Musim dingin masih bertahan di daerah tropis yang gadis itu tinggali. Sesekali dia menatap jedela kamarnya. Mengamati rintik hujan yang tertiup angin dan menghepas ke wajahnya.
Dia mulai tersenyum kemb
ali membiarkan wajah dan jilbabnya basah terkena gerimis.
Ah, entah sudah lama sekali dia tidak mau tersenyum untuk membuat dirinnya sendiri bahagia.
.
Dulu dia amat membenci senyuman dan rintik gerimis. Membenci sampai level tertinggi. Sampai hal ini membuat dirinya lupa bagaimana cara untuk bahagia.
.
"Arasy,, heii Arasy.. Itu tamu yang cari kamu"
.
"Eh, iya aku keluar".
.
Dia Gadis yang bernama Arasy, kini senyumannya mulai kembali, dia mulai memeluk rindu dalam doa lama yang sudah ia hentikan bertahun-tahun.
.
.
"Assalamualaikum, Arasy"
.
.
Arasy tersenyum kembali mendengar salam langsung dari seseorang yang ada dihapannya, lebih merekah dari senyum sebelumnya. Dia masih menunduk, menahan semuanya agar tetap baik-baik saja.
.
.
Walaikumsalam, Kak...
Bersambung~
Part 2
Writer @umi.wijayalau
20.01.18
Cinta Arasy (Ia, Ibarat Kaca yang Berdebu)
Sabtu, 20 Januari 2018
Diposting oleh
Unknown
di
09.54
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Ada Rindu Dibalik Jendela Masjid
Selasa, 17 Oktober 2017
Ada Rindu Dibalik Jendela Masjid
Oleh : Umi Wijaya Lau
Part 1
#MasjidFathullahCiputat
Langkahnya benar-benar jauh tertinggal, dia menahan panas dan sesak. Tidak semua orang memperhatikan matanya yang sembab, walau akhirnya dia jatuh terkulai lemas di teras masjid (Fathullah). Jika dipikir-pikir itu lebih baik. Karna, sesulit apapun keadaan manusia. Dia amat enggan untuk dikasihi.
Dia menarik nafas berkali-kali untuk menanangkan hati, sesekali mengusap peluh butiran keringat di dahinya yang putih. Jilbabnya yang tadi rapi level tinggi, kini sudah sulit digambarkan seperti apa bentuknya.
Dia mulai mengeluarkan mushafnya yang semakin lusuh. Entah apa yang terjadi, kini butirannya air matanya jatuh lagi. Genggamannya semakin kuat memeluk mushaf, getaran hatinya semakin tidak karuan. Tingkat kekhwatiranya pun semakin meninggi.
"Allah, aku sudah terlanjur tersesat dijalan yang sulit ini. Tolong bantu aku menempuhnya dengan kemudahan dariMu"
Gadis yang matanya masih sembab itu, mulai memejamkan mata, lalu menutup telinga lewat hatinya. Dan menjadi tuli terhadap sekitar dalam seketika.
Dia membuka lembaran memory tebal yang sudah dia tumpuk dengan kumpulan huruf-huruf asing yang dia belum fahami sama sekali.
"Alif Lam Mim.."
Gadis itu menunduk, membiarkan airmatanya tumpah secara tersembunyi. Sambil terus melanjutkan hafalannya.
Dalam tangis, dia terus melafalkan kumpulan huruf yang amat asing baginya. Batinnya semakin berteriak, bagaimana bisa kau berani menghafal ayat-ayat itu tapi tidak tau artinya. Bahkan, kau tidak bisa menulisnya!. Bagaimana bisa !!!
Dia terus melantunkan hafalannya, tidak peduli dengan cercaan yang berasal dari batinnya sendiri.
Am hasibtum an tadkhuluu al jannata wa lamma ya'tikum matsaluu al ladziina khalau min qablikum
Massathum al ba'saa'u wa adhdharraa'u wa zulziluu hatta, hatta,...
Bersambung.... Mohon komentarnya ya
Oleh : Umi Wijaya Lau
Part 1
#MasjidFathullahCiputat
Langkahnya benar-benar jauh tertinggal, dia menahan panas dan sesak. Tidak semua orang memperhatikan matanya yang sembab, walau akhirnya dia jatuh terkulai lemas di teras masjid (Fathullah). Jika dipikir-pikir itu lebih baik. Karna, sesulit apapun keadaan manusia. Dia amat enggan untuk dikasihi.
Dia menarik nafas berkali-kali untuk menanangkan hati, sesekali mengusap peluh butiran keringat di dahinya yang putih. Jilbabnya yang tadi rapi level tinggi, kini sudah sulit digambarkan seperti apa bentuknya.
Dia mulai mengeluarkan mushafnya yang semakin lusuh. Entah apa yang terjadi, kini butirannya air matanya jatuh lagi. Genggamannya semakin kuat memeluk mushaf, getaran hatinya semakin tidak karuan. Tingkat kekhwatiranya pun semakin meninggi.
"Allah, aku sudah terlanjur tersesat dijalan yang sulit ini. Tolong bantu aku menempuhnya dengan kemudahan dariMu"
Gadis yang matanya masih sembab itu, mulai memejamkan mata, lalu menutup telinga lewat hatinya. Dan menjadi tuli terhadap sekitar dalam seketika.
Dia membuka lembaran memory tebal yang sudah dia tumpuk dengan kumpulan huruf-huruf asing yang dia belum fahami sama sekali.
"Alif Lam Mim.."
Gadis itu menunduk, membiarkan airmatanya tumpah secara tersembunyi. Sambil terus melanjutkan hafalannya.
Dalam tangis, dia terus melafalkan kumpulan huruf yang amat asing baginya. Batinnya semakin berteriak, bagaimana bisa kau berani menghafal ayat-ayat itu tapi tidak tau artinya. Bahkan, kau tidak bisa menulisnya!. Bagaimana bisa !!!
Dia terus melantunkan hafalannya, tidak peduli dengan cercaan yang berasal dari batinnya sendiri.
Am hasibtum an tadkhuluu al jannata wa lamma ya'tikum matsaluu al ladziina khalau min qablikum
Massathum al ba'saa'u wa adhdharraa'u wa zulziluu hatta, hatta,...
Bersambung.... Mohon komentarnya ya
Diposting oleh
Unknown
di
19.48
3
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kenyataannya Belum Tergenggam, Bukan Berarti Tidak Tergengggam
Kamis, 13 Oktober 2016
Maaf jika sudah lama
sekali aku tidak membuat surat cinta untukmu. Jika aku tuliskan ribuan alasan
sebenarnya bisa saja. Menjelaskan kehidupan kita yang seperkian detik menjadi
debu di lautan catatan amal. Entah amal buruk atau amal baik. Namun kita
memilih diam, biar Allah saja yang tau urusan kita. Bukankah kita sudah
berjanji untuk tidak mau menyulitkan kehidupan yang sudah sulit.
Sudah hampir lima tahun
kita bersama, berlari dalam teriakan ambisi dan rayuan masa depan. Kita
sama-sama berjuangan dalam langkah yang tidak pasti. Bukan kaki yang sulit
berlari, namun hati yang sering kali menyakiti. Ini sama sekali bukan soal
mengkhianati, Sungguh bukan. Percayalah, ini hanya soal waktu.
Dulu kita pernah
menulis bersama tentang mau kemana kita melangkah, melanjutkan hidup dengan
penuh bahagia. Tanpa pusing memikirkan caranya. Ingat masa-masa itu? Dirimu
senang sekali mengambil buku milikku, membuat robekan kecil dengan
coretan-coretan mimpi.
Coretan mimpi itu tidak
hilang, walaupun bukunya sudah hilang dimakan zaman. Kita sudah melewatinya
bersama dalam empat tahun terakhir. Dirimu dengan perjuangan mimpimu. Diriku
dengan perjuangan mimpiku. Bukankah, perjuangan kita belum selesai sampai
sekarang?. Semuanya akan selesai ketika Allah meminta kita untuk pulang. Dan,
sekarang kita masih di perjalanan untuk menyiapkan segala macam bekal. Right ?
Pelukan doa aku
kirimkan dalam tulisanku yang entah kau menyukainya atau tidak. Allah tidak
menciptakan kita sebagai pecundang. Aku ataupun dirimu kita sama, tidak ada
beda. Senyummu masih diharapkan, sangat diharapkan. Ayah-Ibumu masih menanti
kesuksesanmu bukan?, walaupun caranya terkadang membuatmu kesal setengah mati.
Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku akan sangat senang menjalani kekesalan
ini. Asal mereka berdua ada dalam pelukanku di kehidupan nyata.
Jalan hidup tidak
selamanya indah, jalani saja apa yang kita rasakan sekarang. Kita pasti bisa
menemukan jawabannya. Semua akan berlalu, Ayah-Ibumu masih disini menemani
perjuangan. Jika matamu sudah tidak tegar lagi seperti hari-hari lalu.
