paling luas di Asia Timur. ”.

The End tapi gantung... Hhaha
Bersambung tapi gak tau kapan lanjut lagi...Hahah
Gimana dengan Tokoh Daiyu Lau :D
Akankah Batu Giok Hitam ini berani memilih,,
Ditunggu komentarnya :)

Penulis : Umi Wijaya Lau/Blogspot

2 Juli 2016
25 Ramadhan Kareem

12.01 Am

“Cukuplah kusimpan semua ceritaku yang dulu, tentangku, tentang apapun yang membuatku tiada berarti.”

Part I


Bejjing, November 2008

Deretan pohon lie berdiri tegak melukis ketegasan daratan asia timur. Mensketsakan bayangan daun-daun pohon lie diatas air sungai. Ah, Cantik sekali memang pohon ini. Seperti lukisan bergerak walaupun sebatas bayangan.

Apakah diriku terlihat seperti itu selama ini, menjadi makhluk yang bergerak namun hanya dilihat sebagai bayangan. Dipandang sekilas lalu dilupakan, atau sekedar diingat tapi di abaikan. Arrggh, menyakitkan sekali. Andaikan perasaan ini bisa digambar di atas kertas, mungkin warna kesedihan sudah habis aku pakai sebagai pensil warnanya.

Tiga ratus enam puluh ribu detik dalam satu jam aku bernafas. Berubah menjadi tujuh ratus dua puluh menit dalam dua puluh empat jam, dan lihatlah aku masih bernafas.

Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun aku masih hidup. Dan lihat aku tetap bernafas.
Lalu menjadi tujuh ribu enam ratus enam puluh lima hari dalam dua puluh satu tahun. Lihatlah, lihat aku terus hidup dan bernafas.

Jadi apa alasannya aku harus begitu sedih hanya karna dianggap sebagai bayangan. Toh, diriku masih tetap hidup sampai sekarang ?
Haruskah aku hidup dengan nafas yang baru, dan menjadi seseorang yang baru. Lalu mengganti semua tentang diriku.
***
Art Internasional Senior High School

Berlari melawan hujan memang tidak ada habisnya, tetap saja akan basah. Sebesar apapun payung yang dipakai, tetap saja basah. Sebesar apaun jas hujan yang kau pakai, tetap saja basah. Jadi, tidak ada alasan untuk berhenti dan mencari tempat meneduh di pingiran ruko. Halte atau bawah fly over.
Lima menit saja aku mengurangi kecepatan berlari, gerbang sekolah tidak akan mau terbuka lagi. Gak perlu alasan apapun. Terlambat ya, tetap terlambat!

“Wait me Mr. Jack!”
 Aku langsung berteriak melihat penjaga sekolah yang hampir menutup gerbang sekolah yang hitam mencekam itu.

Sekitar sepuluh meter lagi aku sampai ke sekolah. Mr Jack seperinya berpura-pura tidak mendengar. Padahal dia tau kalau masih ada siswi yang sedang berlari sambil berteriak memintanya untuk tidak menutup gerbang.

“Ini yang terakhir. Please!”
Apakah aku harus menangis di depan manusia agar dikasihani. Lagipula kalaupun aku menangis, tidak ada gunanya sama sekali. Karna, hujan akan menyamarkan tangisanku.
Tapi aku tidak dilahirkan untuk menjadi wanita selemah itu. Aku sudah berusaha untuk tidak terlambat. Pagi ini sudah banyak sekali kejadian yang tidak bisa aku jelaskan.

“Hari ini ada ujian, aku harus ikut kelas”.
Aku akan menjelaskan nanti, ini yang pertama dan terakhir aku terlamabat. Aku berusaha meyakinkannya.
***

Pilihan memang menuntut untuk dipilih. Entah untuk dipilih atau tidak dipilih. Lagi-lagi hari ini aku masih saja bertanya pada diri sendiri, aku harus memilih apa, melepas yang mana, memperjuangkan apa, dan seterusya.

“Daiyu bagaimana ujianmu tadi?” Tanya Natalia

Belum ada yang bisa aku mengerti tentang diriku sendiri, sampai detik ini.
Untuk mengerti diri sendiri saja sudah cukup sulit sendiri. Apalagi mengerti orang lain.

"Jadi apa yang harus aku pilih ?"
Tanyaku balik kepada Natasya

Bersambung...

2 Juli 2017
11.52 Pm

Penulis : Umi Wijaya Lau

***
"Allah Maha Tau apa yang hambanya lakukan"