Menangislah, bukan hanya ada bahagia di dunia. Dunia tidak akan memakimu karna
dirimu lemah. Tidak akan!
Jika aku sekarang ada
disampingmu, akan aku pinjam kedua bahuku, kedua gengaman kuat tanganku.
Bersandarlah selama kau mau. Akan aku temani semua tangisanmu, aku akan menjadi
pendengar yang baik selama kau mau. Tapi apalah aku, dayaku tak mampu. Allah
lebih menginginkanmu bersandar pada kekuasaaNya. Menginginkanmu mengenggam erat
Pemeberian-Nya tanpa kecewa sedikitpun. Ayolah,,, kita sama-sama tau soal ini.
Allah tidak pernah ingkar janji.
Masa sekarang yang kita
jalani dengan tangisan, akan menjadi masa lalu yang indah nanti ketika kita
kenang. Ingat kata-kataku, tanpa masa lalu,
kita tidak akan mungkin memiliki masa depan. Kemarin-kemarin bukan
penyesalan yang harus melulu disalahkan. Biarkan semuanya berlalu seperti
hujan, menumbuhkan banyak kenangan. Entah sedih ataupun senang, semuaanya akan
menjadi pelajaran. Pelajaran berharga, bagi orang-orang yang tidak pernah
menyerah dengan keadaan.
Bukankah kita mau pergi
ke mekkah berama ? Entah dengan mimpi yang mana kita bisakesana. Ada pribahasa
yang selalu kita dengar dari kecil “Banyak jalan menuju Mekkah”. Kalu satu
jalan tertutAup, berarti ada seribu pintu terbuka. Ambil langkah sekarang,
pastikan dengan keyakinan. Waktu tidak akan menunggu kita yang selalu diam dan
bingung. Bahkan dia semakin cepat melaju dengan detik-detik pedangnya. Masiih
maukah dirimu berlari denganku dengan ketertinggalan kita ?
Aku menunggu kebahagian
terbaikmu dalam dua tahun kedepan, InsyAllah…
Umi Wijaya Lau
Dershane Jakarta
11.09 PM
Diposting oleh
Unknown
di
00.47
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Cukuplah kusimpan semua ceritaku yang dulu, tentangku, tentang semua yang membuatku tidak berarti"
Senin, 04 Juli 2016
Part IV
♡♡♡
Aku langsung berlari mencari bantuan seseorang untuk membawa Nata ke ruang kesehatan. Di kelas lukis tidak ada laki-laki sama sekali. Aku faham, mungkin anak laki-laki lebih senang di kelas musik atau di kelas Tari. Ini hanya hipotesaku saja. Jadi tidak perlu diperdebatkan.
Aku melirik ke kelas-kelas, melihat wajah-wajah asing yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Murid sepertiku memang kuno sekali untuk pergaulan jaman sekarang. Lihatlah, selama setahun sekolah. Baru pertama ini aku menginjakan langkah ke kelas-kelas lain. Dan memperhatikan wajah-wajah murid musik, tari dan akting.
Ah, jujur aku malas sekali memperhatikan siapapun. Kalau bukan karna Nata yang sedang sesak nafas itu. Aku tidak akan kebingungan seperti ini mencari murid laki-laki yang bisa membantu.
"Ada yang bisa aku bantu?"
Tanya salah satu murid yang sepertinya ingin masuk ke kelas. Mungkin aku menghalangi jalannya, jadi dia bertanya. Atau mungkin juga dia mencari perhatianku.
Oh Tuhan, aneh sekali jalan pikiranku ini. Bukankah aku memang sedang membutuhkan bantuan seseorang.
"Iya," jawabku singkat sambil menunduk dan melihat sepatunya. Ah, kenapa menatap wajah orang itu sangat sulit. Aku merasa tidak sopan berbicara seperti ini.
"Apa yang bisa kubuntu Daiy?"
Dia tau namaku, seingatku aku belum pernah bertemu dengannya. Aku juga bukan murid populer di kelas lukis seperti anak manja-manja yang habis ku ikat itu.
"Hai, kok melamun sih? Apa yang bisa kubantu?"
Dia langsung menyadarkanku, mengingat keperluan apa aku ke lantai tiga ini. Semenit kemudian aku langsung menarik tangannya, menuju state lukis dilantai dua. Detak jantungku mulai karuan tidak main. Nata itu lemah sekali, tapi selalu saja mencoba melakukan banyak hal. Seperti pembelaan ceroboh tadi. Mungkin dia sudah tidak tahan melihatku setahun ini dipermainkan oleh anak-anak kaya dan manja itu.
Sebenarnya aku terbiasa diam membalas tingkah menyebalkan mereka setahun ini. Aku mengabaikan mereka dengan baik. Tapi mereka malah makin menjadi-menjadi. Apalagi permasalahan duplikan lukisan itu. Rasanya aku ingin ikat Zen di pohon lie lalu aku hanyutkan dia ke sungai samping sekolah.
Lihatlah, mungkin pipi Zen yang mulus itu akan bengkak karna tamparanku sampai beberapa hari kedepan. Itu balasan kecilku karna sudah membuat Nata ketakutan.
***
Aku berlari lebih cepat menuruni tangga, dan langsung mendobrak pintu kelas.
"Nataaaaaaa" aku berteriak histeris melihatnya sudah tidak sadarkan diri.
Murid laki-laki dari kelas musik itu langsung menggendong Nata ke ruang kesehatan. Lalu sedikit memberikan senyum sinis kepada Zen dan kawan-kawanya itu. Entahlah, apa maksudnya. Tapi aku suka melihat gaya sinisnya barusan.
"Hyuuun, seharusnya kau membantuku bukan membantu anak lemah itu" Teriak Zen dari pintu kelas dan segera mengejar kami.
Murid laki-laki itu tidak merespon apapun dia malah mempercepat langkahanya masuk keruang kesehatan. Dokter sekolah kami baru saja datang. Dia langsung mengambil tindakan cepat untuk Nata.
Aku menghela nafas panjang bersyukur sambil terus berdoa untuk kebaikan sahabatku ini. Sepertinya aku membutuhkan air putih, setalah kejadian menyebalkan hari ini.
"Minumlah Daiy" Murid kelas musik itu sudah dihadapanku lagi sekarang.
"Terimakasih banyak sudah membantu membawa Nata"
"Aku senang bisa membantu, namaku Hyun Lee, Zen memang menyebalkan dan dia layak kau balas untuk kenalakannya kepadamu setahun ini"
Aku tersenyum mendengar dukungannya, seakan-akan dia tau apa yang Zen lakukan kepadaku setahun ini, padahal dilorong sekolah tadi aku hanya menceritakan tentang Nata yang sesak nafas karna ulah mereka.
Oh, aku salah faham. Menurut curhatan Nata selama ini kepadaku, semua murid sekolah tau bahwa seorang Daiyu ini adalah murid paling pendiam yg tidak bisa membalas orang-orang yg jahat padanya. Dan bisa jadi Hyun adalah satu dari mereka.
"Aku tau namamu dari tabloid pusat kesenian tongzhou semester lalu. Selamat untuk karyamu itu"
Aku diam, menatapnya sebentar. Sepertinya aku salah menebak kalau Hyun sama seperti anak anak lain yg ada dalam curharan Nata.
Lalu dari mana dia tau kegiatan amal kami, apakah anak ini yang waktu itu membuat soundtrack untuk acara drama lukisanku dan Nata.
"Kau Hyun Lee yang membantu acara amal aku dan Nata waktu itu?" Aku mulai penasaran.
Sepertinya Nata pernah menyebut namanya beberapa kali waktu acara berlangsung. Dan aku hanya tau namanya saja waktu itu. Aku tidak bisa menemuinya, Nata bilang dia orang yang sibuk dan sulit ditemui. Jadi aku menitipkan terimakasih lewat asistennya.
"Yap, tepat sekali. Kau suka dengan senandung sondtracku Daiy?"
Siapa yang tidak suka dengan soundtrack hebat itu. Hampir semua penonton dan anak-anak berkebutuhan khusus di acara itu menangis, ketika dentingan-dentingan awal musik dimainkan.
Ternyata murid laki-laki ini adalah salah satu pemusik muda terbaik yang dimiliki sekolah dan daerah kami Tongzhou. Dia bukan orang biasa, dan aku tidak menyangka kalau kita seumuran bahkan satu sekolah.
"Hanya yang hatinya rusak yang tidak bisa mendengar tulus dari senandung soundtrack waktu itu Hyun" jawabku.
Bersambung...
Part V
Penasarankan ? Cieee..cieee :D
Penulis : Umi Wijaya Lau
♡♡♡
Aku langsung berlari mencari bantuan seseorang untuk membawa Nata ke ruang kesehatan. Di kelas lukis tidak ada laki-laki sama sekali. Aku faham, mungkin anak laki-laki lebih senang di kelas musik atau di kelas Tari. Ini hanya hipotesaku saja. Jadi tidak perlu diperdebatkan.
Aku melirik ke kelas-kelas, melihat wajah-wajah asing yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Murid sepertiku memang kuno sekali untuk pergaulan jaman sekarang. Lihatlah, selama setahun sekolah. Baru pertama ini aku menginjakan langkah ke kelas-kelas lain. Dan memperhatikan wajah-wajah murid musik, tari dan akting.
Ah, jujur aku malas sekali memperhatikan siapapun. Kalau bukan karna Nata yang sedang sesak nafas itu. Aku tidak akan kebingungan seperti ini mencari murid laki-laki yang bisa membantu.
"Ada yang bisa aku bantu?"
Tanya salah satu murid yang sepertinya ingin masuk ke kelas. Mungkin aku menghalangi jalannya, jadi dia bertanya. Atau mungkin juga dia mencari perhatianku.
Oh Tuhan, aneh sekali jalan pikiranku ini. Bukankah aku memang sedang membutuhkan bantuan seseorang.
"Iya," jawabku singkat sambil menunduk dan melihat sepatunya. Ah, kenapa menatap wajah orang itu sangat sulit. Aku merasa tidak sopan berbicara seperti ini.
"Apa yang bisa kubuntu Daiy?"
Dia tau namaku, seingatku aku belum pernah bertemu dengannya. Aku juga bukan murid populer di kelas lukis seperti anak manja-manja yang habis ku ikat itu.
"Hai, kok melamun sih? Apa yang bisa kubantu?"
Dia langsung menyadarkanku, mengingat keperluan apa aku ke lantai tiga ini. Semenit kemudian aku langsung menarik tangannya, menuju state lukis dilantai dua. Detak jantungku mulai karuan tidak main. Nata itu lemah sekali, tapi selalu saja mencoba melakukan banyak hal. Seperti pembelaan ceroboh tadi. Mungkin dia sudah tidak tahan melihatku setahun ini dipermainkan oleh anak-anak kaya dan manja itu.
Sebenarnya aku terbiasa diam membalas tingkah menyebalkan mereka setahun ini. Aku mengabaikan mereka dengan baik. Tapi mereka malah makin menjadi-menjadi. Apalagi permasalahan duplikan lukisan itu. Rasanya aku ingin ikat Zen di pohon lie lalu aku hanyutkan dia ke sungai samping sekolah.
Lihatlah, mungkin pipi Zen yang mulus itu akan bengkak karna tamparanku sampai beberapa hari kedepan. Itu balasan kecilku karna sudah membuat Nata ketakutan.
***
Aku berlari lebih cepat menuruni tangga, dan langsung mendobrak pintu kelas.
"Nataaaaaaa" aku berteriak histeris melihatnya sudah tidak sadarkan diri.
Murid laki-laki dari kelas musik itu langsung menggendong Nata ke ruang kesehatan. Lalu sedikit memberikan senyum sinis kepada Zen dan kawan-kawanya itu. Entahlah, apa maksudnya. Tapi aku suka melihat gaya sinisnya barusan.
"Hyuuun, seharusnya kau membantuku bukan membantu anak lemah itu" Teriak Zen dari pintu kelas dan segera mengejar kami.
Murid laki-laki itu tidak merespon apapun dia malah mempercepat langkahanya masuk keruang kesehatan. Dokter sekolah kami baru saja datang. Dia langsung mengambil tindakan cepat untuk Nata.
Aku menghela nafas panjang bersyukur sambil terus berdoa untuk kebaikan sahabatku ini. Sepertinya aku membutuhkan air putih, setalah kejadian menyebalkan hari ini.
"Minumlah Daiy" Murid kelas musik itu sudah dihadapanku lagi sekarang.
"Terimakasih banyak sudah membantu membawa Nata"
"Aku senang bisa membantu, namaku Hyun Lee, Zen memang menyebalkan dan dia layak kau balas untuk kenalakannya kepadamu setahun ini"
Aku tersenyum mendengar dukungannya, seakan-akan dia tau apa yang Zen lakukan kepadaku setahun ini, padahal dilorong sekolah tadi aku hanya menceritakan tentang Nata yang sesak nafas karna ulah mereka.
Oh, aku salah faham. Menurut curhatan Nata selama ini kepadaku, semua murid sekolah tau bahwa seorang Daiyu ini adalah murid paling pendiam yg tidak bisa membalas orang-orang yg jahat padanya. Dan bisa jadi Hyun adalah satu dari mereka.
"Aku tau namamu dari tabloid pusat kesenian tongzhou semester lalu. Selamat untuk karyamu itu"
Aku diam, menatapnya sebentar. Sepertinya aku salah menebak kalau Hyun sama seperti anak anak lain yg ada dalam curharan Nata.
Lalu dari mana dia tau kegiatan amal kami, apakah anak ini yang waktu itu membuat soundtrack untuk acara drama lukisanku dan Nata.
"Kau Hyun Lee yang membantu acara amal aku dan Nata waktu itu?" Aku mulai penasaran.
Sepertinya Nata pernah menyebut namanya beberapa kali waktu acara berlangsung. Dan aku hanya tau namanya saja waktu itu. Aku tidak bisa menemuinya, Nata bilang dia orang yang sibuk dan sulit ditemui. Jadi aku menitipkan terimakasih lewat asistennya.
"Yap, tepat sekali. Kau suka dengan senandung sondtracku Daiy?"
Siapa yang tidak suka dengan soundtrack hebat itu. Hampir semua penonton dan anak-anak berkebutuhan khusus di acara itu menangis, ketika dentingan-dentingan awal musik dimainkan.
Ternyata murid laki-laki ini adalah salah satu pemusik muda terbaik yang dimiliki sekolah dan daerah kami Tongzhou. Dia bukan orang biasa, dan aku tidak menyangka kalau kita seumuran bahkan satu sekolah.
"Hanya yang hatinya rusak yang tidak bisa mendengar tulus dari senandung soundtrack waktu itu Hyun" jawabku.
Bersambung...
Part V
Penasarankan ? Cieee..cieee :D
Penulis : Umi Wijaya Lau
Diposting oleh
Unknown
di
00.26
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
"Cukuplah kusimpan semua ceritaku yang dulu, tentangngku, tentang semua yang membuatku tidak berarti"
Minggu, 03 Juli 2016
Part III
Senandung lirih terus bertanya pada langkah-langkah mimpi yang mulai mendaki. Sanggupkah kaki ini melangkah meninggalkan seseorang yang paling berarti. Menyanggupi permintaannya untuk terus meraih langit mimpi yang indah.
Langit mimpi yang diinginkan semua seniman muda di daratan negri ini. Ah, Lagi -lagi soal pilihan, pilihan untuk memilih atau meninggalkan.
Coba saja semua ini bisa lebih mudah aku terima, aku jalani, tanpa harus merasa terbebani.
Tapi, apalah aku. Hanya seorang manusia yang sedang dititipkan amanat besar oleh Tuhan.
Apalah aku ini, manusia kecil yang terbuat dari daging yang bisa rusak dan mati kapan saja.
Ya, aku ini biasa saja. Bukan manusia yang terbuat dari batu dan besi. Sedikit saja aku lupa dan sombong. Lalu waktuku habis, kiamat sudah hidupku. Kiamat yang bisa dirasakan semua orang. Termasuk diriku yang kecil ini.
***
"Besok hari kelulusan kita Daiy". Natalia tiba-tiba sudah duduk disampingku.
"Iyah, lalu kenapa?"
Aku menjawab singkat.
Aku menjawab singkat.
"Berarti setelah itu, kita sulit bertemu?" Natalia mulai mengacaukan perasaannya lagi sore ini.
"Perasaanmu terlalu berlebihan Nat! Sudah cukup sedih-sedihannya kemarin"
Natalia mengambil tisu ditas kecilnya, menghapus sedikit air matanya yang hampir jatuh.
Setiap sore ini aku selalu menghabiskan waktu menatap pohon-pohon lie di taman sekolah bersama Nata. Sedikit mengurangi kepenatanku dari keributan-keribuatan masa lalu disekolah.
"Pohon itu penuh ketegasan namun tetap cantik, sama sepertimu Daiy"
Bisik seseorang yang tidak asing dalam ingatanku. Bisikan itu cepat sekali menghilang. Aku langsung melihat kesemua arah taman dekat tempat kami istirahat. Mencari kemana perginya bisikan itu.
Sore ini terlalu banyak siswa yang lewat disekitar kami.
Mungkin karna sekolah sedang sibuk untuk acara kelulusan besok.
Mungkin karna sekolah sedang sibuk untuk acara kelulusan besok.
"Nata, siapa yang tadi lewat dibelakang kita?"
Kening Nata langsung berkerut mendengar pertanyaanku, orang yang berperasaan seperti dia memang sulit sekali diajak bicara to the point.
"Maksudmu hantu Daiy?" Tanyanya yang mulai ketakutan.
Aku tersenyum kecil meresponnya, sudahlah abaikan saja. Mungkin aku salah mendengar. Atau mungkin tidak tertuju untukku.
***
Tingkat Pertama
Art Internasional Tongzhou
Tingkat Pertama
Art Internasional Tongzhou
"Itu lukisanku, aku yang membuatnya" Aku mulai berteriak menarik semua perhatian di kelas.
Zen menatap tajam sama seperti tatapanku. Dia mulai mendorongku ke pojok kelas. Aku bisa saja membalasanya balik. Bahkan aku bisa melukainya dengan luka paling menyakitkan dalam waktu yang singkat ini.
"Apa yang kalian lakukan!!!" Teriak Nata yang tiba-tiba datang ke kelasku.
Psikis Nata lembutnya bukan main, sekali dia teriak. Berarti beberapa menit lagi dia akan segera masuk ruang kesehatan. Dan ini menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah yang ada.
Nata juga didorong sampai terjatuh oleh teman-teman Zen yang sama jahatnya. Aku harus bertindak cepat, sebelum Nata menjadi sasaran empuk mereka.
Air mata nata sudah jatuh deras sekali. Dia ketakutan bukan main. Aku langsung melepas dasi sekolahku, aku tarik tangan Zen, aku ikat tubuh dan tangannya dalam satu menit. Tubuh kecil anak manja seperti dia mudah sekali untuk dipermainkan seperti gangsing. Aku dorong dia, lalu sedikit aku kasih tamparan manis.
Seketika teman-teman Zen diam melihatku. Mungkin mereka takut. Karna selama ini aku terlihat makhluk paling pendiam dikelas.
Aku ambil dasi Nata, aku tarik mereka bertiga. Sebenarnya mereka terlalu manis untuk disakiti. Tapi anggaplah ini akhir permainan kelas lukis bersama anak-anak menyebalkan seperti mereka.
"Ini akhir semester kelas lukis ditahun pertama sekolah, jadi simpalah kenangan manis kita baik-baik"
Ancamku kepada mereka.
Ancamku kepada mereka.
***
Siapa yang senang karyanya diambil dan diakui begitu saja. Ini lomba nasional, dan dia dengan mudahnya menduplikat lukisanku dengan jabatan ayahnya itu.
Astaga, inikah dunia yang sebenarnya!. Batinku.
Bersambung...
Diposting oleh
Unknown
di
09.27
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
“Cukuplah kusimpan semua ceritaku yang dulu, tentangku, tentang apapun yang membuatku tiada berarti.”
Sabtu, 02 Juli 2016
Part II
Akhir-akhir ini langit biru cepat sekali berubah menjadi kelabu. Bukan masalah kalau hujan mau turun terus, selama apapun hujan turun. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Akan kubiarkan hujan menghapus semua kelemahanku, menutup bayanganganku, memperlihatkan betapa kuatnya aku berdiri sendiri disini. Lihatlah, aku masih hidup, masih bernafas, masih bisa mencium harumnya tanah yang basah. Masih bisa hidup.
“Bagaimana sekolah hari ini Daiyu ?” Tanya ibuku.
“Baik, baik sekali” Aku menjawabnya dengan senyuman paling manis yang aku miliki.
Aku mulai membersihkan kakinya yang semakin memerah. Lukanya terus bertambah. Sedikit saja aku salah membersihkan, air mata ibuku akan jatuh. Menahan betapa sakitnya kakinya sekarang. Kalau saja bisa diganti. Biarlah kakiku ini yang sakit, biarlah semua luka itu pindah untukku. Biarlah aku saja yang merasakannya.
“Oh, ya bagaimana sekolahmu hari ini Daiyu?” Tanya ibuku lagi.
“Baik, baik sekali bu”. Aku tersenyum, menjawabnya lagi sengan senyuman seperti tadi, bahkan lebih manis lagi.
Entah berapa kali ibu mengulang pertanyaanya dalam sejam. Aku akan menjawabnya dengan ekpressi yang sama. Aku akan tetap menjawabnya dengan baik, dengan senyuman yang paling manis. Aku tidak akan melukiskan kesedihan apapun untuknya. Untuk manusia paling terhormat yang aku cintai di dunia ini.
“Daiyu, bagaimana sekolahmu hari ini?”. Aku menatapnya lagi dengan hangat, mencium keningnya dan berbisik sedikit “Baik, baik sekali. Aku senang sekolah disana bu.” Lalu aku memeluknya dan mulai menahan sesak.
Tuhan, jangan ijinkan aku menangis didepanya. Tahan aku sampai akhir, aku mohon.
***
Congrats For Daiyu. From Tongzhou Bejing. Art Internasional Tongzhou.
Email itu baru masuk beberapa menit yang lalu. Natalia langsung menelfonku dan memintaku datang kerumahnya membawa berkas-berkas yang diperlukan. Aku malas sekali mengurusi akademi itu.
Aku benar-benar tidak bisa memilih ataupun menolak.
“Menangislah nata, terimakasih sudah menjadi sahabatku selama ini”
“Kamu serius akan pergi Daiy?”
“Aku tidak akan pergi, kalau ibuku yang memintanya”
“Tapi, beliau yang memintamu pergi, dan lihatlah perjuanganya bertahun-tahun ini untuk sekolahmu.
“Aku tidak pernah sanggup menolak permintaanya , Bagaimana mungkin aku akan pergi ke Akademi di luar negri itu! Sedangkan beliau sudah tidak bisa berjalan”.
“ Semakin lupa dengan banyak hal. Termasuk denganku. Dan kau tau! Kenapa kemarin aku hampir terlambat ke sekolah. Ibuku lupa kalau aku anaknya, beliau lupa namaku, wajahku, Senyumku…"
"Beliau menanyakan banyak hal dan terus diulang-ulang seperti biasanya. Kau tau Nata!, ini yang paling aku takutkan dari dulu”. Kini tangisku sudah pecah"
“Aku tidak pernah takut ketika tidak dianggap oleh teman-teman, aku tidak pernah takut dengan ejekan mereka, bahkan ancaman merekapun tidak pernah aku takuti sama sekali. Kau yang melihatnya selama ini, selama tiga tahun terakhir di sekolah itu”.
“Anggap dulu itu perjuanganmu,aku tau betapa sakitnya ketika lukisamu diduplikat oleh anak penjabat itu. Aku ingat ketika kau harus berurusan dengan polisi karna fitnah mereka.
Ah,sudahlah kau bukan lagi bayangan seperti anggapan mereka. Lihatlah sekarang siapa Daiyu, batu giok hitam terbaik ini. Berhasil terpilih dari ratusan delegasi di daratan paling luas di Asia Timur. ”.
The End tapi gantung... Hhaha
Bersambung tapi gak tau kapan lanjut lagi...Hahah
Gimana dengan Tokoh Daiyu Lau :D
Akankah Batu Giok Hitam ini berani memilih,,
Ditunggu komentarnya :)
Penulis : Umi Wijaya Lau/Blogspot
2 Juli 2016
25 Ramadhan Kareem
Diposting oleh
Unknown
di
10.06
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
“Cukuplah kusimpan semua ceritaku yang dulu, tentangku, tentang apapun yang membuatku tiada berarti.”
Part I
Bejjing, November 2008
Deretan pohon lie berdiri tegak melukis ketegasan daratan asia timur. Mensketsakan bayangan daun-daun pohon lie diatas air sungai. Ah, Cantik sekali memang pohon ini. Seperti lukisan bergerak walaupun sebatas bayangan.
Apakah diriku terlihat seperti itu selama ini, menjadi makhluk yang bergerak namun hanya dilihat sebagai bayangan. Dipandang sekilas lalu dilupakan, atau sekedar diingat tapi di abaikan. Arrggh, menyakitkan sekali. Andaikan perasaan ini bisa digambar di atas kertas, mungkin warna kesedihan sudah habis aku pakai sebagai pensil warnanya.
Tiga ratus enam puluh ribu detik dalam satu jam aku bernafas. Berubah menjadi tujuh ratus dua puluh menit dalam dua puluh empat jam, dan lihatlah aku masih bernafas.
Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun aku masih hidup. Dan lihat aku tetap bernafas.
Lalu menjadi tujuh ribu enam ratus enam puluh lima hari dalam dua puluh satu tahun. Lihatlah, lihat aku terus hidup dan bernafas.
Jadi apa alasannya aku harus begitu sedih hanya karna dianggap sebagai bayangan. Toh, diriku masih tetap hidup sampai sekarang ?
Haruskah aku hidup dengan nafas yang baru, dan menjadi seseorang yang baru. Lalu mengganti semua tentang diriku.
***
Art Internasional Senior High School
Berlari melawan hujan memang tidak ada habisnya, tetap saja akan basah. Sebesar apapun payung yang dipakai, tetap saja basah. Sebesar apaun jas hujan yang kau pakai, tetap saja basah. Jadi, tidak ada alasan untuk berhenti dan mencari tempat meneduh di pingiran ruko. Halte atau bawah fly over.
Lima menit saja aku mengurangi kecepatan berlari, gerbang sekolah tidak akan mau terbuka lagi. Gak perlu alasan apapun. Terlambat ya, tetap terlambat!
“Wait me Mr. Jack!”
Aku langsung berteriak melihat penjaga sekolah yang hampir menutup gerbang sekolah yang hitam mencekam itu.
Sekitar sepuluh meter lagi aku sampai ke sekolah. Mr Jack seperinya berpura-pura tidak mendengar. Padahal dia tau kalau masih ada siswi yang sedang berlari sambil berteriak memintanya untuk tidak menutup gerbang.
“Ini yang terakhir. Please!”
Apakah aku harus menangis di depan manusia agar dikasihani. Lagipula kalaupun aku menangis, tidak ada gunanya sama sekali. Karna, hujan akan menyamarkan tangisanku.
Tapi aku tidak dilahirkan untuk menjadi wanita selemah itu. Aku sudah berusaha untuk tidak terlambat. Pagi ini sudah banyak sekali kejadian yang tidak bisa aku jelaskan.
“Hari ini ada ujian, aku harus ikut kelas”.
Aku akan menjelaskan nanti, ini yang pertama dan terakhir aku terlamabat. Aku berusaha meyakinkannya.
***
Pilihan memang menuntut untuk dipilih. Entah untuk dipilih atau tidak dipilih. Lagi-lagi hari ini aku masih saja bertanya pada diri sendiri, aku harus memilih apa, melepas yang mana, memperjuangkan apa, dan seterusya.
“Daiyu bagaimana ujianmu tadi?” Tanya Natalia
Belum ada yang bisa aku mengerti tentang diriku sendiri, sampai detik ini.
Untuk mengerti diri sendiri saja sudah cukup sulit sendiri. Apalagi mengerti orang lain.
"Jadi apa yang harus aku pilih ?"
Tanyaku balik kepada Natasya
Bersambung...
2 Juli 2017
11.52 Pm
Penulis : Umi Wijaya Lau
***
"Allah Maha Tau apa yang hambanya lakukan"
Bejjing, November 2008
Deretan pohon lie berdiri tegak melukis ketegasan daratan asia timur. Mensketsakan bayangan daun-daun pohon lie diatas air sungai. Ah, Cantik sekali memang pohon ini. Seperti lukisan bergerak walaupun sebatas bayangan.
Apakah diriku terlihat seperti itu selama ini, menjadi makhluk yang bergerak namun hanya dilihat sebagai bayangan. Dipandang sekilas lalu dilupakan, atau sekedar diingat tapi di abaikan. Arrggh, menyakitkan sekali. Andaikan perasaan ini bisa digambar di atas kertas, mungkin warna kesedihan sudah habis aku pakai sebagai pensil warnanya.
Tiga ratus enam puluh ribu detik dalam satu jam aku bernafas. Berubah menjadi tujuh ratus dua puluh menit dalam dua puluh empat jam, dan lihatlah aku masih bernafas.
Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun aku masih hidup. Dan lihat aku tetap bernafas.
Lalu menjadi tujuh ribu enam ratus enam puluh lima hari dalam dua puluh satu tahun. Lihatlah, lihat aku terus hidup dan bernafas.
Jadi apa alasannya aku harus begitu sedih hanya karna dianggap sebagai bayangan. Toh, diriku masih tetap hidup sampai sekarang ?
Haruskah aku hidup dengan nafas yang baru, dan menjadi seseorang yang baru. Lalu mengganti semua tentang diriku.
***
Art Internasional Senior High School
Berlari melawan hujan memang tidak ada habisnya, tetap saja akan basah. Sebesar apapun payung yang dipakai, tetap saja basah. Sebesar apaun jas hujan yang kau pakai, tetap saja basah. Jadi, tidak ada alasan untuk berhenti dan mencari tempat meneduh di pingiran ruko. Halte atau bawah fly over.
Lima menit saja aku mengurangi kecepatan berlari, gerbang sekolah tidak akan mau terbuka lagi. Gak perlu alasan apapun. Terlambat ya, tetap terlambat!
“Wait me Mr. Jack!”
Aku langsung berteriak melihat penjaga sekolah yang hampir menutup gerbang sekolah yang hitam mencekam itu.
Sekitar sepuluh meter lagi aku sampai ke sekolah. Mr Jack seperinya berpura-pura tidak mendengar. Padahal dia tau kalau masih ada siswi yang sedang berlari sambil berteriak memintanya untuk tidak menutup gerbang.
“Ini yang terakhir. Please!”
Apakah aku harus menangis di depan manusia agar dikasihani. Lagipula kalaupun aku menangis, tidak ada gunanya sama sekali. Karna, hujan akan menyamarkan tangisanku.
Tapi aku tidak dilahirkan untuk menjadi wanita selemah itu. Aku sudah berusaha untuk tidak terlambat. Pagi ini sudah banyak sekali kejadian yang tidak bisa aku jelaskan.
“Hari ini ada ujian, aku harus ikut kelas”.
Aku akan menjelaskan nanti, ini yang pertama dan terakhir aku terlamabat. Aku berusaha meyakinkannya.
***
Pilihan memang menuntut untuk dipilih. Entah untuk dipilih atau tidak dipilih. Lagi-lagi hari ini aku masih saja bertanya pada diri sendiri, aku harus memilih apa, melepas yang mana, memperjuangkan apa, dan seterusya.
“Daiyu bagaimana ujianmu tadi?” Tanya Natalia
Belum ada yang bisa aku mengerti tentang diriku sendiri, sampai detik ini.
Untuk mengerti diri sendiri saja sudah cukup sulit sendiri. Apalagi mengerti orang lain.
"Jadi apa yang harus aku pilih ?"
Tanyaku balik kepada Natasya
Bersambung...
2 Juli 2017
11.52 Pm
Penulis : Umi Wijaya Lau
***
"Allah Maha Tau apa yang hambanya lakukan"
Diposting oleh
Unknown
di
09.54
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Azalia Lee ( Part IV / Terakhir )
Rabu, 02 Maret 2016
Dave
sudah berkali bolak-balik di depan ruang operasi. Wajahnya sangat gelisah. Dia
tidak bisa tenang sama sekali. Hatinya benar-benar sedang tidak karuan.
Semuanya menjadi satu. Antara merasa bersalah, kecewa, takut, dan perasaan yang
tidak bisa dia artikan sekarang. Perasaan yang selalu membuat dia menjadi khawatir terus
menerus dengan Az. Perasaan takut, takut Az tidak sadar dalam waktu yang lama
seperti di Hongkong dulu. Perasaan yang benar-benar mebuatnya menjadi lebih
banyak menangis, di dalam doa sepertiga malamnya.
“Sekarang
kamu yang benar-benar ceroboh! Sampai tidak membawa obatmu Az. Kau terus saja
membuatku khawatir. Benar-benar khawatir!”. Batin Dave sambil terus bolak balik
di depan ruang operasi.
Nisa
sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi setelah memakaikan jilbab Az tadi di
masjid kampus . Az tiba-tiba saja jatuh dalam pelukan Nisa. Membuat Nisa
menjadi sangat panik. Orang pertama yang harus dihubungi adalah Udanya. Dave
harus tau tentang ini semua.
Nisa
segera mengambil handphone di dalam tasnya. Lalu memanggil panggilan cepat yang
langsung sampai ke Uda Dave.
“Az,, Azaliaa tidak sadarkan diri Da, Cepat bawa
mobil ke masjid”. Suara Nisa sudah dipenuhi isak tangis dan kekhwatiran.
Dia
sudah tidak lagi memikirkan orang-orang yang melihatnya menangis dan berteriak
memanggil nama Azalia berkali-kali. Beberapa teman yang mengenalnya pun segera
menghampiri dan membantu sebisa mereka.
Mobil
Dave datang, Nisa langsung berlari memeluk Dave dan menangis. Tangan Dave
terlihat baru saja selesai diperban. Nisa ingin sekali bertanya, tapi dia tau Az
harus segera dibawa kerumah sakit. Beberapa
teman perempuan yang ada di masjid langsung membantu Nisa membawa Az kedalam
mobil.
Hampir
sampai parkiran mobil, Nisa terjatuh karna tidak memperhatikan jalan. Akibatnya
kepala Az hampir mengenai aspal jalan depan masjid. Dave langsung bergerak
cepat mengantikan Nisa. “Biar aku saja, ini sudah terlalu urgent. Tolong lihat
kaki Nisa”. Minta Dave kepada teman-teman Nisa yang tadi mengendong Az.
Dave
sudah tidak lagi mengingat tangannya yang memar dan di perban karna kecelakaan
tadi pagi. Kecelakaan karna meneriaki Az yang hampir tertabrak. Dia lagsung
membawa Az kedalam mobil. “Maafkan aku Rabb”.
Batin Dave setelah mengendong Az
kedalam mobil. Kaki Nisa terkilir sedikit, lalu meyakinkan kepada
teman-temannya kalau dia baik baik sja. Nisa langsung bangkit, melupakan juga
rasa sakit di kakinya. Dan segera memaksakan jalan mengejar Udanya.
“Aku
baik-baik saja, segera ke Rumah Sakit Da”. Pinta Nisa dengan isakan tangisnya
yang belum berhenti sejak tadi.
***
“Aku tau
semua mimpimu, aku tau semua tangisanmu Az".
Nisa sudah menceritakannya
kepadaku. Aku hanya ingin kau bisa hidup lebih tenang dengan jalan agama kita
yang memang menenangkan. Itu saja.” Dave masih berbicara pada dirinya sendiri,
sambil terus berdoa. Sesekali dia menatap ke pintu ruangan operasi. Berharap
dokter segera keluar dan memberikan kabar baik.
“Bagaimana
keadaan Azalia Dave?”
“Aku
berharap Az akan baik-baik saja”. Jawab Dave dan langsung mencium tangan umminya.
“Nisa masih menangis di masjid dari tadi Mi”. Ummi langsun mengelus kepala
Dave, dan mecium keningnya. Memberikan isyarat bahwa dirinya faham apa yang
terjadi lalu meminta Dave untuk duduk tenang dan terus berdoa.
***
Kali ini
langit senja menemaniku cukup lama. Bersama kumpulan buku-buku dan jurnal sudah
memenuhi meja belajarku. Setelah ini semua selesai, aku ingin merasakan senja
sendirian tanpa tumpukan apappun. Apalagi tumpukan buku.
“Assalamualaikum,
Az. Sudah minum obatmu?”. Nisa sudah datang lagi dengan bawaan rahasianya.
Dua
minggu yang lalu menjadi masa-masa kritis yang membuatku takut, membuat Nisa
tidak berhenti menanagis. Membuat Dave menjadi tidak karuan dan tidak pernah
tenang. Apalagi ummi, beliau benar-benar mengurus kami bertiga dalam satu
waktu. Aku benar-benar bersyukur masih bisa hidup. Masih bisa bernafas dan
melihat semua senyuman mereka kembali. Aku berjanji aku memperbaiki semua
kebodohanku selama ini.
“Walaikumsalam, sudah. Kamu bawa apa lagi Nis?”
Nisa lalu meletakan bingkisan itu di atas kasurku,
dia tersenyum dan menatapku serius sekali. “Kau mau mengajakku diskusi
apalagi”. Aku langsung menyidirnya. Setidaknya agar tatapap seriusnya berubah,
agar aku segera tau maksud tujuan pemberian bingkisannya.
“Kamu kapan sidang?” Nisa langsung mengganti topik
pembicaran.
“Tergantung, Abangmu Nis”. Jawabku singkat, lalu
memulai mengetik skirpsiku kembali.
” Kalau Dave bisa menerima kesimpulan
akhirku. Besok aku akan langsung daftar sidang”.
Nisa sudah selesai sidang sebelum aku pinsan di
masjid beberapa waktu yang lalu. Dua Minggu kemarin sebenarnya masa-masa
revisinya. Tapi, karna dia menangis terus dirumah sakit. Dan hampir 24 jam
menemaniku pasca operasi. Alhasil dia baru memulai revisinya lagi sekarang.
“Kamu harus tanggung jawab dengan tangisanku yang
berhari-hari itu”. Nisa sudah memulai lagi sikap anehnya sekarang.
“Apa yang harus aku lakukan”. Aku menjawab asal
sambil terus fokus mengetik.
“Menikahlah dengan Uda Dave Az, aku janji akan
terus bahagia setelah itu.”
Langit sepertinya belum runtuh, senja juga belum
berakhir. Seperti adzan magrib yang akan menjadi saksi permintaan Nisa barusan.
Tapi, apa telingaku yang salah pendengaran. Sepertinya aku salah merespon Nisa
barusan. Atau Nisa yang sedang merespon
berlebihan tawaranku.
Andai saja ada recorder aku akan rekam permintaan
aneh Nisa barusan. Aku akan berikan ke Dave pasti dia akan tertawa
terbahak-bahak. Bahagia melihat kelucuan adiknya.
Aku
menatap Nisa lama, berhenti mengetik. Aku harus meyakinkan apa yang dia katakan
barusan. Sepertinya jaringan otak Nisa sedang bermasalah akibat kebanyakan
menangis. Aku berharap ini sekedar candaan. Kalau memang keseriusan, aku belum
berfikir untuk kearah sana.
“Apa Nis ?” Tanyaku lagi meyakinkannya.
“Tadi kamu yang menawarkan harus melakukan apa untuk
mengganti tangisanku selama kau sakit. Dan, aku mau kamu menikah dengan Uda”
Nisa menjawabku serius sekali. Tidak terlihat dia sedang bercanda. Tapi apa
penyebabnya. Aku bahkan hampir sesak nafas lagi ketika dia menyampaikan
permintaanya lagi barusan. Sesak nafas ini bukan karna operasi paru-paru
stadium satu kemairn. Tapi ada hal-hal lain yang harus dave sendiri yang
menjelaskan kepadaku. Makhluk serius seperti dia tidak mungkin memainkan
perasaan untuk menjalin hubungan yang serius kan?
“Tidak semudah itu Nis”. Aku menjawabnya langsung
dengan penuh keyakinan. “Aku akan fokus dengan banyak hal, termasuk soal
ibadah-ibadah yang baru aku pelajari. Kamu berjanji untuk mengajariku loh
Nis!”. Aku mulai mengingatkannya lagi.
“Kalau kamu menikah sama Uda, dia akan mengajarimu
banyak hal soal ibadah Az”. Nisa mengarah ketopik pernikahan lagi.
Aku segera mengambil majalah fakultas yang baru saja
terbit. Dan memberikannya kepada Nisa. Sebenarnya Dave sudah masuk list
laki-laki popular di kampus. Sampai menjadi tranding topic terus menerus di salah
satu rubrik idola di tabloid ini. Menjadi harapan banyak orang diluar sana.
Termasuk harapan untuk dijadikan imam pilihan. Aku rasa Nisa suda lebih faham
soal itu.
“Dave itu hafidz, lah aku ? Karya tulisnya
baru saja diangkan ke media internasional. Sedangkan skripsiku aja belum
selesai. Aku mulai mengetik lagi sambil menyampaikan realitas yang ada.
Promosi
dokternya juga gak akan lama lagi, Kalau sidang tesisnya disegerakan dalam
tahun ini. “Aku tau semuanya Az. Makanya
aku maunya Uda sama kamu!”
”Gak
semudah itu, aku ngaji sama shalat aja masih belajar Nis.Gimana mau nikah?”.
Lagipula banyak pilihan lain yang lebih
tepat untuk Dave. Apalagi untuk dijadikin istri. Teman dakwahmu juga sepertinya
banyak yang menagumi Dave”.
Nisa
terlihat cemberut mendengar jawaban santaiku. Aku malas membahas soal ini.
Lagipula ini permintaan hanya karna kesalahan responku barusan. Bukan karna hal
lain. Jadi tidak terlalu serius.
Shalat
magrib yuk. Siapa tau setelah shalat aku mendapat hidayah untuk menerima
tawaranmu. Candaku menggoda Nisa.
***
Sejauh apapun kamu pergi,
kalau kamu jodohku. Kita akan bertemu lagi.
Barusan
Nisa menjelaskan tentang shalat tahajud, salah satu shalat sunnah yang membuat
malam menjadi menangis haru. Membuat langit berbisik rindu, dan tentunya
membuat cinta bersujud tanpa nafsu. Lagi-lagi bahasa cinta Nisa keluarkan lagi.
Tidak ada habisnya dia merajuk memintaku menermima lamaran Dave. Padahal,
Davenya saja tidak pernah bicara masalah aneh itu. Jangankan bahasan lamaran,
soal kesimpulan skripsi yang aku buat saja dia tidak respon. Apalagi untuk yang
lain.
“Awal
bulan aku sidang, jangan bahas soal cinta lagi Nis!”
Nisa
langsung mencubit pipiku. “Aku tidak membahas cinta, aku hanya membahas jodoh
Az”. Aku langsung mendengus sebal. Sama saja, mau cinta mau jodoh. Ujung
pembicaraannya adalah pernikahan. “Aku sudah memesan tiket ke Hongkong, besok
pagi aku berangkat”.
“APA ?”
Wajah ceria Nisa tiba-tiba langsung berubah menjadi wajah penuh
ketidakpercayaan.
“Sebelum sidang, aku perlu beberapa data penting dari
Hongkong”.
Nisa langsung cemberut kesal, mungkin dia marah karna aku tidak
cerita terlebih dahulu. Sebenarnya aku sengaja, biar bisa ke Hongkong sendiri.
Lagi pula dia harus menyiapkan acara pernikahannya. Kasian Ummi kalau harus
mengerjakannya tanpa sang calon pengantin.
“Minta
tolong Buya kirim data-data itu langsung dari Hongkong. Bisa kan?”
Nis, aku
gak lama kok. Setelah dapat, aku langsung balik dan membantu acara pernikahanmu.
Aku mencoba meyakinkannya. “Dari Hongkong, aku langsung ke Padang sama Buya”.
Aku tau Nisa sedang menunggu jawabanku untuk permintaanya. Permintaan untuk
menerima lamaran Dave. Jujur saja, aku sedang ingin fokus mengejar semua
keterlambatanku. Apalagi soal agama, belum lagi urusan pendidikanku. Sidang
sudah di depan mata.
Dave
sudah menyelesaikan tugasnya sebagai pengganti pembimbing skripsi kemarin.
Tepat ketika aku mendaftar sidang. “Terimakasih banyak untuk semuanya Dave”.
Sebatas ucapan terimakasih dan hadiah kecil yang bisa aku berikan untuknya. Dave
tidak menjawabku, dia tetap diam. Sekedar menjawab sama-sama saja sepertinya
dia terlihat sulit sekali. Tapi itu tidak masalah lahi. Aku tidak akan berfikir
dia kejam lagi sekarang. Dulu aku salah, sangat salah dan bodoh. Sampai-sampai
harus berfikir buruk untuk semua kebaikan Dave kepadaku.
“Sekali
lagi terimakasih. Assalamualaikum, ”.
Aku menunduk dan langsung pergi
meninggalkan Dave. Biarlah angin menundukan pandangan kami mulai sekarang.
Menundukan semua perasaanku yang sedang aku mulai tata secara perlahan. Aku
tidak akan membantah lagi sekarang. Tidak akan marah,terserah Dave mau menjawab
atau tidak.
“Walaikumsalam,
sama-sama Az. Jaga kesehatanmu”.
Aku
semakin percaya sekarang, selama ini yang dikatakan Nisa adalah benar. “Dave
sangat memperdulikanmu Az, dia yang paling khawatir, tidak peduli dia sakit,
atau terluka”. Jika semua mozaik dari awal aku rangkai, mungkin air mataku akan
habis hanya karna menangisi semua kebaikan tulusnya selama ini.
***
“Jangan
bilang kau ingin lari dari permintaanku Az”.
Selidik Nisa yang lengsung
membuyarkan lamunanku.
“Apa Uda tidak pernah membahas soal perasaanya
kepadamu?”. Aku langsung menyeringai mendengar pertanyaan anehnya lagi.
“Apa
kau mencintai Bang Fatah Nis?” mengalihkan topic lebih baik sepertiya.
“Az, kau
selalu mengalihkan pembicaraan!”. Aku tersenyum menatapnya, tatapan ini
sebenarnya sudah cukup membuat Nisa mengerti kalau aku tidak ingin membahas
soal Dave.
“Baiklah, kita akan ganti pembicaraan, walaupun satu tema”.
Aku
tergelitik mendengar jawabanya, satu tema. Benar juga. “Aku belum mencintai
Bang Fattah, tapi jujur aku mengagumi akhlaknya Az. Cintaku hanya untuk suamiku
nanti, setelah Bang Fattah melakukan ijab qobul dengan Buya. Dan dia menjadi
suamiku, baru aku mencintainya.
Keningku
langsung berkerut mendengar jawaban Nisa. “Bagaimana bisa kau tidak
mencintainya, tapi yakin menjadikan suami?” Tanyaku langsung tanpa ampun.
Realistis sedikitlah agar aku faham tentang ini.
Nisa langsung
tertawa mendengar pertanyaanku yang panjang itu. “Sepertinya kau sudah mulai
tertarik dengan pernikahan?”. Aku langsung membuang muka, mendengar responnya.
Ingat
perkataanku dulu, kalau perasaan punya hak untuk didengarkan. Kalau dia layak
untuk diterima, hatimu yang suci itu pasti akan menuntun untuk meniyakan. Tapi
kalau tidak layak, hatimu juga yang akan menolak. Setidaknya shalat tahajud
yang tadi kita bahas bisa menjadi salah satu sarana yang membantu hati untuk
mengiyakan atau menolak.
“Jadi sejauh
apapun kamu pergi, kalau Uda Dave jodohmu. Pasti akan ketemu lagi”. Hahhaahha
Akhir
penjelasan yang kurang menyenangkan. Lemparan guling sepertinya cukup membalas
kejailannya yang selalu membahas Dave dalam setiap pembahasan.
***
Hongkong, Victoria Harbour 2016
Bukankah
semua orang seharusnya percaya, bahwa bumi adalah makhluk yang memiliki hak
untuk didengarkan. Sama seperti hal yang lainnya, mereka memiliki hak yang sama
untuk didengarkan. “Termasuk perasaan, dia harus benar-benar didengarkan”.
Dengarkan hatimu, kalau dia layak diterima. Hatimu akan menutun. Kalau tidak ,pasti
akan langsung tetolak. Nisa, ternyata kata-kata ini sudah menjadi trending topik
dalam pikiranku sekarang. Pasti kalau kau tau, kau akan bahagia sekali
sekarang.
“Assalamualaikum,
Buya. Ini Az, Az masih dipelabuhan, setelah ke makam Ayah. Aku nanti langsung
ke kantor insyAllah”.
Kapal Feri yang aku tumpangi
sedikit terlambat dari jadwal keberangkatan. Menatap laut bukan jadi solusi
yang efektif untuk menghilangkan kecemasan ini. Trauma bukan main melewati laut
Hongkong. Melihat empat puluh pencakar langit. Dan mengingat symphony of the
light membuat aku sulit bernafas. Kebakaran kapal beberapa tahun lalu. Masih
terbayang jelas.
Setelah menelfon Buya barusan.
Kenangan tentang Ayah semakin menyeruak langsung kedalam pikiranku. Kecemasanku
sudah menjadi-jadi sekarang. Semaki dekat dengan pemakaman Ayah dan Amak.
Semakin parah rasa kecemasanku. Untuk mengambil keputusan berangkat ke Hongkong saja itu seperti
anatara hidup dan mati. Tapi ini memang prosesnya. Aku tidak akan kalah dengan
ketakutatan.
Jujur memang sesak sekali rasanya
Rabb. Jangan biarkan aku menangis di atas makam mereka. Aku melangkah perlahan
memasuki pemakaman besar chines di tanah Kowloon. Tasbih dan shalawat tidak
henti-hentinya aku ucapkan. Walaupun pengucapan tasbis dan shalawatku masih
buruk. Pengucapan hurufnya belum jelas. Aku berusaha ini tidak mengusik
kekhusyuanku untuk mendoakan Ayah dan Amak.
Assalamualaikum Ayah,
Amak. Az selau berharap makam ini menjadi taman-taman surga untuk Ayah dan
Amak. Maaf karna Az terlambat menyadari mimpi menyakitkan itu. Betapa bodohnya
Az, kalau Ayah sudah sangat rindu doa-doa dari Az. Az sudah shalat sekarang,
sama seperti Ayah. Tadi teman Ayah dipelabuhan bilang, kalau Ayah sudah shalat
dan sering menjadi imam shalat jum’at semenjak kembali ke Hongkong.
Terimakasih sudah
menjadi Ayah yang baik untuk Az. Untuk Amak, terimakasih sudah menjadi bidadri
yang paling sabar selama mengurusi Az dan Ayah. Az ingin sekali memangis dan
memeluk Ayah lagi. Meneluk Amak. Tapi Az sudah berjanji, tidak akan menangis
lagi.
Besok Az akan
langsng kembali ke Indonesia. Sebentar lagi Az akan sidang. Nisa akan menikah
dengan Bang Fattah. Sahabat baiknya Dave. Ummi Aisyah sehat dan sayang sekali
dengan Az. Ummi sangat senang menceritakan kisah Amak dan Ummi dulu waktu
belajar di pondok dan dikampus. Buya juga baik sama seperti Ayah.
“Nisa meminta Az untuk menerima lamaran Dave,
padahal Dave tidak mengatakan appaun. Lagi pula Az masih perlu belajar banyak.
Membedakan kasroh sama fathah saja Az masih sulit. Sedangkan Dave seorang
hafidz sejak Amak mengajak Az dulu kerumahnya pertama kali”.
Oh ya, Buya sudah
menunggu di kantor. Sesering mungkin Az akan datang ke Hongkong. Mengunjungi
makam ini. InsyAllah, Setidaknya doa Az akan selalu sampai. Az usahakan sampai hembusan nafas
terakhir yang Az milikki.
***
Konsulat Jendral RI Hongkong
127-129 Leighton
Road, 6-8 Keswick Street , Causeway Bay Hongkong
Kantor Buya
ternyata tidak banyak berubah. Semenjak kejadian itu, semuanya masih sama.
“Assalamualaikum, Azalia. Sehatkah kamu ?” Mata Buya langsung berkaca-kaca
melihat kedatanganku. Sepertinya beliau benar-benar terharu dengan semua
perubahan dalam diriku sekarang. “MasyAllah, ini gamismu ummi kah yang
memilihkannya ?”.
“Walaikumsalam
Buya, aku langsung mencium tangannya. Rindu sekali mencium tangan Buya. Bertemu
Buya dan berbicara banyak hal bersama Buya. “Iyah, semuanya Ummi dan Nisa yang
pilihkan”. Buya tersentum penuh arti mendengar jawabanku. Beliau langsung
mempersilahkan aku duduk di kursi yang sama. Kursi yang mengingatkan tentang
kebakaran kapal, meninggalnya Ayah dan Amak.
“Apa kabar Dave,
Az ?” Pertanyaan Buya langsung menabah kecemasanku yang belum hilang. Entah
kenapa atmosfer Hongkong menjadi menyeramkan seperti ini.
“Buya dengar, Dave
mau menikah”. Aku hanya tersenyum sedikit menjawab pertanyaan Buya. Semoga
hatiku tidak sakit kalau nanti Dave menikah dengan orang lain. Sepertinya, aku
mulai faham tentang perasanku sekarang. Ketika aku menjauh, baru aku faham.
Terlambat lagi. Batinku mendengus kesal.
“Dave meminta Buya untuk melamarkanmu
Az, ini lucu sekali bukan. Tapi ini serius Az”.
Deg, Ini Buya kan yang bicara,
Buya tidak mungkin bercanda seperti Nisa.
“Ummi barusan telfon,
Nissa dan Dave sudah di sampai Padang. Kamu tau Az, Dave itu yang paling
khawatir waktu kejadian di rumah sakit waktu kamu pinsan di kantor ini. Dave
juga yang meminta untuk memulangkan kalian bertiga ke Indonesia setelah itu.
Agar bisa saling menjaga dan mengawasi”.
Seakan-akan langit mau runtuh. Hatiku
bergetar buka main.
“Dave
belajar giat sekali selama ini, dia selalu bercerita agar bisa jadi asisten
pembimbing untuk skripsimu. Dan ternyata
Allah mengabulkannya. Alhamdulilah. Dan kau tau ? Tiap malam dia menelfon Buya
karna khawatir dengan semua yang terjadi kepadamu. Apalagi semenjak mimpi-mimpi
Ayahmu datang. Nisa tidak henti-hentinya menangis menceritakannya kepada kami
semua. Dave paling strees saat itu”.
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Selain menunduk dengan perasaan yang campur aduk.
Ada cerita yang sangat lucu dan ini
sangat penting untuk kamu dengarkan. Ini bisa menjadi bahan pertimbanganmu
untuk menjawab niat baik Dave. “Kamu ingat waktu kamu berumur empat belas tahun
?” Aku langsung mengangguk dan menatap serius pembicaraan Buya. Itu hari
pertamaku berumur empat belas tahun dan Amak mengajjakku kerumah Ummi dan Buya.
Dan pertama kali bertemu dengan Dave.
Ketika itu kamu mendengarkan hafalan Dave bukan ?. Aku
mengangguk sekali lagi. Aku ingat kejadian itu ketika Dave menegurku karna,
belum bisa mengaji.
Dave bercerita semangat sekali waktu Buya baru pulang dari
kantor. Dave bilang, kalau tadi ada perempuan chines anak dari sahabatnya ummi
yang mendengarkan hafalannya. Maniisss sekaliii, kalah semua jenis gula yang
ada di ranah padang. Aku langsung tertawa mendengar cerita Buya yang satu ini.
Dave bukan orang yang suka memuji selama di kampus. Buya tidak akang bohong.
Lagipula, aku mamng manis. Hehhee
“Tapi dia belum bisa
ngaji. Nanti kalau Dave sudah pintar dan menjadi hafidz seperti Buya. Azalia
akan Dave jadikan istri dan Dave ajarkan mengaji. Buya maukan nanti
melamarkannya untuk Dave. Dave tidak akan berani menyampaikannya sendiri”. Ayah
mengakhiri ceritanya sambil tertawa senang sekali. Aku juga ikut tertawa. Dulu
Dave lucu sekali. Kini perasaanku sudah berwarna-warni. Melukis pelangi,
mencari bukti, meyakinkan hati. Buyapun sudah menanti.
“Jadi kamu mau menerimanya Az?”.
“Aku senang mendengar cerita Buya, tapi itukan dulu. Sudah
lama sekali. Dave tidak pernah menyampaikannya langsung Buya. Az terlalu buruk
jika disandingnkan dngan Dave.” Aku berusaha menjawab setenang mungkin.
“Loh, dikampus kurang apalagi Az. Dia tidak pernah pacaran,
berusaha menjadi asisten pembimbing. Rela tanganya memar terserempet mobil
karna meneriakimu yang melamun di tengah jalan. Jilbab yang kamu pakaipun itu
pilhan Dave. Buya tau semuanya Az. Jika saja Dave punya Sembilan nyawa. Tujuh
nyawanya akan diberikan kepadamu, satunya untuk Ummi, dan satunya nyawa lagi
untuk Nisa. Itu permisalan pengorbanan Dave untukmu. Sekarang semuanya menjadi
keputusanmu.
Kami sebagai orangtua tidak akan memaksa. Permintaan kami
hanay melihat kalian bahagia. Walupun dulu amak dan ayahmu tidak pernah
membahas perjodohan kalian berdu. Tapi Buya yakin, Amakmu juga mengharapkan hal
yang sama.
Ini voice note dari Dave tadi pagi,
kamu harus dengar Az “Buya, kalau nanti Azalia mengiyakan niat baikku. Bisakah
besok akad pernikahan disamakan waktunya dengan akad Nisa dan Fattah. InsyAllah
mereka tidak menolak”.
***
Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Padang. 2016
Latar warna merah dan keemasan sudah mewarnai semua sudut ruagan.
Acara pernikahan Nisa dan Bang Fattah dilaksanakan sederhana di belakang rumah
Ummi dan Buya. Halaman rumah dikonsep menjadi tempat resepsi dan akad yang
langsung berhadapan dengan Danau maninjau. Pernak-pernik pernikahan adat padang
benar-benar ramai mempercantik suasana pernikahan barakah ini.
Aku dan Nisa berada di dalam kamar, aku harus menemani calon
pengantin shalihah ini. Setidaknya menjadi tempat luapan pelukan ketika nanti
semua orang bilang. “Sah”. “Kamu menolak lamaran Dave ya Az”.
“Hush, pengantin gak boleh banyak bicara. Nnati ijab qabulnya
gak kedengaran”. Nisa langsung mencubit pipiku. “Jendela kamarnya bisa dibuka, kita bisa melihat sedikit dari jendela”. Nisa
langsung berdiri, sedikit mengangkat gaun putih syar’inya dan membuka jendela
sedikit.
“Cepat ganti gaunmu Az!”. Nisa langsung menarik tanganku.
“Aku tau, Setelah Bang Fattah akad, Uda Dave juga akan ijab Qobul” Aku
tersenyum mendengar ucapan Nisa, dari mana dia tau aku menerima lamaran Dave.
Bukannya Buya janji mau rahasiakan. “Uda itu langsung meluk aku sama Ummi,
setelah Buya ngasih kabar dari Hongkong”.
“Aku pura-pura aja, biar kamu seneng”. Dasaaar Nisaa.. aku
langsung melemparinya dengan semua bantal pengantin yang ada di kamar.
“Kamarmu
juga sudah dihias, kamu gak mau liat?”. Aku diam dan memintanya fokus mendegarkan.
“Sah… Bagaimana para saksi ?”. Sah.. Sah.. Alhamdulilah.
Bang
Fattah resmi menjadi suami Nisa. Dan sudah layak untuk dicintai Nisa, karna
memang sudah menjadi suami. Sekarang giliran Dave, jika dia benar-benar menjadi
suamiku. Dia harus tanggung jawab dengan semua ibadahku yang masih buruk
seperti ini.
“Saya terima nikahnya Azalia Lee Bin Ahmad Alan Lee dengan mas
kawin tersebut tunai. Sah. Bagaimana saksi. Sah. Alhamdulilah. Aku dan Nisa
langsung bersujud syukur dan memeluk ummi. Menangis tiada henti.
Terimakasih Dave sudah
mengejar tanpa menggangu, mendoakan dalam diam. Melindungi dari jauh. Membantu
tanpa menuntut. Terimakasih Nisa sudah mejadi embun yang sejuk. Terimakasih
Ayah untuk pelajaran menjemput kesadaran. Terimakasih Amak sudah mengajarkan
memperkuat kesabaran. Termakasih Buya dan Ummi sudah mengajarakan kepedulian
dan kepekaan.
The Ende :)
-----------------------------------------------------------
Terimakasih banyak untuk para pembaca, semoga terkesan dengan tulisan yang masih banyak kekurangan ini. Ditunggu tulisan lainnya, bagi yang suka dengan tulisan ini ditunngu komentarnya di : #SalamRindu (Azalia Lee )
Blog : http://umiwijaya.blogspot.co.id/
Facebook : https://web.facebook.com/umi.w.lau
Instagram : https://www.instagram.com/umi_wijayalau/
Diposting oleh
Unknown
di
07.10
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)







